<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393</id><updated>2012-02-17T04:48:35.089+07:00</updated><category term='film'/><category term='foto'/><category term='tentang saya sendiri'/><category term='fiksi'/><category term='artikel'/><title type='text'>...</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>120</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8649745798675885975</id><published>2012-02-08T22:18:00.005+07:00</published><updated>2012-02-09T08:09:01.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Jangan Lupakan Rawagede</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Emak Wanti (92) di usia senjanya, hidup di sebuah rumah sangat sederhana bersama anak dan cucunya. Walau tubuhnya sudah renta, ingatannya masih prima. Peristiwa 64 tahun yang lalu masih terbayang jelas di kepalanya. Ketika itu, tepat tanggal 9 Desember 1947, ratusan lelaki, termasuk suaminya, dibariskan di tanah lapang di kampungnya Rawagede, Karawang, dan tanpa basa-basi, ratusan manusia itu dibantai secara membabi buta oleh pasukan Belanda. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Emak Wanti adalah salah satu dari ratusan korban Rawagede yang masih bertahan hidup. Dalam sisa hidupnya itu, Ia bersama yang lain, mengais sisa-sisa harapan, agar peristiwa yang memilukan itu tidak begitu saja dilupakan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa 64 tahun silam adalah peristiwa kelam yang belum benar2 tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia. Para korban yang masih bertahan hidup serta anak keturunannya, seperti dibiarkan merana, menanggung derita sejarah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa pembantaian massal yang dilakukan oleh tentara Belanda itu, terjadi karena kemarahan yang gelap mata. Pencarian terhadap Kapten Lukas Kustarjo, seorang Komandan Kompi I Batalion Siliwangi di Karawang, adalah penyebab utama kemarahan Belanda. Pemimpin kelompok gerilyawan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia itu, telah seringkali membuat Belanda kalang kabut. Tindak-tanduknya telah benar-benar membuat Belanda marah. Sehingga, ketika terdengar kabar bahwa Kapten Lukas beserta pasukannya bersembunyi di Rawagede, Belanda pun segera mengobrak-abrik kampung itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pencarian terhadap Kapten Lukas, Belanda yang tidak menemukan jejak Lukas di Rawagede, mengumbar kemarahannya. Korban tewas diperkirakan antara 150 hingga 431 orang, yang kebanyakan adalah laki-laki. Tak pelak banyak sekali perempuan-perempuan yang menjadi janda seketika, salah satunya adalah Emak Wanti. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rawagede dulu adalah sebuah kampung yang letaknya strategis. Ia berada di perlitasan kereta api Rengasdengklok-Karawang, dan ada sebuah stasiun di situ. Kini, lintasan kereta api itu sudah tidak lagi terpakai. Lintasan itu kini menjadi akses warga ke persawahan. Sisa-sisa jembatan kereta di Desa Kalangsuria, Rengasdengklok yang berbatasan dengan Rawagede, masih tampak dengan jelas. Besi bekas jembatan itu masih terlihat kokoh dan sering dipakai untuk lalu lintas warga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasanya sangat sulit jika kini kita ingin mencari kembali jejak-jejak peristiwa kelam serta perjuangan berdarah di Rawagede. Termasuk untuk mencari titik-titik dimana pembantaian massal itu terjadi, diantaranya Stasiun Kereta Api, Kali Rawagede, atau lapangan kuburan Cina. Saat ini, titik-titik sejarah itu seperti telah berdamai dengan masa, dan melebur hilang bersama waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun pada September 2011, titik-titik sejarah itu, seperti mulai bangun dari lelapnya. Ia digelitik oleh sebuah berita mengejutkan dari Den Haag. Pengadilan Sipil Den Haag, Belanda, memenangkan gugatan atas peristiwa Rawagede, 9 Desember 1947.  Bagi Janda-janda korban tragedi Rawagede, kemenangan ini adalah sebuah harapan baru. Seperti yang di ungkapkan Emak Wanti, &lt;i&gt;“Mana atuh duitna, tong lila-lila teuing nke urang kaburu maot, teu bisa ngarasakeunana”&lt;/i&gt; (Mana uangnya, jangan lama-lama nanti saya mati, tidak bisa merasakannya). Emak Wanti dan para janda Rawagede ini hanya berharap, kompensasi nyata dari Pemerintah Belanda. Sebuah kompensasi yang diharapkan dapat membeli sebuah rumah, agar mereka dapat tinggal di rumah yang lebih layak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harapan yang tidak muluk dari para janda Rawagede itu adalah bagian dari kotak-kotak ingatan sejarah bangsa. Kotak-kotak sejarah kelam perjuangan bangsa Indonesia yang adalah noktah penting serta tidak boleh terlupakan. Ia harus menjadi semacam monumen peringatan, bahwa kemerdekaan adalah hal yang begitu mahal, karena mesti ditebus dengan ratusan bahkan ribuan nyawa tak berdosa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam puisinya untuk menghormati peristiwa Rawagede yang berjudul Kerawang-Bekasi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kami cuma tulang-tulang berserakan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Tapi adalah kepunyaanmu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;atau tidak untuk apa-apa,&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata …..&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;…. Kenang, kenanglah kami&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Teruskan, teruskan jiwa kami …..&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa perjuangan merebut kemerdekaan adalah akumulasi harapan akan kehidupan yang lebih baik dari sebuah bangsa. Dan satu-satunya bayaran yang setimpal dari perjuangan itu, adalah penghargaan terhadap kenangan, penghargaan terhadap jiwa-jiwa yang telah berkorban. Penghargaan untuk tidak pernah Lupa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;teks oleh Lucia Dianawuri dan&lt;a href="http://www.siholsitanggang.com/profile.html"&gt; Sihol Sitanggang &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*tulisan ini adalah pengantar untuk 'photo story' karya &lt;a href="http://www.siholsitanggang.com/"&gt;Sihol Sitanggang.&lt;/a&gt; Foto-foto dapat dilihat di &lt;a href="http://www.journalbali.com/essay-photo/jangan-lupakan-rawagede.html" style="text-align: left; "&gt;http://www.journalbali.com/essay-photo/jangan-lupakan-rawagede.html&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8649745798675885975?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.journalbali.com/essay-photo/jangan-lupakan-rawagede.html' title='Jangan Lupakan Rawagede'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8649745798675885975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8649745798675885975&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8649745798675885975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8649745798675885975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2012/02/jangan-lupakan-rawagede.html' title='Jangan Lupakan Rawagede'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-9118781118528438618</id><published>2012-01-14T11:20:00.004+07:00</published><updated>2012-01-14T11:29:39.722+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Drive</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-B2d2ldz3bxQ/TxEDiuSFWjI/AAAAAAAAAv8/YEMe61j-XbA/s1600/drive.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 185px; height: 317px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-B2d2ldz3bxQ/TxEDiuSFWjI/AAAAAAAAAv8/YEMe61j-XbA/s400/drive.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697338898674702898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“and the real hero is the real human being”. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini adalah cuplikan lirik lagu Real Hero dari College feat. Electric Youth. Sebaris lirik ini paling nyantol di kepala saya dan seringkali saya dengungkan. Disamping karena aransemen musiknya sangat ramah dan menyenangkan di telinga , lirik lagu ini langsung membawa saya kepada scene sebuah film yang diperankan oleh Ryan Gosling. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Drive adalah film garapan sutradara Nicolas Winding Refn, yang dinobatkan menjadi sutradara terbaik dalam Festival Film Cannes ke 64. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini adalah salah satu film ‘low budget’ yang menarik serta tidak se’low’, budget-nya.  Selain skenario serta frame-frame visual yang sederhana namun menawan, para aktor yang terlibat dalam film ini (bagi saya) sungguh menarik untuk disimak. Diantaranya adalah Ryan Gosling, Carey Mulligan serta Albert Brooks. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ryan Gosling adalah sang “Driver”. Ia tidak bernama, juga tidak disebutkan masa lalunya. Carey Mulligan adalah Irene, seorang perempuan yang telah membuat “Driver” jadi begitu melankolis. Sedangkan Albert Brooks adalah Bernie Rose,  gangster kelas kakap dan pembunuh berdarah dingin yang membuat “Driver” jadi kalang kabut. Ketiga karakter ini memberi warna kuat pada film ini, sehingga Drive jadi begitu hidup dalam kesederhanaannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Driver” adalah manusia biasa yang menjadi pahlawan, tanpa ia inginkan untuk menjadi salah satunya. Ia hanya melakukan apa yang ia anggap perlu. “Driver” tidak suka bicara, wajahnya minim letupan ekspresi, ia hanya bicara secukupnya. Ia adalah manusia efektif. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pergolakan emosi serta konflik dalam film ini mulai mengalir saat “Driver” jatuh cinta pada Irene, tetangga, serta seorang ibu dari satu orang anak bernama Benicio. Lelaki tak bernama ini jadi begitu melankolis dan rela melakukan apapun demi Irene, bahkan membunuh. Salah satu frame yang membuat saya hampir terbangun dari duduk adalah saat “Driver” menghantam kepala seorang lelaki yang menguntit Irene, dengan sepatunya hingga kepala lelaki itu remuk redam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buat saya, adegan di Lift itu sedikit banyak memberi semacam gambaran kelam soal konflik di kepala serta batin “Driver”. Ada semacam tulisan kecil di bawah layar dan kepala saya sesudah adegan itu, “dia manusia tanpa kata, dan dia juga berbahaya”. Gambar kalanjengking di belakang jaket “Driver” yang melulu dikenakannya, juga seperti ingin menegaskan itu. (Kalanjengking atau Scorpio adalah salah satu tanda dalam Zodiak yang konon katanya memiliki sifat natural macam “Driver”.) Tidak banyak omong dan melampiaskan dendamnya dengan menyakitkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga film ini berjalan kemudian. Entah karena ada semacam tumpukan dendam masa lalu atau memang dorongan rasa cinta, “Driver” tanpa pikir panjang dan efektif, menghabisi satu persatu orang yang telah menyakiti para terkasihnya (kawan serta perempuan yang ia cintai).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti layaknya seorang pahlawan, ia tidak berharap apapun setelah menunaikan tugasnya. “Driver” yang tanpa nama itu dan terluka parah itu,  setelah menghabisi musuh besar (Albert Brooks) yang telah menyakti terkasihnya, pergi meninggalkan tempat itu, dan hanya meninggalkan pesan soal betapa ia bahagia sempat mencintai perempuan yang telah membuatnya memaklumi kemanusiaannya itu (Irene).  &lt;i&gt;Well ‘a real hero is just a real human’. &lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;photo source www.imdb.com &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-9118781118528438618?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/9118781118528438618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=9118781118528438618&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/9118781118528438618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/9118781118528438618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2012/01/drive.html' title='Drive'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-B2d2ldz3bxQ/TxEDiuSFWjI/AAAAAAAAAv8/YEMe61j-XbA/s72-c/drive.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-167585676220521998</id><published>2011-11-30T22:27:00.003+07:00</published><updated>2011-11-30T22:32:34.375+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Melancholia yang Melankolik</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PuoYLQvtAmI/TtZMKqQdivI/AAAAAAAAArI/XKV69Gti4K8/s1600/melancholia.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 317px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PuoYLQvtAmI/TtZMKqQdivI/AAAAAAAAArI/XKV69Gti4K8/s400/melancholia.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680811726000196338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya selalu terpaku jika melihat gambar-gambar dalam karya film Lars Von Trier. Di Anti Christ, saya seperti melihat karya lukis sureal yang bergerak dengan lambat. Sungguh perasaan saya bercampur aduk saat melihat film itu, galau, putus asa, sekaligus sangat pesimis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam film Melancholia, gambar-gambar sureal bak lukisan itu juga tampak di awal film. Namun, prasaaan yang muncul menjadi sedikit berbeda. Walau ada kegalauan saat melihat film tentang akhir dunia ini, saya merasa jadi sedikit optimis, karena walaupun dunia berakhir, jika saya bersama orang tercinta rasanya akan jadi lebih baik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melancholia yang diputar dalam premiere Festival Film Cannes ke-64 di Mei 2011 yang lalu, menjadi salah satu film yang banyak diperbincangkan. Selain karena sang sutradara Lars Von Trier sempat mengeluarkan lelucon soal Nazi yang dianggap tidak lucu, film ini secara visual, naskah serta akting para aktornya, mendapat banyak pujian serta kritik dari banyak kalangan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melancholia berpusar pada kisah dua kakak beradik, Justine dan Claire. Justine diperankan oleh Kirsten Dunst dan Claire oleh Charlotte Gainsbourg. Dalam film ini , Lars mencoba mengeksplorasi pergolakan mental dua kakak beradik ini saat bumi terancam akan ditabrak oleh sebuah planet biru bernama Melancholia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini dibagi menjadi dua bab. Bab pertama adalah ‘Justine’ dan yang kedua adalah ‘Claire’. Bab ‘Justine’ dibuka dengan kisah pernikahan antara Justine serta Michael (Alexander Skarsgard). Pernikahan bak negeri dongeng ditampilkan dalam frame-frame awal film ini. Wajah pengantin perempuan dan laki-laki yang tersenyum bahagia, venue pernikahan yang indah dan elegan serta pengantin pria, tampak begitu mencintai dan memuja Justine. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, film ini bergerak menjadi muram. Justine yang seharusnya menjadi orang paling bahagia dalam momen pernikahan itu, menarik diri pelan-pelan keluar dari perhelatan itu. Ia merasa teralienasi. Seperti ada rasa sepi ditengah keramaian. Pergolakan jiwa Justine yang semakin depresif, semakin kentara dan diperlihatkan oleh Lars dalam frame-frame selanjutnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tengah pesta pernikahannya, Justine melakukan hal-hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia bertengkar dengan bosnya yang amat manipulatif, Jack (diperankan oleh Stellan Skarsgaad). Dan Justine pun, seperti lepas dari kesadaran, bercinta dengan salah satu trainee dari kantornya, Tim (Brady Corbet). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam waktu satu malam itu, kehidupan Justine yang awalnya begitu sukses dan mapan, seperti runtuh seketika. Karirnya hancur, Michael yang sudah dinikahi pergi meninggalkannya, dan seluruh pesta berbudget fantastis yang dibiayai oleh Claire serta suaminya, John (Kiefer Sutherland)  berantakan. Justine pun makin depresi, apalagi saat pagi menjelang ketika seluruh pesta pernikahan sudah benar-benar usai, Ayahnya yang amat terkasih, Dexter (John Hurt) pergi meninggalkannya. Justine pun seperti kehilangan diri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian film itu berlanjut ke bab ‘Claire’. Dalam bab ini, Lars mulai menggali kehidupan personal Claire, dan akhirnya berangkat menuju klimaks dari film ini yaitu dinamika emosi manusia ketika dibenturkan dengan kenyataan bahwa sebentar lagi dunia akan benar-benar berakhir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Digambarkan betapa Claire yang adalah kakak ‘Justine’, begitu mengasihi adik perempuannya. Di saat Justine begitu rapuh karena termakan oleh kondisi kejiwaannya, Claire hadir. Dengan suka rela ia merawat Justine di rumahnya yang bagaikan puri itu. Di situ, Justine yang tadinya sama sekali tidak bisa merawat dirinya sendirinya, pelan-pelan mulai membaik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bab ini, Lars mulai menggambarkan soal Melancholia sebagai sumber kehancuran dunia. Satu titik seperti bintang bernama Antares yang pada pesta pernikahan sempat dilihat oleh Justine lalu kemudian menghilang adalah salah satu pertanda awal bencana akhir dunia itu. Titik bernama Antares itu menghilang karena tertutup oleh bayangan Melancholia. Sebuah planet biru yang selama ini berada di belakang matahari. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya, John, suami Claire yang  adalah seorang astronomer ternama, memperkirakan tubrukan antara Melancholia dan Bumi tidak akan terjadi. Melancholia hanya akan melewati bumi. Di situ sempat digambarkan, wajah Melancholia yang kebiruan, sempat menghilang di langit. Namun, pada satu titik, kiamat yang selama ini sepertinya hanya ada dalam ranah absurd manusia bumi, benar-benar akan terjadi. Melancholia memang benar-benar akan menabrak bumi, dan sudah dipastikan bumi dan segala isinya akan hancur. Termasuk, Justine, Claire, John dan Leo (Cameron Spurr) anak Claire dan John. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditengah detik-detik terakhir bumi akan mencapai kiamatnya. Claire tampak tidak bisa menahan diri. Ia semakin panik, dan sangat ketakutan apalagi ia merasa tidak akan bisa melindungi Leo. John pun akhirnya menyerah dan meminum racun, saat detik-detik terakhir kiamat akan terjadi. Tetapi tidak dengan Justine, ia malah tampak begitu pasrah, dan seperti mulai menikmati hari-hari terakhir bumi dan seluruh umat manusia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, saat bulatan biru di langit bernama Melancholia itu mulai begitu dekat, Justine bersama Leo, meyakinkan Claire untuk pergi ke tanah lapang di bukit. Bersama-sama, mereka mencoba bersiap diri menghadapi akhir dunia. Dilatari suara gerakan planet biru Melancholia yang keras menderu, Justine membangun semacam benteng perlindungan dari ranting kayu berbentuk piramida. Di dalam perlindungan piramida imajiner itu, mereka bertiga saling berpegangan tangan. Dan di tengah ketidakberdayaan, dan tangisan Claire yang menjadi, tubrukan itu pun terjadi dan dunia pun berakhir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melancholia secara keseluruhan mendapat respon positif dari berbagai kritikus film. Ia digambarkan sebagai semacam tragic comedy, tentang akhir dunia. Lewat visual-visualnya yang indah, sederhana serta di beberapa bagian begitu sureal, Lars seperti ingin mengajak penonton menjadi melankolis tentang ide kiamat. Tidak seperti film lainnya tentang akhir dunia yang banyak mengekspos kehancuran, darah, kumpulan manusia yang lari kalang kabut, atau tanah terbelah dan laut menggelora, Melancholia ingin mendalami subjek dari kiamat itu sendiri, yaitu manusia. Pergolakan batin, mental juga ketakutan-ketakutan wajar dari ide tentang sebuah akhir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jujur, setelah menonton film ini, saya jadi lebih berefleksi tentang hidup saya. Tentang menerima, dan tentang kesendirian. Jika ini dilihat lebih riil, mungkin Lars ingin berbicara tentang kematian, yang adalah sebuah akhir bagi setiap manusia. Betapa indahnya, jika sebelum mati, kita sudah berhasil melepaskan diri kita dari apapun yang membelenggu. Dan lebih indah lagi jika sebelum mati, kita dikelilingi oleh orang-orang terkasih. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk aktingnya yang brilian, Kirsten Dunst mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik dalam penutupan Festival Film Cannes ke-64 ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;photo source: &lt;a href="http://www.imdb.com/" style="text-align: left; "&gt;http://www.imdb.com&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-167585676220521998?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/167585676220521998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=167585676220521998&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/167585676220521998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/167585676220521998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/11/melancholia-yang-melankolik.html' title='Melancholia yang Melankolik'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PuoYLQvtAmI/TtZMKqQdivI/AAAAAAAAArI/XKV69Gti4K8/s72-c/melancholia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-261083474459998087</id><published>2011-11-30T17:30:00.002+07:00</published><updated>2011-11-30T19:31:13.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>sebuah jeda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin, kepergianku ke kota ini adalah sebuah jeda. Ataupun sebuah persinggahan. Karena aku tak pernah berani mengatakan dan me-reka masa depan bahwa ini adalah sebuah titik henti dari perjalanan. Tentu sudah banyak coretan konsep tentang masa depanku, saat ini pun ku sedang mencoret-coretnya dalam banyak lipatan waktu, tetapi aku menyerah pada apa yang akan terjadi kemudian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak harap juga angan yang kutumpuk dalam kepalaku soal keputusanku untuk pindah ke kota ini dan meninggalkan banyak hal di Jakarta. Tak mudah, meninggalkan itu semua. Dan hingga saat ini pun banyak pertanyaan dari banyak orang tentang mengapa ku pergi dan mengapa ku meninggalkan sesuatu yang pasti ( ini menurut mereka ) menuju ke sesuatu yang penuh tanda tanya. Lelah menjawabnya, tentu saja, bahkan mendengarnya pun aku sudah muak. Karena pertanyaan itu selalu kutanyakan pada diriku sendiri. Jadi, kalau ada yang bertanya aku hanya akan menjawab, “hanya mengikuti angin”. Dan pasti mereka diam karena aku langsung memberi tanda titik karena tak ingin lagi memberi kalimat penerang di situ. Hanya titik bukan koma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti setiap kayuhan di atas sepedaku. Ada jeda nafas juga jeda gerak yang membuat sepedaku melaju lancar di atas aspal-aspal kota yang sungguh romantis (buatku) ini. Mungkin saja ini sebuah jeda sebelum ku berlari ke tempat yang lain atau mungkin saja ini sebuah jeda dari sebuah kisah indah atau bisa saja tragis (kuharap tidak) yang akan kutulis di kota ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang jelas, sebuah jeda selalu menawarkan waktu untuk melihat, mendengar, atau sedikit menghisap asap-asap supaya ku bisa mengambil nafas untuk benar-benar memutuskan apakah aku akan berlari kembali atau cukup menulis tanda titik perhentian di sini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;*mengulang ingatan di Desember 2007&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-261083474459998087?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/261083474459998087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=261083474459998087&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/261083474459998087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/261083474459998087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/11/sebuah-jeda.html' title='sebuah jeda'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3186714644210883073</id><published>2011-11-26T22:23:00.004+07:00</published><updated>2011-11-26T22:46:09.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Tw Cen MT', sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Bercinta adalah sebuah kecanduan yang mampu membuat garis angan dari seorang perempuan tetap berada pada ke-Ada-annya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Tw Cen MT', sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Sebuah kecanduan yang mampu membuat seorang lelaki yang hidup dalam area abu-abu itu tidak hanya berorgasme dengan kata-kata tetapi juga kemudian berorgasme dengan dua pubis yang bergolak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Tw Cen MT', sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ulp-SbW9atk/TtEFWPnKLHI/AAAAAAAAApQ/C8-zN-IfEOc/s1600/truly%2B2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 158px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ulp-SbW9atk/TtEFWPnKLHI/AAAAAAAAApQ/C8-zN-IfEOc/s400/truly%2B2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679326484796943474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Tw Cen MT', sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Perempuan itu kemudian ingin berkata sekali lagi, bahwa bercinta itu merupakan sebuah kesakitan yang diakhiri dengan ekstase diri yang tak terdefinisi, orgasme kata-kata pun tak mampu menggambarkan ekstase itu, ia hanya cukup untuk dirasakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:10.0pt;font-family:&amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3186714644210883073?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3186714644210883073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3186714644210883073&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3186714644210883073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3186714644210883073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/11/bercinta-adalah-sebuah-kecanduan-yang.html' title=''/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ulp-SbW9atk/TtEFWPnKLHI/AAAAAAAAApQ/C8-zN-IfEOc/s72-c/truly%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3764384759714060009</id><published>2011-11-04T07:09:00.006+07:00</published><updated>2011-11-04T07:23:55.993+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PBqSdMsUN_Q/TrMvQjs4MMI/AAAAAAAAAnk/_BNEfyKsY-o/s1600/feet.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PBqSdMsUN_Q/TrMvQjs4MMI/AAAAAAAAAnk/_BNEfyKsY-o/s400/feet.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670928317297471682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Aku merindukan kekasihku. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ia adalah seorang lelaki yang membuatku selalu merindu setiap malam. Kekasihku adalah lelakiku, sahabatku dan berahiku. Aku mencintai kekasihku, ketika ia menatapku, memangilku 'Angan', dan ketika ia hanya menjadi diri 'Nya'. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Aku mencintai setiap inchi lekuk tubuhnya, bibirnya, matanya, sudut-sudut ketiaknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3764384759714060009?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3764384759714060009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3764384759714060009&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3764384759714060009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3764384759714060009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/11/blog-post.html' title=''/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PBqSdMsUN_Q/TrMvQjs4MMI/AAAAAAAAAnk/_BNEfyKsY-o/s72-c/feet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3871841684587736630</id><published>2011-10-16T23:39:00.004+07:00</published><updated>2011-10-17T05:52:25.287+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pelacuran: Antara Dibenci dan Dibutuhkan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Ini sebuah rezim yang selalu punya wacana untuk berkata tentang ini layak, itu tidak layak, ini bermoral atau itu tidak bermoral. Ini adalah sebuah rezim yang munafik. Foucault, seorang filsuf Prancis mengatakan, bahwa sejak lama dan sampai kini pun kita dibayangi oleh norma-norma zaman Victoria.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Ratu yang angkuh dan puritan itu selama ini melambangkan seksualitas kita berciri menahan diri, diam, munafik&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Seksualitas yang adalah bagian paling naluriah dari manusia telah dikurung dan diperangkap dalam sebuah wacana yang dianggap tabu dan berdosa.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Seks tidak lagi bisa dibicarakan secara bebas, walaupun dalam konteks yang reflek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Pada awal abad ke-17, konon, orang-orang masih bisa membicarakan seksualitas dengan bebas merdeka. Kita bisa menemukan kata-kata polos, pelanggaran norma yang terang-terangan, aurat yang dipertontontkan, anak-anak bugil yang lalu lalang tanpa rasa malu ataupun menimbulkan reaksi orang dewasa: tubuh-tubuh, pada waktu itu, tenggelam dalam keasyikan&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Tetapi ketika borjuasi zaman Victoria masuk, seksualitas mulai dipingit, masuk dalam ruang-ruang tidur yang dianggap privat dan hanya bisa dimasuki oleh pasangan-pasangan yang sah. Seksualitas dianggap sebagai penyakit. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas dan tidak dilakukan atau tidak dikatakan sesuai dengan garis-garis norma yang ditentukan oleh yang “punya kuasa”, akan mendapat sebutan sebagai suatu hal yang ‘bidaah’,&lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;berdosa, menyimpang, patogen, penyakit. Sehingga hal-hal yang “menyimpang” itu harus dihilangkan, atau jika dalam perjalanan menghilangkan penyakit itu, ia terus berteriak, mendobrak minta dikeluarkan, maka hal yang paling rasional dilakukan adalah melokalisir penyimpangan-penyimpangan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Pelacuran adalah salah satu hal yang telah menembus batas-batas rezim wacana jaman borjuasi Victoria itu. Pelacuran adalah tema yang menggelisahkan, sekaligus seperti gatal-gatal yang membuat orang ingin terus menggaruknya. Ia dibungkam, sekaligus dibutuhkan. Serta yang tidak bisa dipungkiri, pelacuran adalah fenomena yang mendunia, karena ia berangkat dari kebutuhan dasar manusia. Termasuk di Nusantara, ia telah menjadi semacam bagian dari sejarah manusia di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Wacana Seksualitas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="SQ" &gt;Seperti yang sudah disebutkan di awal tulisan ini, keterbukaan akan hadirnya instink-instink purba manusia dalam ruang publik, telah mencapai masa-masa kiamatnya pada jaman borjuasi Victoria. Saat itu seksualitas menjadi jumud. Orang tidak berani lagi bicara soal seks. Di masyarakat, sebagaimana di setiap rumah tangga, satu-satunya tempat yang dihalalkan bagi seksualitas adalah kamar orang tua&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Ada ukuran kebenaran bagi apapun. &lt;span&gt;Dalam hubungannya akan versi “kebenaran” tentang seksualitas Foucault menyebutnya sebagai “hipotesa represi”. Foucault mengatakan, bahwa seksualitas sedang direpresi (berdasar pada konsep kekuasaan yang bersifat produktif dan hadir di dalam wacana seputar seksualitas) dan tidak dilarang atau dibatasi oleh kekuasaan dari luar. &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Sayangnya kita sering membayangkan kekuasaan sebagai sebuah kekuatan yang berusaha (dan berhasil) merepresi kita, sehingga kita dapat menempatkan diri kita di luar kekuasaan tersebut. Kita memahami diri sebagai subjek yang otonom yang memiliki hasrat sendiri dan identitas sendiri. Kekuasaan membatasi kebebasan kita untuk memenuhi hasrat-hasrat kita dan untuk mengekspresikan identitas kita. Pemahaman diri sebagai subjek yang otonom tersebut menurut Foucault merupakan ilusi karena sesungguhnya tidak ada ruang otonom yang bebas dari kekuasaan&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO; mso-bidi-font-style:italic"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Sehingga karena kita tidak memiliki otonomitas itu kita percaya mentah-mentah akan adanya &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;ukuran norma, ukuran moral, yang dianggap berdosa dan tidak berdosa yang disebarkan oleh rezim yang berkuasa saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Yang berkuasa saat itu adalah kerajaan serta gereja yang memiliki kepentingan-kepentingan untuk mengatur umat, “mendisiplinkan” umat serta semacam “mencuci” otak umatnya saat itu agar bisa berpikir seperti yang mereka inginkan. Sehingga jika ada yang tidak berjalan pada norma-norma yang sudah ditentukan, ada hukuman yang akan diberikan secara moral maupun sosial.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan beberapa hal yang dianggap sebagai penyimpangan dan dianggap melawan hukum kepatutan masyarakat akan dikenakan hukuman fisik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Foucault mengatakan &lt;span&gt;bahwa kekuasaan tidak hanya berada dalam genggaman seseorang atau pihak tertentu, tetapi kekuasaan menyebar pada relasi-relasi yang saling berhubungan satu sama lain. Masyarakat yang bisa berbentuk pemerintah, institusi serta khalayak banyak, adalah bentuk dari kesatuan kompleks akan relasi kekuasaan yang hadir pada setiap level dari tubuh sosial&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO; mso-bidi-font-style:italic"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dalam konteks ini kekuasaan menyebar di dalam masyarakat secara umum melalui stereotipe mereka akan pelacur yang terbentuk melalui wacana seksual.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Pelacuran yang telah menjadi bagian dari sejarah manusia di dunia&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO; mso-bidi-font-style:italic"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan tidak hanya di Indonesia, telah menjadi hal yang menggelisahkan bagi banyak penguasa. Walau bila ditelusur dari sejarahnya, Raja-raja Mataram-lah yang salah satunya menjadi pelaku sejarah dalam&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;mempraktekan hal-hal yang bisa disamakan dengan pelacuran, misalnya dengan memiliki banyak selir (yang tidak bisa dipastikan apakah para perempuan selir ini dengan rela dikawini oleh si Raja atau bagaimana perlakuan si Raja kepada para selir ini).&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Kegelisahan ini terjadi karena praktek-praktek pelacuran adalah salah satu pendobrak rezim wacana seksualitas ala Victoria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Menurut Foucault,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;kemunafikan masyarakat borjuis kita dilandasi oleh logikanya yang pincang. Kendati begitu, kemunafikan terpaksa menerima beberapa kompromi. Jika berbagai seksualitas menyimpang itu memang tak terelakkan, biarlah gaduhnya terjadi di tempat lain: misalnya di tempat penyimpangan itu dapat diterima, kalaupun bukan di sektor produktif, paling tidak di sektor yang membawa untung. Rumah pelacuran dan rumah sakit jiwa adalah tempat yang mentolerir seksualitas menyimpang: pelacur, langganan dan mucikari, psikiater dan pasien perempuan yang histeris. Di situ sajalah seks liar memiliki bentuk-bentuknya yang nyata namun dalam lingkungan yang sangat tertutup, dan boleh memiliki tipe-tipe wacana rahasia, terbatas, baku. Sementara itu, di tempat lain puritanisme modern mungkin telah memberlakukan trisabdanya: pantangan, ketiadaan, dan kebungkaman&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO; mso-bidi-font-style:italic"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Pelacuran jadi dianggap hal yang menyimpang yang patut diberi kompromi, karena ia tidak bisa ditekan untuk dihilangkan. Terbukti dari perjalanan sejarah yang membentuknya. Pada setiap fase dan periode, selalu ada bibit-bibit dari sesuatu hal yang dianggap penyakit ini. Selalu ada resistensi di situ.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Tidak ada kebebasan yang dapat berlari dari relasi kekuasaan, tetapi yang justru hadir adalah resistensi dimana ada praktek-praktek kekuasaan di situ. Resistensi ini ada dimana-mana, pada setiap level dari atas ke bawah, seperti yang dicontohkan oleh Foucault tentang seorang anak yang mengorek hidungnya di meja makan dalam rangka mengganggu orang tuanya&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO; mso-bidi-font-style:italic"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Resistensi itu hadir dari para pekerja seks yang menggantungkan hidupnya pada bisnis itu, para mucikari, tukang ojek yang berada di seputaran lokalisasi yang digunakan jasanya untuk mengantar si PSK ataupun pelanggan, para pemilik warung rokok, warung makan atau warung kelontong yang berada di seputaran lokalisasi yang diuntungkan dari bisnis itu. Semua elemen ini saling jalin-menjalin dan membentuk sebuah relasi yang bersama-sama melakukan resistensi terhadap kekuasaan yang hendak menggusur mereka. Tetapi lagi-lagi seperti sudah dikatakan oleh Foucault di atas, logika penguasa yang pincang itulah yang tidak benar-benar membuat mereka ingin menggusur lokalisasi. Secara tidak langsung ada segelintir penguasa yang diuntungkan. Oknum-oknum pihak keamanan yang mendapat dana pungli dari para pelaku bisnis ini, para pebisnis yang mungkin saja memberikan semacam “jamuan” kepada para pejabat agar deal-deal bisnisnya diluluskan, serta mungkin saja, para penguasa yang tidak tahan untuk menyalurkan instink-instink purbanya kepada seorang perempuan pelacur yang lebih menarik dan menantang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Perkembangan ekonomi dan gaya hidup juga telah menunjang pertumbuhan pelacuran sebagai bagian dari keseluruhan perangkat ekonomi dan politik. Pertumbuhan pariwisata dan perdagangan misalnya, menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak hotel yang dibangun dlam dua dasawarsa terakhir ini. Beberapa di antara hotel apalagi yang kelas menengah ke bawah, kemudian hidup dari pelacuran. Di beberapa tempat, pelacuran memberikan sumbangan bagi pemasukan daerah yang cukup tinggi, terutama daerah perkotaan yang berkembang menjadi sebuah lingkup budaya modern, dengan gaya hidup yang kaitannya erat dengan perempuan&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO; mso-bidi-font-style:italic"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;[9]&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sekali lagi, pelacuran adalah sebuah bisnis. Bisnis yang dibenci sekaligus dibutuhkan. Ia dibenci karena ada bentuk represi pada seksualitas serta pembentukan wacana seksualitas yang masih berporos pada rezim borjuis Victoria. Dan ia dibutuhkan, karena ia menguntungkan banyak kantong.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SQ" &gt;Dominasi Laki-Laki&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sepertinya ada sebuah ketimpangan di sini, karena yang melulu dibicarakan adalah pelacur perempuan. Padahal jika bicara tentang pelacuran, kita akan bicara tentang relasi antara perempuan dan laki-laki. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Dalam sejarah pelacuran di Indonesia, yang menjadi subjek utamanya adalah pelacur perempuan, melulu perempuan. Perempuan yang menjadi korban, yang dijual, yang dijadikan selir, dan akhirnya yang distigma buruk. Begitu pula dalam sejarah pelacuran dunia. Yang mendapatkan klasifikasi adalah para perempuan. Tidak ada klasifikasi untuk para laki-laki pelanggannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Dalam masyarakat kita yang patriarki&lt;/span&gt;&lt;span&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;, relasi laki-laki dan perempuan berlangsung dan berpusat dalam kontrol laki-laki sehingga kontrol terhadap seksualitas dan pelacuran perempuan membentuk dua sisi keping mata uang yang sama, yaitu dominasi laki-laki. Foucault menuding bahwa seksualitas merupakan hubungan kuasa yang dihasilkan melalui interaksi yang kompleks dari diskursus plural (discursive practices) dan praktik kelembagaan dari aparatus seksualitas sampai abad ke-20. Analisis Foucault tentang kuasa sebagai proses yang menghasilkan bentuk-bentuk tertentu seksualitas dan penanaman kuasa pada tubuh perempuan telah memberikan perspektif baru bagi kaum feminis bahwa seksualitas dan hubungan seksual disusun secara sosial. Salah satunya, menghasilkan pelacuran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Para feminis sendiri memiliki berbagai analisis mengenai pelacuran ini. Sebagian menentang pandangan pelacur sebagai profesi memuaskan nafsu orang lain dari seks yang berbeda, karena mereka menganggap perempuan dieksploitasi dalam hubungan tersebut dan pelacur tersebut tidak memiliki kesempatan untuk memilih langganan mereka. Sebagian memandang bahwa pelacuran berhubungan dengan posisi perempuan dalam masyarakat patriarkal dan kapitalis. Mereka berpendapat bahwa pelacuran merupakan akibat buruk dari sistem patriarkal. Namun sebagian lagi berpendapat bahwa pelacuran harus didekriminalisasi karena merupakan hak perempuan untuk memilih bekerja sebagai pelacur dan adalah kebebasan manusia dewasa untuk melakukan hubungan seksual sementara untuk uang tanpa adanya komitmen lebih lanjut&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;[10]&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Berbagai perdebatan itu pun masih berlangsung hingga saat ini. Termasuk akar masalah dari timbulnya fenomena pelacuran ini. Walaupun akhirnya harus diakui bahwa, fenomena ini adalah sesuatu yang sulit (atau bahkan tidak mungkin) dihilangkan. Ia yang adalah bagian dari instink paling purba manusia itu akan berteriak dan akan terus melakukan resistensi jika direpresi oleh kekuasaan yang saling berelasi dalam masyarakat. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sungguh sebuah perjalanan yang melelahkan jika membicarakan masalah yang menggelisahkan ini sampai tuntas. Ini adalah soal yang tidak mudah, karena penuh dengan kompleksitas masalah dengan sisi-sisi kemanusiaan yang begitu kuat melingkupinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Tetapi mungkin bisa jadi penutup yang baik jika saya sedikit memberikan fakta bahwa terhitung setiap bulannya, antara 2,7 – 4,3 juta laki-laki mengunjungi pelacur, yang berarti antara 5-8% lelaki dewasa Indonesia&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Kemudian pada sebuah survei terhadap 1063 laki-laki di Jakarta, Surabaya dan Manado, ada peningkatan dalam jumlah laki-laki yang melaporkan pernah berhubungan seks dengan seorang pelacur, dan 49,5% pada tahun 1996 menjadi 70% pada tahun 2000. Sedikit di bawah 50% responden mengaku berhubungan seks dengan seorang pelacur dalam 12 bulan terakhir, dengan rata-rata kontrak komersial sebanyak 10 kali&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size:12.0pt;mso-ascii-font-family: Calibri;mso-fareast-font-family:Batang;mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;mso-fareast-language:KO;mso-bidi-language:LAO"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dari data-data itu, tampak jelas bahwa laki-laki-lah yang menjadi penikmat utama dalam bisnis ini. Tetapi mengapa jarang sekali mereka distigmakan oleh masyarakat, tidak pernah ada razia khusus untuk para lelaki hidung belang ini, dan tidak pernah ada pusat rehabilitasi untuk para laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Tentu ini adalah tanggung jawab dari sebuah rezim. Rezim yang membentuk wacana soal seksualitas, sebuah rezim yang berkuasa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Foucault, Seks dan Kekuasaan, 1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; Ibidem, 1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; Foucault, Seks dan Seksualitas, 2&lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Dari artikel Katrin Bandel, Seksualitas dalam Sastra Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Clare O’Farrel, Michel Foucault, 99, Sage Publication, 2005.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; Dalam novel Paulo Coelho berjudul Eleven Minutes, sekilas disebutkan mengenai sejarah pelacuran yang telah muncul dalam teks-teks klasik, dalam huruf &lt;i&gt;hieroglyphs&lt;/i&gt; di Mesir, tulisan-tulisan Sumeria, serta di dalan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi profesi itu baru mulai terorganisasi sejak abad 6 sebelum Masehi, saat pemimpin Yunani, Solon, membuat sebuah rumah pelacuran yang diatur oleh negara dan mulai mengambil pajak dari situ. Para pelaku bisnis dari Athena tentu amat menikmati hal itu, karena yang sebelumnya dilarang telah menjadi legal. Akibatnya, para pekerja seks yang ada di situ, mulai diklasifikasikan tergantung dari banyaknya pajak yang diberikan. Yang paling murah disebut &lt;i&gt;pornai&lt;/i&gt;, yang adalah seorang budak. Dan di atasnya adalah &lt;i&gt;peripatetica, &lt;/i&gt;yang mendapatkan klien mereka di jalanan. Serta yang paling mahal dan berkelas adalah &lt;i&gt;hetaera, &lt;/i&gt;seorang perempuan yang menemani para pebisnis dalam perjalanan mereka, makan di restoran mahal dan mengontrol keuangan mereka sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Foucault, Seks dan Kekuasaan, 3. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; Clare O’Farrel, Michel Foucault, 99, Sage Publication, 2005.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span lang="SQ" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SQ"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;Valentina, Pelacur vs His First Lady, 40. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; Koentjoro:1999 dalam Pelacur vs His First Lady. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Hull&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Sejarah Pelacuran di Indonesia, 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7570393&amp;amp;postID=3871841684587736630&amp;amp;from=pencil#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" &gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SQ" style="font-size: 10pt; "&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Valentina, R. Pelacur vs His First Lady, 73-74. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3871841684587736630?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3871841684587736630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3871841684587736630&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3871841684587736630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3871841684587736630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/10/pelacuran-antara-dibenci-dan-dibutuhkan.html' title='Pelacuran: Antara Dibenci dan Dibutuhkan'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-320575866858603584</id><published>2011-09-29T12:15:00.002+07:00</published><updated>2011-09-29T12:24:21.644+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengartikulasikan Perempuan di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semenjak saya kecil, Ibu selalu memberi peringatan berlebihan kepada saya, ketika saya hendak bepergian ke rumah teman atau hanya bersepeda keliling kampung. “Hati-hati di jalan, kamu kan perempuan. Jaga sikapmu di rumah orang, apalagi kalau ada lelaki. Lalu kalau pakai rok, jangan biarkan rokmu tersingkap tinggi, nanti bisa-bisa lelaki tergoda,” ucap Ibu, yang biasanya mengatakan itu sambil beraktifitas di dapur saat saya hendak bersiap-siap untuk pergi dan berdiri di ambang pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka entah mengapa, selama perjalanan keluar dari rumah hingga tiba di rumah teman, ucapan Ibu seperti terngiang-ngiang di kepala saya Dan sepertinya secara tidak sadar, ketika di rumah teman yang kebetulan memiliki saudara laki-laki, juga ada beberapa kerabat lelakinya, saya benar-benar menjaga sikap dan selalu memperhatikan rok yang saya kenakan serta berusaha untuk menutupi bagian lutut ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saya beranjak dewasa, kalimat-kalimat seperti itu terkadang juga masih diucapkan oleh Ibu. Kalimat-kalimat yang tidak persis sama, tetapi semangatnya sama, “sebagai perempuan, saya harus ekstra hati-hati dibandingkan laki-laki, dan lebih menjaga perilaku saya dibandingkan laki-laki”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca artikel milik Sylvia Tiwon yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Models and Maniacs: Articulating the Female in Indonesia&lt;/span&gt;, saya seperti diingatkan kembali akan pengalaman-pengalaman saya ketika kecil, hidup di rumah bersama orang tua saya yang berasal dari lingkungan Jawa. Saya pun, entah mau tidak mau atau sadar tidak sadar, yang kebetulan lahir dari rahim perempuan Jawa, mendapatkan didikan kental ala kultur Jawa, serta mendapatkan pandangan tentang keperempuanan saya pertama kali dari lingkungan itu. Saya menjadi agen yang pasif dan menerima berbagai artikulasi tentang keperempuanan saya serta bagaimana seharusnya seorang perempuan bersikap kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Kartini, seorang putri dari garis bangsawan Jawa di Rembang, yang merasa “terperangkap” dalam ke-Jawaannya. Kartini yang kemudian menjadi salah satu ikon pahlawan emansipasi perempuan di Indonesia, mencoba mengartikulasikan perasaan-perasaan keterperangkapannya itu dalam sebuah korespodensi dengan seorang kawan perempuan Belanda. Kartini berkorespodensi karena ia merasa harus menjaga kewarasannya, sebuah upaya pengartikulasian yang aktif berasal dari dirinya soal pikiran, dan perasaannya. Walau amat personal, tetapi paling tidak ada seorang lain yang bukan dirinya, turut mengapresiasi upaya pengartikulasian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pengartikulasian itu, Kartini lakukan dengan memilih seorang kawan berkorespodensi yang ia anggap sepadan dan berada di luar hirarki ke-Jawaannya. Dengan berbagai kualitas kawan korespodensi itu, Kartini merasa menemukan “pembebasannya” sendiri. Paling tidak sesudah lewat masa pubertasnya, saat ia harus mulai dipingit, dipisahkan dari lingkungan sosialnya, pelan-pelan dicabut dari keluarga dan mulai diperkenalkan mengenai konsep perempuan “utuh” yaitu bersuami dan menjadi ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa pingitan itu, Kartini diingatkan terus-menerus bahwa ia bukan milik dirinya sendiri, bahwa ia akan menjadi milik seorang laki-laki dan bahwa ia akan menjadi seorang ibu dari anak-anak yang mungkin kelak tidak akan terlalu mengingatnya. Kartini amat menyadari hal itu. Bahwa, semua yang sudah terus menerus diingatkan kepadanya adalah sebuah keniscayaan. Bahwa itu semua harus ia jalani, walau dalam hatinya memberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan-pemberontakan di kepala yang ia tuangkan dalam surat-surat kepada kawan jauhnya itu, secara jelas Kartini sadari bahwa semua adalah hanya sebatas teriakannya saja dan tak mungkin membebaskannya benar-benar. Dalam artikelnya Sylvia Tiwon mengutip ucapan Kartini itu,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I may not utter my opinion on those important subject, least of all through the medium of the press...What I have written so far for the public was simply nonsense, impressions of one other event. I may not touch serious objects, alas!...Father does not approve (of the idea) that then names of the daughters should be on all tongues; when I am completely independent (only then) may I speak my opinion”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;Selain pada akhirnya, Kartini berakhir tragis, dengan meninggal karena sakit di usia amat muda, sekitar 25 tahun, surat-surat yang merupakan salah satu upaya untuk mengartikulasi diri itu, akhirnya diartikulasikan kembali kepada publik oleh orang lain. Surat-surat yang berbahasa Belanda itu, banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dengan pengertian berbeda dari yang dimaksudkan oleh Kartini. Kartini seperti 'difiksikan' oleh orang lain, terutama pihak yang berkuasa, untuk menciptakan seorang tokoh perempuan yang membawa perempuan ke gerbang emansipasi, tetapi sekaligus masih tetap bisa “diikat” dalam sebuah model perempuan yang dapat “dirumahkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Ibu Kartini adalah salah satu bentuknya. Ibu yang pada akhirnya memiliki nuansa rasa akan pengasuhan, pengorbanan diri, dan lebih mengutamakan keberadaan dirinya untuk orang lain dibandingkan untuk dirinya sendiri, telah menjadi citra Kartini secara luas. Sementara itu, teriakan-teriakannya, terutama akan kebebasan dalam belajar dan menuntut ilmu, jarang benar-benar diperdengarkan dan diulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling saya ingat setiap tanggal 21 April, yang ditetapkan oleh pemerintah orde baru sebagai Hari Kartini, ketika SD dulu, saya dan kawan-kawan satu kelas wajib memakai kebaya dan berdandan ala perempuan dewasa. Hingga kini, saya masih tidak mengerti apa maksud dari kewajiban memakai kebaya itu. Mungkin saja, ada keinginan dari pemerintah untuk mengingatkan terus-menerus bahwa menjadi perempuan itu adalah harusnya seperti Ibu Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pengartikulasian kembali oleh pihak yang berkuasa, tetapi konteksnya kemudian bukan menjadi pahlawan, malahan dijadikan semacam tokoh antagonis yang tidak patut ditiru adalah Gerwani. Sebuah organisasi perempuan yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bukti visum tidak menunjukkan adanya penyiksaan, ataupun pemotongan alat kelamin para Jenderal dalam peristiwa 30 September 1965. Sejarah tetap mencatat para Gerwani telah melakukan berbagai penyiksaan kepada para Jenderal itu. Melalui berbagai propaganda dari pemerintah, lewat pers serta film, yang sempat diputar setiap tahun ketika tanggal 30 September, citra para Gerwani ini diartikulasikan kembali kepada publik. Mereka dicitrakan menjadi semacam “maniak” atau penyakit, yang basis gerakannya bukan pemberdaayan perempuan, tetapi berbagai tindakan asusila, amoral dan subversif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, saat masa-masa orde baru masih berjaya, ketika saya masih hijau, dan menelan mentah-mentah semua propaganda yang disuntik pelan-pelan dan terus-menerus, saya sempat percaya benar-benar bahwa Gerwani sebegitu menakutkannya. Dan saya yakin hingga saat ini, saat masa reformasi bergulir, dan film yang diputar tiap tahun itu sudah dihentikan, citra Gerwani belum sepenuhnya pulih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya pemulihan citra yang dilakukan oleh banyak orang yang simpati terhadap Gerwani atau dari para mantan Gerwarni sendiri, hingga saat ini tidak sepenuhnya dapat diartikulasikan. Berbagai pelarangan terhadap buku-buku yang dianggap mengganggu stabilitas negara, hingga saat ini masih terus berjalan. Terutama jika buku atau tulisan itu berhubungan dengan organisasi yang dianggap terlarang itu.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, masalah pengartikulasian soal Gerwani ini berhubungan dengan kepentingan yang berkuasa akan citra perempuan yang diharapkan dan tidak diharapkan. Ketika perempuan berkelompok, menjadi aktif, mampu menyuarakan suara mereka sendiri, bertingkah laku berani dan tidak takut, maka mungkin saja, ini akan menjadi semacam ancaman besar bagi hal yang sudah dianggap mapan. Patriarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara reflektif, dalam konteksnya sekarang, sepertinya tidak banyak perempuan di Indonesia yang bisa benar-benar mengartikulasikan dirinya secara aktif. Perempuan-perempuan dari kalangan marginal terutama yang mau tidak mau secara pasrah menerima berbagai artikulasi soal perempuan, seperti kodrat perempuan, nasib, jodoh, ibu rumah tangga ataupun perempuan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak saja perempuan-perempuan dari kalangan marginal yang sulit bersuara (karena keterbatasan akan berbagai kapital yang ia miliki), perempuan juga laki-laki, sudah harus pasrah menerima berbagai konstruk yang tertanam seperti dosa asal itu. Dan bagi saya, untuk bisa benar-benar secara aktif mengartikulasikan diri sendiri, bahwa saya adalah seperti ini dan bukan seperti itu, adalah sebuah proses yang terus menerus dan berkelanjutan, seperti yang hingga kini masih terus saya lakukan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bahan bacaan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sylvia Tiwon, “Models and Maniacs: Articulating the Female in Indonesia”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-320575866858603584?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/320575866858603584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=320575866858603584&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/320575866858603584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/320575866858603584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/09/mengartikulasikan-perempuan-di.html' title='Mengartikulasikan Perempuan di Indonesia'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-2666265404824827756</id><published>2011-09-18T18:20:00.002+07:00</published><updated>2011-09-20T10:56:51.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>Nafas Terakhir Iin dan Simbah Wasikem</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya ingat ketika kelas satu SD saya punya seorang kawan bernama Indah. Kami cukup memanggilnnya Iin saja. Iin adalah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar lima rumah dari tempat tinggal saya, serta salah satu kawan bermain saya yang cukup dekat. Kami, saya, Iin dan beberapa kawan-kawan perempuan lainnya yang kira-kira berusia belum genap 8 tahun itu seringkali bermain masak-masakan yang bahan utamanya daun mangkok-mangkokan serta segenggam benalu yang berbentuk mie-mie-an. Bumbu penyedapnya cukup taburan tanah serta sedikit pasir yang bisa ditemukan dengan mudah di halaman belakang rumah Iin. Kami sering lupa waktu karena permainan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ketika saya dan empat orang kawan permainan saya hendak bermain masak-masakan lagi dan berjanji untuk bertemu di rumah Iin, ada sesuatu yang tidak biasa terjadi di sekitar rumah Iin. Orang-orang ramai berkumpul dan tampak berdesakan masuk ke rumah itu. Saya, serta empat orang kawan perempuan saya pun turut tumbuh rasa penasarannya dan ikut mencoba masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah itu, tepat di ruang tengahnya, saya melihat sesosok tubuh perempuan kecil, berkulit putih sedang tersengal-sengal dan tergoncang-goncang tubuhnya. Mata saya makin terbelalak dan posisi berdiri saya pun makin mendekati sosok tubuh perempuan kecil yang sedang dikelilingi oleh orang-orang yang saya kenali sebagai ibu, ayah serta entah seorang lain yang berpakaian putih, sarung kotak-kotak serta peci hitam di kepalanya yang sepertinya merapal mantra atau mungkin doa. Entah mengapa saat itu, rasanya jantung saya berdetak makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempat saya berdiri, yang hanya berjarak satu orang dari tempat perempuan kecil itu, saya bisa dengan jelas melihat, bahwa perempuan kecil berkulit putih itu adalah Iin kawan bermain saya yang kemarin sudah berjanji akan bermain masak-masakan. Matanya seperti membelalak, dan nafasnya tersengal-sengal. Ibu Iin tampak menangis tersedu dan ayahnya serta lelaki berbaju putih dan orang-orang lainnya di kiri kanan tampak komat-kamit merapal doa dalam bahasa Arab. Saya masih ingat, bahwa saat itu suasana begitu tegang, dan tidak sampai sepuluh menit, Iin yang tersengal-sengal, pada menit ketujuh seperti tercekat, matanya membelalak lebih lebar dan sesudah itu, matanya menutup dan sengalannya nafasnya terhenti. Pada saat itu juga, tangis meledak di mana-mana, Ibu Iin tampak histeris dan memeluk Iin kuat-kuat sambil berteriak-teriak memanggil namannya. Dan rapalan doa makin kuat dimana-mana “La Illah Ailoloh......” berulang-ulang kali. Saya benar-benar bingung dengan apa yang terjadi, dan salah seorang kawan kecil saya berbisik bahwa “Iin mati, Iin mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bisikan kawan saya itu, saya dan kawan-kawan kecil serta sejumlah orang-orang lainnya digiring keluar. Kawan saya berbisik lagi bahwa “Iin mati mendadak, salah minum obat.” Kalimat itu terus membuat saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin Iin bisa mati secepat itu, padahal baru kemarin kami membuat nasi goreng dari kerikil lembut di samping rumahnya. Bagaimana mungkin ia bisa salah minum obat, memang obat apa yang ia minum. Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus terngiang-ngiang di kepala saya sampai proses pemakaman Iin selesai. Sungguh saya tidak mengerti apa-apa saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak menangis, hanya perasaan kehilangan kawan bermain masak-masakan lah yang paling saya ingat saat itu. Dan yang tidak bisa saya lupakan hingga sekarang adalah, nafas Iin yang tersengal-sengal lalu seperti ada yang menariknya, serta matanya yang membelalak dan kedamaian yang tiba-tiba muncul di wajah Iin saat nafasnya tidak lagi tersengal-sengal dan matanya tidak lagi membelalak. Apa namanya dan apa yang membuat Iin jadi seperti itu, adalah sebuah misteri besar bagi saya hingga saya mengalami hal itu kembali saat simbah putri meninggal ketika saya berumur sepuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya paling kuat dengan mbah Wasikem adalah saat saya sering memijit-mijit kulit-kulit bergelambirnya di sekitar tangan, saat ia minta dicabuti ubannya. Rutinitas itu seringkali saya lakukan, saat saya, yang tinggal di ibukota bersama orang tua saya yang notabene adalah anak dari simbah Wasikem, mengunjungi simbah putri tercinta itu. Tetapi itu tidak terjadi lagi saat saya mulai memasuki usia 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian saya dan keluarga dari ibukota ke Wonosari bukan untuk sebuah kunjungan rindu kampung halaman atau mudik bersama. Saya bersama Ibu, Bapak dan kakak pergi ke rumah Simbah Wasikem karena sudah hampir tiga bulan, simbah terbaring sakit dan sepertinya sangat parah. Selama kurang lebih sebulan, saya dan ibu menemani simbah yang sudah tidak bisa lagi bangkit dari tidurnya. Simbah yang saat itu sudah berumur lebih dari 80 tahun, terlihat sangat lemah dan pucat. Hampir setiap hari ia meminta paklik, yang kebetulan diakon gereja, mengajari doa Salam Maria. Simbah sering mengatakan “Aku arep nderek Ibu Maria”.  Selama hidupnya, simbah memang tidak pernah menganut agama KTP. Ia selalu menjalani berbagai kebijaksanaan Jawa yang sudah ia pelajari semenjak kecil dari kedua kakek dan nenek buyut saya. Tetapi mungkin karena di hari-hari terakhirnya, simbah sering dikelilingi dan didoakan oleh anak-anaknya, terutama anaknya yang ketiga serta yang paling bungsu, yang melulu berdoa Rosario dan Novena, simbah sepertinya merasa jatuh cinta dengan figur Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Simbah Wasikem pun dibabtis. Setelah dibabtis, pada hari hampir sebulan dari kunjungan saya menjenguk Mbah Wasikem, tiba-tiba semua orang di rumah itu berkerumun di sekitar kamar simbah. Saya pun menelusup masuk ke kamar simbah dan melihat simbah Wasikem sedang tersengal-sengal. Ada Paklik di situ, Ibu, Bapak serta sejumlah Bude, Bulik dan Pakde yang mengitari simbah. Ibu tampak terlihat tegang sambil membawa Rosario, sementara simbah matanya membelalak, dan nafasnya makin tersengal-sengal. Saya pun jadi turut tegang karenanya. Banyak yang hadir di situ, meneteskan air mata, Ibu salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tidak berapa lama dari ketika saya datang menyelinap itu, pada satu titik, mata simbah makin membelalak lebar, dan sengalan nafasnya yang begitu terburu-buru itu berhenti. Ledakan tangis pun membuncah, Paklik lalu membuat tanda salib di udara kepada tubuh simbah yang kaku. “simbah mpun seda” ucap Ibu yang melihat saya berdiri terbengong-bengong. Sesudah itu, tubuh simbah tampak ditutupi kain batik, dan rapalan doa terdengar mengalun dimana-mana di sekitar kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Ibu mengatakan, apa yang terjadi pada simbah saat nafasnya tersengal-sengal adalah saat sakaratul maut. Saat dimana, sang malaikat kematian sedang berada di samping si manusia yang sedang ingin diambil nyawanya. Sama seperti yang terjadi pada Iin. Entah hal itu benar atau tidak. Tetapi, perasaan yang hampir sama, bisa saya rasakan pada dua kejadian yang waktunya berbeda belasan tahun yang lalu. Dua peristiwa itu juga masih sangat kuat menempel di ingatan saya. Sungguh saya tidak bisa melupakan saat-saat dimana Iin, kawan bermain saya, serta simbah Wasikem, ibu dari ibu saya, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mungkin karena saya melihat saat-saat dimana ia membelalak dan tersengal-sengal sehingga, saya merasa hadir saat malaikat maut menarik nyawa dua orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga dewasa ini, saya belum pernah lagi menyaksikan dua kejadian yang menjadi saat-saat terakhir bagi kehidupan seseorang itu. Seperti ada kengerian, sekaligus kedamaian luar biasa setelah nafas benar-benar tidak lagi ada di dalam tubuh. Saya sendiri pun tidak pernah merasakan secara langsung bagaimana rasanya mati itu, tetapi bisa saja perasaan yang muncul sama seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang hadir di sekitar yang menghembuskan nafas terakhir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin saja berbeda, karena saat Iin tersengal-sengal dan ia melepaskan nafas terakhirnya, yang saya ingat, hanya melihat matanya yang membelalak dan bibirnya yang mulai memucat, seperti aliran darah mulai berhenti di tubuhnya. Dan ketika simbah Wasikem menghembuskan nafasnya yang terakhir, saya hanya melihat dadanya yang naik turun, dan suara sengalan nafasnya yang begitu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-2666265404824827756?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/2666265404824827756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=2666265404824827756&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2666265404824827756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2666265404824827756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/09/nafas-terakhir-iin-dan-simbah-wasikem.html' title='Nafas Terakhir Iin dan Simbah Wasikem'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-6143381253016177264</id><published>2011-08-28T12:52:00.002+07:00</published><updated>2011-08-29T08:28:59.455+07:00</updated><title type='text'>menanti opor ayam</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Lebaran adalah sebuah tradisi yang selalu penuh  euforia buat saya. Apalagi ketika malam takbiran menjelang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada  perasaan bercampur aduk ketika saya mendengar suara takbir bertalu talu  dari masjid dekat rumah atau dari takbir keliling yang diusung oleh  orang-orang yang ingin merayakan sebuah keriaan yang datang setahun  sekali.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebuah perasaan, tenang, syahdu juga gembira karena semua  juga bergembira. Walau secara personal saya tidak merayakan tradisi itu,  seringkali saya begitu terhanyut dan menantikan momen itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Momen  yang penuh kegembiraan, momen berkumpul dengan orang orang terkasih,  sekaligus momen untuk berkompromi dengan masyarakat, komunitas atau  dengan ke-Umum-an. Semua berusaha melupakan egonya dan melupakan  eksistensinya sendiri untuk memenuhi tanggung jawab sosial. Keliling  kampung ke para tetangga, ke rumah saudara dan kerabat, sampai pulang ke  rumah orang tua, melaksanakan tradisi mudik baik dengan bis, kereta,  pesawat &lt;em&gt;(kalau kepepet atau memang sungguh beruntung)&lt;/em&gt; dan kalau  mau irit naik motor dengan tubuh bertumpuk-tumpuk, hanya untuk sekedar  bersalaman, mengucapkan maaf &lt;em&gt;(yang merupakan kompromi terhadap  anomali)&lt;/em&gt;, memberi rezeki sambil sedikit menjadi eksebisionis akan  sukses diri atau hanya sekedar melepas rindu. Sebuah tradisi yang rutin  dan selalu dinanti.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kalau saya pribadi sih, opor ayam,  ketupat dan sambel ati lah yang selalu dnanti nanti, apalagi kalau  saudara dan kerabat menghantarnya dalam rantang bertumpuk yang rasanya  luar biasa nikmat...mmmm.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi buat yang merayakan, selamat menghitung detik-detik kemenangan,  Selamat Lebaran, selamat makan ketupat, dan tentu saja saya tunggu  kirimannya. :D&lt;/p&gt;&lt;p&gt;salam&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-6143381253016177264?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/6143381253016177264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=6143381253016177264&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6143381253016177264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6143381253016177264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/08/menanti-opor-ayam.html' title='menanti opor ayam'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7490947116822449948</id><published>2011-08-27T16:33:00.004+07:00</published><updated>2011-08-27T16:57:52.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Budaya Pop, Iklan dan Perempuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jaman ini adalah sebuah masa dimana budaya pop menjadi sebuah keniscayaan yang sulit dihindari. Ketika kita bangun pagi, keluar dari rumah untuk beraktifitas, saat dalam perjalanan dengan kendaraan pribadi, umum atau hanya dengan berjalan kaki, hingga sampai di tempat beraktifitas, melaksanakan aktifitas, selesai melaksanakan aktifitas, lalu kembali pulang ke rumah, dalam perjalanan pulang, beristirahat di ruang tamu, ruang keluarga atau ruang makan, sampai akhirnya kembali lagi ke tempat peraduan, budaya pop sepertinya seperti hantu yang tidak kenal waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ini sebenernya masih sering berada dalam ranah perdebatan. Andi Zeisler dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Feminism and Pop Culture&lt;/span&gt; mengatakan bahwa pendefinisian istilah ini tergantung siapa yang mendefinisikan serta agenda apa yang ia miliki. Dalam arti secara umum, budaya pop dapat didefinisikan sebagai berbagai produk budaya yang memiliki khalayak penonton massif. Misalnya lagu-lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Top 40&lt;/span&gt; yang sering diperdengarkan di radio, televisi atau sering diunduh di internet, hingga berbagai film seri, sinetron sampai dengan Agnes Monica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditilik dari asal muasalnya, budaya pop terbentuk dari sebuah istilah lain yaitu budaya bawah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;low culture&lt;/span&gt;). Istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;low culture&lt;/span&gt; ini adalah sebuah oposisi biner dari istilah budaya tinggi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;high culture&lt;/span&gt;). Jika dikongkritkan, budaya bawah itu seperti pertunjukan musik jalanan di sepanjang Jalan Malioboro, dan oposisi binernya yaitu budaya tingginya, pertunjukan musik orkestra pada gedung pertunjukan di Taman Budaya. Istilah-istilah ini pun memiliki stereotipe yang menempel, misalnya pada budaya bawah stereotipe yang ditempelkan adalah ‘kacangan’, tidak elegan atau tidak pintar, dan sebaliknya untuk budaya tinggi, stereotipe yang menempel adalah elegan, penuh dengan nilai-nilai tinggi, serta cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, ketika kapitalisme dan industri mulai berkembang, budaya yang (katanya) berasal dari arus bawah ini mulai dikomodifikasi karena begitu banyak hal yang menguntungkan yang bisa ditarik dari arus ini. Massa butuh hiburan yang sederhana, tidak terlalu membuat dahi berkerut serta murah dan mudah diakses. Berbagai hiburan yang ringan itu kemudian mulai disebarluaskan melalui berbagai media yang ditempelkan hampir di seluruh ruang kehidupan manusia. Manusia pada masa ini pun, dengan mudahnya, hanya dengan satu tekanan ibu jari dapat memunculkan berbagai pernak-pernik budaya ini, hinnga secara pelan-pelan berhasil masuk dalam ranah ketidaksadaran dan akhirnya mulai dianggap sebagai satu kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pernak-pernik budaya pop yang dapat dengan efektif mengkonstruki kebenaran adalah iklan. Sadar atau tidak sadar, kita yang notabene adalah penikmat budaya pop telah “dijual” kepada pemilik modal oleh budaya pop ini. Dengan ratusan iklan yang hadir setiap menit bahkan detik dalam kehidupan kita, kita pun dibidik menjadi semacam sasaran empuk untuk dirayu agar mengenal, tertarik, dan akhirnya membeli produk itu. Bahkan tidak cukup hanya membeli, jika sudah memiliki produk itu, maka yang diharapkan akan muncul adalah sebuah ketergantungan, kecanduan dan akhirnya sebuah permakluman bahwa produk itu adalah sebuah kebutuhan yang mau tidak mau harus dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan adalah semacam teknik persuasi yang sejatinya harus lihai dalam mengecoh masyarakat. Hal tersebut berujung pangkal pada logika bahwa proses produksi pada jaman ini, tidak lagi diarahkan untuk menghasilkan nilai guna, melainkan konsumsi, dan konsumsi adalah tujuan akhir dari produksi. Setelah barang diubah menjadi komoditi, komoditi tersebut segera diiklankan agar menjadi impian setiap orang. Setelah itu ada tahap yang disebut apropiasi, ketika barang sudah sampai pada tangan konsumen serta masuk ke dunia orang yang bersangkutan. Dalam proses ini lah manipulasi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindarkan.Yang tidak bisa dielakkan adalah, bahwa sudah menjadi semacam hal yang faktual bahwa iklan telah menjadikan perempuan semacam sasaran empuk, baik itu pada media iklannya (misalnya menggunakan sosok perempuan seksi) atau kepada audiensnya (misalnya para penikmat sinetron yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga). Sehingga tidak bisa dihindari, banyak manipulasi yang dilakukan dalam iklan, menggunakan sosok perempuan cantik dan seksi, dan ternyata hingga saat ini, hal-hal itu masih dianggap mujarab untuk menjaring konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan perempuan saya (yang menurut saya tidak kekurangan satu apapun dari wajah, tubuh atau kulitnya) selalu merasa ada yang kurang dengan dirinya. Berbagai usaha yang menurutnya untuk memperbaiki tubuh fisiknya ia lakukan. Mulai dari pergi ke salon-salon kecantikan hingga mengkonsumi obat-obatan. Kawan saya itu selalu merasa belum putih ataupun belum langsing, intinya ia merasa tidak cantik. Suatu kali saya pernah bertanya kepadanya, mengapa ia mesti repot membuat uang beratus-ratus ribu hingga mungkin jutaan untuk memperbaiki tubuh yang semestinya tidak usah diperbaiki lagi. Ia lalu mengatakan, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah gak kok, aku gak repot, aku senang melakukan hal ini, soalnya aku pingin seperti Dian Sastro dalam iklan Lux itu loh. Dian itu kan cantik banget ya, putih, langsing dan rambutnya lurus hitam”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya bersih dari pengaruh iklan dengan mengilustrasikan pengalaman kawan perempuan saya itu, tetapi menurut saya perkataan kawan perempuan saya itu tampaknya amat cocok menggambarkan bahwa begitu dahsyatnya pengaruh iklan hingga kawan perempuan saya dan mungkin banyak perempuan lainnya, memiliki konsep soal cantik, soal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;body image&lt;/span&gt; dari sudut pandang di luar dirinya sendiri. Sebuah sudut pandang yang dikonstruksi tidak hanya oleh pihak pengiklan, tetapi oleh sebuah sistem yang lebih besar, yaitu sebuah budaya yang berpusat pada laki-laki atau kelaki-lakian, patriarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya yang telah menghegemoni ini, seringkali menjadi semacam acuan bagi pemilik modal untuk menciptakan iklan yang menggunakan kode-kode kultural (promosional) yang secara tidak langsung bisa merendahkan kemanusiaan perempuan. Bahwa kemudian, iklan yang menggunakan perempuan sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan, sejauh tidak melanggar kadiah-kaidah yang sudah disepakati oleh palaku industri dan masyarakat. Tetapi yang menjadi keprihatinan adalah ketika, sarana yang digunakan untuk menciptakan iklan yang dianggap menarik konsumen adalah hanya perempuan. Misalnya saja, sebuah iklan sabun pencuci piring yang menjadikan perempuan dengan ukuran payudara yang relatif besar serta seorang lelaki sebagai bintang iklannya, ketika ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frame&lt;/span&gt; adegan mencuci piring, si lelaki harus mengatakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“saya senang meremas-remas...”&lt;/span&gt; sambil sedikit melirik ke arah dada perempuan itu dan meggerakkan jari dengan gerakan meremas tepat di atas dadanya sendiri. Lalu kemudian si perempuan seperti bereaksi agak tercekat sebelum si lelaki melanjutkan kalimatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“...sponnya”&lt;/span&gt;. Setelah ada kalimat lanjutan itu, si perempuan seperti bernafas lega lalu tersenyum bersama si lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apa hubungannya sabun pencuci piring dengan gerakan meremas-remas? Yah, mungkin saja pihak pengiklan ingin menciptakan semacam wacana histeris, sehingga para khalayak penonton iklan mendapatkan semacam pembebasan imaji ketika mereka menyaksikan iklan itu. Dan tampaknya terbukti, bahwa wacana histeris itu cukup efektif (paling tidak) menarik perhatian dan akhirnya menggoda para penikmat iklan, seperti sejatinya sifat sebuah iklan yang harus seducing. Tetapi lagi-lagi, apakah hanya perempuan yang melulu menjadi semacam objek wacana histeris ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Male gaze&lt;/span&gt; atau “tatapan laki-laki” adalah yang sungguh tidak dapat dihindarkan dalam mengkreasi sebuah iklan dalam budaya pop. Bahkan istilah ini mungkin melulu muncul dalam banyak produk-produk budaya pop, seperti film, video klip juga sinetron. Secara sederhana, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;male gaze&lt;/span&gt; dapat dijelaskan sebagai sebuah konstruk dari sudut pandang laki-laki. Jadi ketika kita melihat iklan ataupun tayangan televisi, maka tidak bisa dinafikan bahwa sekalipun yang melihat itu seorang perempuan, ia pun masih melihat dari sudut pandang laki-laki. Andi Zeilser menulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“The surveyor of women in herself is male: the surveyed female. Thus she turns herself into an object-and most particularly an object of vision: a sight.” &lt;/span&gt;Perempuan pada akhirnya menjadi sebuah objek pasif yang mau tidak mau harus menelan berbagai konstruk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Male gaze&lt;/span&gt; ini berdampak pada bagaimana pandangan perempuan terhadap budaya pop dan bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Dan konsep dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;male gaze&lt;/span&gt; inilah yang menjadi salah satu dasar dari proyek feminisme untuk mengkonsep ulang dan merekonstruksi ulang soal budaya pop ini. Proses mengkonsep ulang ini hanya dapat dimungkinkan ketika para produsen dari budaya pop ini juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aware&lt;/span&gt; terhadap masalah ini, yaitu bagaimana ketimpangan gender telah merasuk dalam budaya pop. Tanpa ada kesadaran ini, maka apologi bahwa ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;masyarakat lah yang meminta iklan-iklan atau sinetron-sinetron, atau film-film seperti itu maka kami sebagai produsen hanya menuruti keinginan mereka karena hal itulah yang menarik dan laku di pasar’&lt;/span&gt; akan sering dan melulu kita dengar. Dan jika sudah begitu, tidak akan ada yang berubah dan tidak pernah ada upaya untuk melakukan pendidikan publik, karena di tengah masyarakat yang sangat patriarkis, perempuan akan semakin kuat menjadi simbol represi dan pada gilirannya, perempuan pun akan terus diburu oleh industri periklanan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bahan bacaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kasiyan, Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan, Yogyakarta: Ombak, 2008.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Zeisler, Andi, Feminism and Pop Culture, Berkeley: Seal Press, 2008. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7490947116822449948?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7490947116822449948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7490947116822449948&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7490947116822449948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7490947116822449948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/08/budaya-pop-iklan-dan-perempuan.html' title='Budaya Pop, Iklan dan Perempuan'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-1531826043761670791</id><published>2011-08-27T10:36:00.013+07:00</published><updated>2011-08-27T11:14:59.308+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-3ssNiYh_kH4/TlhnaJrAG1I/AAAAAAAAAj8/2nUZ-hrvibk/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 285px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-3ssNiYh_kH4/TlhnaJrAG1I/AAAAAAAAAj8/2nUZ-hrvibk/s400/4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645375831879457618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-bczr3DrdOaA/TlhnU-QPX3I/AAAAAAAAAj0/5L0WB6Z9JcE/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-bczr3DrdOaA/TlhnU-QPX3I/AAAAAAAAAj0/5L0WB6Z9JcE/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645375742915075954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YSe558RuXqw/TlhnPBOPecI/AAAAAAAAAjs/MDfPlPOz3Q8/s1600/5.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YSe558RuXqw/TlhnPBOPecI/AAAAAAAAAjs/MDfPlPOz3Q8/s400/5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645375640632785346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-oBAGqUoNh4I/TlhnIbUEo_I/AAAAAAAAAjk/hM_n2_7NYvQ/s1600/6.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 264px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oBAGqUoNh4I/TlhnIbUEo_I/AAAAAAAAAjk/hM_n2_7NYvQ/s400/6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645375527377478642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-OAF9Eo2mUPI/TlhnBKgT8qI/AAAAAAAAAjc/RtE7-nuicJA/s1600/7.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 265px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-OAF9Eo2mUPI/TlhnBKgT8qI/AAAAAAAAAjc/RtE7-nuicJA/s400/7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645375402606326434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ClpBQOzpkEk/Tlhmw__iBFI/AAAAAAAAAjU/A4h00GuL7Ms/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ClpBQOzpkEk/Tlhmw__iBFI/AAAAAAAAAjU/A4h00GuL7Ms/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645375124906574930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/--1TQg0A2RP0/TlhmpUjc_II/AAAAAAAAAjM/7tXdzrj013E/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--1TQg0A2RP0/TlhmpUjc_II/AAAAAAAAAjM/7tXdzrj013E/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645374992986995842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Zv6O_2OhAcU/TlhmiPa2rZI/AAAAAAAAAjE/Nnps-KBDz6s/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Zv6O_2OhAcU/TlhmiPa2rZI/AAAAAAAAAjE/Nnps-KBDz6s/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645374871349669266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-uoEzUEZ2FIA/TlhmZq_u0AI/AAAAAAAAAi8/6SAqOCH-zIM/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uoEzUEZ2FIA/TlhmZq_u0AI/AAAAAAAAAi8/6SAqOCH-zIM/s400/4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645374724133277698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-1p4euhuoJqI/TlhngKPfk4I/AAAAAAAAAkE/Bb76QDBmqhI/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 242px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-1p4euhuoJqI/TlhngKPfk4I/AAAAAAAAAkE/Bb76QDBmqhI/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645375935111730050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;it's my personal jakarta..&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-1531826043761670791?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/1531826043761670791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=1531826043761670791&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1531826043761670791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1531826043761670791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/08/jakarta.html' title='jakarta'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-3ssNiYh_kH4/TlhnaJrAG1I/AAAAAAAAAj8/2nUZ-hrvibk/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-933409314085560717</id><published>2011-08-02T10:38:00.009+07:00</published><updated>2011-08-27T23:42:10.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>keramat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fKJfGokda_Q/TlkeJ2NDP_I/AAAAAAAAAks/Of4XwigKjF8/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 292px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fKJfGokda_Q/TlkeJ2NDP_I/AAAAAAAAAks/Of4XwigKjF8/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645576762403536882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi sebagian orang, membicarakan Keramat adalah seperti membicarakan hal-hal yang membuat bulu kuduk berdiri. Karena bagi sebagian orang itu, keramat adalah pembicaraan yang berada di ranah suci, bertuah, serta dapat memberikan efek magis juga piskologis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian yang lain, pembicaraan tentang Keramat adalah sebuah pembicaraan yang berada di ranah privat. Ia memiliki makna personal, yang di tiap biliknya terkadang sulit untuk diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun bisa mengartikan Keramat dengan cara pikirnya sendiri. Bisa jadi Keramat adalah masalah ruang, benda mati, benda hidup, bangunan, sampah, hutang di warung, bakteri, imaji tentang tuhan, tentang kekasih atau tentang citra diri. Bisa yang lainnya juga, karena tidak pernah ada satu makna yang baku dalam hal apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkeramatkan sesuatu berarti menginvestasikan sebagian diri kepada yang dikeramatkan itu. Mungkin saja ada harapan, jiwa, atau hal yang transenden. Artinya -bisa saja- ada harapan pada yang tidak teraih, atau sulit diurai dengan kata.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Jkm3qt7_BDk/TjdyKa2iG8I/AAAAAAAAAis/Zf4YpDuzCOo/s1600/kopi%2Band%2Blove.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-933409314085560717?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/933409314085560717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=933409314085560717&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/933409314085560717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/933409314085560717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/08/keramat.html' title='keramat'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fKJfGokda_Q/TlkeJ2NDP_I/AAAAAAAAAks/Of4XwigKjF8/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-4500845861710598616</id><published>2011-06-18T11:10:00.006+07:00</published><updated>2011-06-18T11:22:46.010+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>nyanyian pecandu</title><content type='html'>bukan di regukan pertama&lt;br /&gt;bukan juga di regukan yang kedua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi saat aroma mu masuk membaui hidungku,&lt;br /&gt;bulu kudukku sudah berdiri dan tubuhku jadi merinding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat ini aku adalah pesakitan&lt;br /&gt;si sakit yang tak tahu lagi bagaimana caranya berdiri tanpa -Ada- mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(bagi kopi, asap, rumput, msg, bibir dan tubuh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-4500845861710598616?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/4500845861710598616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=4500845861710598616&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4500845861710598616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4500845861710598616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/06/nyanyian-pecandu.html' title='nyanyian pecandu'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-375302102317733796</id><published>2011-05-22T16:17:00.013+07:00</published><updated>2012-02-09T13:20:14.255+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><title type='text'>in the Jungle</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;In 2005, deep down in the jungle, I'd been playing and  living with these beautiful friends. They call me 'ibu Losi', coz my  name is Luci, and it's sometimes very hard for them to spell my name  correctly, so they just call me Losi, means hot in Rimba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZdhFxQhhUiU/TdjYcAdXXxI/AAAAAAAAAg4/D9I5WgaLID4/s1600/01.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 261px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZdhFxQhhUiU/TdjYcAdXXxI/AAAAAAAAAg4/D9I5WgaLID4/s400/01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609471311561056018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-a9Dx2XcLxWI/TdjZEX_zvuI/AAAAAAAAAhQ/oKBlWvSyXQE/s1600/04.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 261px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-a9Dx2XcLxWI/TdjZEX_zvuI/AAAAAAAAAhQ/oKBlWvSyXQE/s400/04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609472005074304738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ObWKw4nZjBA/TdjYq7oDEYI/AAAAAAAAAhA/_78V5QstNkk/s1600/02.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ObWKw4nZjBA/TdjYq7oDEYI/AAAAAAAAAhA/_78V5QstNkk/s400/02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609471567961723266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0syX__eonOg/TdjZMjok-bI/AAAAAAAAAhY/0gXZZINznLk/s1600/05.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-0syX__eonOg/TdjZMjok-bI/AAAAAAAAAhY/0gXZZINznLk/s400/05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609472145637046706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Of-V9evKHno/TdjY5I92CpI/AAAAAAAAAhI/P4QhBXSwbgc/s1600/03.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 262px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Of-V9evKHno/TdjY5I92CpI/AAAAAAAAAhI/P4QhBXSwbgc/s400/03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609471812060973714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tWhIrE8ZnSs/TdjZVd9sTOI/AAAAAAAAAhg/_dNJcca_2Xw/s1600/06.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 262px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-tWhIrE8ZnSs/TdjZVd9sTOI/AAAAAAAAAhg/_dNJcca_2Xw/s400/06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609472298733817058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Eq6kzQkkTH0/TdjZpctIzZI/AAAAAAAAAhw/QNtcMwEdAiU/s1600/08.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 265px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eq6kzQkkTH0/TdjZpctIzZI/AAAAAAAAAhw/QNtcMwEdAiU/s400/08.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609472641993330066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bH4SWfTvaHs/TdjZgqGqBLI/AAAAAAAAAho/_SOcpnqViM8/s1600/07.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 262px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-bH4SWfTvaHs/TdjZgqGqBLI/AAAAAAAAAho/_SOcpnqViM8/s400/07.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609472490971202738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vi0rFqwieKo/TdjZxeUdUOI/AAAAAAAAAh4/8EfY38JDP5I/s1600/09.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();}  catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-vi0rFqwieKo/TdjZxeUdUOI/AAAAAAAAAh4/8EfY38JDP5I/s400/09.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609472779865641186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZdhFxQhhUiU/TdjYcAdXXxI/AAAAAAAAAg4/D9I5WgaLID4/s1600/01.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Goshh...I missed those moment, and those kids.  Now, they all grown up, and  some of them already have a kid. Lots of memmories and lots of  stories, the best stories ever,.. so far.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rimba Sumatra, Makekal Hulu-Makekal Tengah, Jambi Province&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;photographed by luciadianawuri&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-375302102317733796?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/375302102317733796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=375302102317733796&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/375302102317733796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/375302102317733796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/05/in-jungle.html' title='in the Jungle'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ZdhFxQhhUiU/TdjYcAdXXxI/AAAAAAAAAg4/D9I5WgaLID4/s72-c/01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-5393447739745753586</id><published>2011-05-06T16:49:00.008+07:00</published><updated>2011-08-27T16:31:28.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Menikmati Foto</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dalam fotografi saya adalah seorang penikmat, sama seperti halnya ketika menikmati makanan. Jika enak dicerna dan rasanya tak terlupakan, maka saya akan menikmatinya perlahan dan tidak akan pernah melupakan rasa yang tertinggal di lidah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Saat menghadiri presentasi foto &lt;a href="http://www.tomasztomaszewski.com/index,en.html"&gt;Tomas Tomaszweski&lt;/a&gt; &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;fotografer National Geographic asal Polandia, beberapa waktu lalu, saya menjadi penikmat yang berbahagia. Pertama karena ini adalah presentasi dari seorang fotografer internasional yang baru kali ini saya hadiri (dan gratis -red), Dan yang kedua, seperti ada rasa yang tertinggal sesudah menyaksikan berbagai kisah foto karya fotografer kaliber internasional ini. Sungguh saya benar-benar tergugah, sekaligus terpikat oleh kesederhanaan dalam gambar-gambar yang ditampilkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dalam presentasinya itu ada beberapa foto seri yang Tomasz tampilkan, serta sejumlah foto single. Namun yang paling saya ingat adalah foto seri berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hades&lt;/span&gt; serta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Stone’s Throw&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hades&lt;/span&gt; adalah seorang tokoh dalam mitologi Yunani yaitu penguasa dunia bawah, dunia orang mati. Dalam seri foto ini, Tomasz tidak bercerita secara literal tentang siapa atau apakah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hades&lt;/span&gt; itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hades&lt;/span&gt; ia gunakan sebagai pembingkai atau semacam analogi untuk menceritakan tentang kehidupan di kota Silesia, Polandia, sebuah daerah yang kaya dengan sumber mineral. Sumber mineral yang tersimpan dalam ceruk-ceruk bumi Silesia itulah yang membuat kota ini hidup, serta menghidupi dirinya dari industri pertambangan, termasuk pabrik-pabrik pengolahan hasil tambang itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Pabrik-pabrik pengolahan hasil tambang yang salah satunya adalah industri pengecoran logam - seperti yang dipotret oleh Tomasz- adalah sebuah dunia kerja yang penuh resiko. Dunia kerja yang seringkali, dan bahkan selalu, berhubungan dengan dunia bawah tanah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hades&lt;/span&gt;, adalah representasi dari hal itu. Dunia bawah tanah yang -secara tidak langsung- seringkali diasosiasikan dengan neraka. Sebuah ruang abstrak yang panas membara, seperti panasnya atmosfer ruang kerja –pengecoran, debu, jelaga sisa hasil pembakaran- para pekerja di kota Silesia ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Berbagai warna-warna dinamis dari para penduduk Silesia itulah yang ditangkap oleh Tomasz dalam foto serinya itu. Berbagai tingkah polah keseharian penduduk Silesia yang kebanyakan adalah para pekerja tambang. Mulai dari aktivitas bekerjanya, saat mereka bersosialisasi dengan kawan seprofesi, tetangga, kerabat, keluarga, hingga saat mereka bersantai melepas lelah. Semua diabadikan Tomasz dengan sangat “biasa”. Berbagai hal yang “biasa” dan sehari-hari itu, ia ceritakan dengan manis lewat gambar-gambar luar biasa. Gambar-gambar yang secara personal membuat saya tergugah, dan membuat imajinasi saya melayang sampai ke Silesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Gambar-gambar keseharian penduduk kota Silesia itu, ia susun dalam sebuah kerangka besar yang ingin berbicara tentang dinamika sebuah kota. Kota dengan permasalahannya, sebuah kota yang harus berkompromi dengan kemajuan jaman, salah satunya menutup beberapa pabrik yang jadi tumpuan hidup para pekerjanya dan merubahnya menjadi sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mall&lt;/span&gt;. Sebuah kota dengan sejarah masa lalunya yang harus hidup dalam sebuah lingkaran besar lainnya (dalam hal ini Polandia dan negara-negara lainnya). Garis besarnya, sebuah kota yang begitu berwarna, begitu kaya masalah, tetapi penduduknya -yang mayoritas adalah pekerja- begitu hidup dan menjalani kesehariannya dengan sederhana, walau sebentar lagi terancam menjadi pengganguran. Atau, singkatnya, Tomasz hanya ingin mendokumentasikan tentang Silesia saat ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Lalu ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Stone’s Throw&lt;/span&gt;, yaitu seri foto hitam putih tentang  daerah pinggiran di Polandia. Lewat foto-foto ini, Tomasz ingin mendokumentasikan tentang nasib masyarakat marjinal, yaitu para petani, di pinggiran Polandia. Para petani pinggiran ini, seringkali terlupakan (atau dilupakan) oleh rezim yang berkuasa. Saat sistem pemerintahan Polandia diganti, segala sesuatu yang berbau komunisme pun turut dihilangkan. Akibatnya, pertanian yang selama ini menjadi mata pencaharian para petani pinggiran itu pun hilang. Dan eksistensi para petani itu pun hilang. Sumber kehidupan dihilangkan oleh negara, termasuk identitas mereka sebagai petani pun secara semena dilenyapkan.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Kisah getir para petani marjinal yang melulu terpinggirkan itulah yang ingin dipotret oleh Tomasz. Ada banyak kesengsaraa di seputar mereka, juga banyak ketidakadilan. Namun itu semua tidak tampak ketika saya melihat seri foto &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Stone’s Throw&lt;/span&gt; ini. Yang saya lihat adalah gambar orang-orang biasa, orang-orang sederhana, yang sedang menjalani hidup dengan segala kepahitan juga lebih banyak kegembiraan. Seperti terlihat pada satu frame tentang sepasang lelaki dan perempuan yang sedang berpegagangan tangan sambil –entah- dia menari atau melompat. Yang jelas ada ekspresi bahagia yang tertangkap oleh kamera. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Berbagai ekspresi kegembiraan, gambar-gambar indah yang tidak mengeksploitisir kesengsaraan itulah yang membuat karya Tomasz ini malah jadi begitu menyentuh. Saya jadi seperti berempati kepada para subjek yang difoto itu. Sehingga saya sepakat dengan Tomasz bahwa untuk mengabadikan sebuah tema yang tidak menyenangkan, tidak perlu melulu menampilkan atau mengeksploitasi habis-habisan apa yang tidak menyenangkan itu. “Kita harus melihat dengan cara berbeda;” ungkap Tomasz. Di balik kisah yang rumit, sedih dan tidak menyenangkan itu, sepertinya Tomasz menemukan keindahan yang tidak semua mampu melihatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Kesederhanaan itulah yang membuat saya tergugah oleh karya-karya Tomas Tomaszewski ini. Ia tidak pergi jauh ke belahan dunia antah berantah yang jauh dari rumahnya. Tomasz hanya berpetualang di dalam negaranya saja, di kampung halamannya, mengunjungi daerah yang mungkin bagi orang lain tidak menarik. Namun dengan sensitifitasnya ia mampu melihat yang tak terlihat itu, yaitu keindahan.“Tangkap yang biasa-biasa saja, tidak perlu mencari yang luar biasa dan gunakan empatimu untuk mencari keindahannya pada sisi-sisi yang biasa itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Everyone have fantastic story to tell&lt;/span&gt;”, ungkapnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Bagi Tomasz, sebagai seorang pencerita dengan kamera ia harus bisa menceritakan apa yang ingin ia kisahkan. Bukan kisah tentang orang lain, tetapi kisah tentang dirinya sendiri. “Saya mengisahkan apa yang saya rasakan, bukan hanya apa yang saya lihat, karena fotografi bukan media untuk melihat dunia, tapi cermin untuk melihat diri sendiri,” katanya. Intinya, jika kita mengisahkan apa yang  dirasakan, maka foto itu akan hidup, memiliki jiwa, dan bisa bercerita banyak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dan ibarat makanan enak yang rasanya sulit terlupakan walau sudah sikat gigi berkali-kali, dua kisah dari “si pencerita” Tomasz ini masih menempel di ingatan saya hingga sekarang. Mungkin, ibarat memakan sambel goreng ati kesukaan saya, nikmatnya sangat personal.  Karena rasa adalah masalah personal, seperti halnya ketika menikmati foto (membaca foto; karena foto juga adalah sebuah teks – red) yang jadi sangat personal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Luc,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;penikmat foto. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;visit &lt;a href="http://cephasphotoforum.org/"&gt;http://cephasphotoforum.org/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-5393447739745753586?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/5393447739745753586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=5393447739745753586&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5393447739745753586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5393447739745753586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/05/menikmati-foto_06.html' title='Menikmati Foto'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-6954213001131698393</id><published>2011-04-12T14:54:00.005+07:00</published><updated>2011-05-09T15:16:06.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>new york i love you</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-anxeXlkcCoY/TaQFVhPiLPI/AAAAAAAAAgc/RoE9eneTRyY/s1600/New_York_I_Love_You_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 296px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-anxeXlkcCoY/TaQFVhPiLPI/AAAAAAAAAgc/RoE9eneTRyY/s400/New_York_I_Love_You_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594602504359914738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau saya tinggal di New York mungkin saya akan mengalami hal yang sama seperti para tokoh dalam film New York I Love You, ....tapi bisa jadi tidak. Mungkin saja hidup saya akan berjalan dengan hambar-hambar saja, plain, tidak ada romantisme soal pencarian atau kehilangan. Bisa saja saya akan mengalami kemalangan luar biasa, dan pada akhirnya membenci habis-habisan kota yang katanya tidak pernah tidur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya boleh memirip-miripkan, New York mungkin saja agak sedikit mirip dengan Jakarta. Sibuk, selalu hidup, melting pot, banyak pertemuan, banyak perpisahan, banyak kisah yang rumit dan banyak juga yang sederhana. Harapan, skeptisisme, keacuhan, individualistis, ketidakpercayaan, kegelisahan, sedikit banyak jadi semacam karakter para penghuninya. Semua bercampur, bergerak dalam dinamisme, dan mengalur membentuk kisahnya masing-masing, walau pada akhirnya benang merahnya cuma satu, yaitu tentang bagaimana hidup di kota yang tidak pernah tidur. Ini mungkin yang kurang lebih saya dapatkan dari menonton film yang merupakan franchise tentang kota-kota cinta yang diproduseri oleh Emmanuel Benbihy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film pertamanya adalah salah satu favorit saya yang settingnya di Paris, Paris Je’taime (Paris I Love You). Masih dengan spirit yang sama, kolektifitas! Dengan semangat itu, film ini sepertinya ingin menampilkan gambaran beragam dari beberapa penulis serta sutradara ternama, tentang New York. Beberapa sutradara dalam Paris I Love You antara lain Jiang Wen, Mira Nair, Shunji Iwai, Yvan Attal, Brett Ratner, Allen Hughes, Shekhar Kapur, Natalie Portman, Fatih Akin, Joshua Marston dan Randy Balsmeyer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam film New York I Love You ini, gambaran beragam yang rata-rata berdurasi 10 menit itu, sepertinya ingin memperlihatkan New York sebagai kota dunia yang masing-masing penghuninya selalu berasal dari suatu tempat yang jauh. Titik beratnya pada masalah dasar yang melulu (sepertinya) menjadi isu besar bagi banyak manusia, cinta. Cinta bukan hanya pada pasangan, tapi cinta antar anak dan orang tua, kawan atau bahkan pada orang yang benar-benar tidak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, menonton film ini adalah hal yang mengasyikan. Dahi saya tidak perlu berkerut-kerut, otak tidak perlu diperas karena mengira-ngira ingin bicara apa film ini, serta jantung saya tidak perlu berdebar-debar karena takut menghadapi frame apa yang akan ditampilkan selanjutnya. Yang saya lakukan cuma menselonjorkan kaki di depan layar 14”, menikmati setiap frame yang manis (walau saya lebih menikmati edisi pertamanya) dan begitu terharu menyaksikan kisah sepasang suami istri yang telah menikah selama 63 tahun, yang melulu bertengkar dengan mesra selama berjalan menuju pantai, serta tersenyum-senyum sendiri melihat makhluk-makhluk gelisah yang sedang mencari dan (mungkin) akan menuju sebuah pertemuan (juga perpisahan).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-6954213001131698393?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/6954213001131698393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=6954213001131698393&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6954213001131698393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6954213001131698393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/new-york-i-love-you.html' title='new york i love you'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-anxeXlkcCoY/TaQFVhPiLPI/AAAAAAAAAgc/RoE9eneTRyY/s72-c/New_York_I_Love_You_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-5088366724667734905</id><published>2011-04-12T14:49:00.004+07:00</published><updated>2011-05-09T15:16:51.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>julie and julia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nnURrCm_eJE/TaQEqy3bKKI/AAAAAAAAAgU/eZF_oDLlF_U/s1600/Julie_and_julia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 297px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nnURrCm_eJE/TaQEqy3bKKI/AAAAAAAAAgU/eZF_oDLlF_U/s400/Julie_and_julia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594601770356254882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menonton film ini, mengingatkan akan diri saya sendiri. Jargon sederhananya adalah, “krisis perempuan jelang usia 30”, atau kalau dalam bahasa SMS yang saya forward ke kawan baik perempuan saya sebaya, “women toward 30 crisis” :p. Saya merasa seperti si tokoh bernama Julie (Amy Adams), walau dalam banyak hal sangat berbeda, tetapi konflik-konflik yang ia alami kurang lebih mirip dengan yang saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julie, perempuan yang belum lama menikah dan hampir berusia 30, bekerja pada sebuah lembaga pemerintah yang membosankan, dan merasa tidak pernah tuntas menyelesaikan apapun yang ia rasa menjadi passion dalam hidupnya. Nah ini pointnya yang saya rasa amat mirip dengan saya. Tidak pernah tuntas!!! Julie yang sempat bekerja pada sebuah lembaga penerbitan, bercita-cita menjadi penulis. Ia sempat hampir akan menghasilkan sebuah novel, tapi lagi-lagi penyakit yang menjangkitinya (yang juga sama seperti saya) ia tidak pernah menyelesaikan novel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penulis baru dibilang penulis kalau ia sudah berhasil menerbitkan sebuah buku!” Ini dia secuplik dialog dalam film Julie &amp;amp; Julia yang betul betul dan benar benar saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, saya selalu merasa punya bakat menulis, dan selalu merasa (paling tidak hingga kini satu-satunya pekerjaan yang menurut saya pas buat saya) adalah seorang penulis. Tetapi itu kan cuma perasaan saya, karena saya ini bisa digolongkan dalam genre “penulis angin-anginan”. Cuma menulis kalau ada angin segar yang masuk ke kepala. Atau hobi berapologi soal mood menulis. Jadinya yah, sama seperti yang dialami oleh Julie itu, saya tidak pernah bisa berhasil menyelesaikan tulisan yang sebetulnya pingin saya proyeksikan menjadi sebuah novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Julie ada seorang tokoh lain yang juga menjadi sentral dalam film ini, Julia Child (Meryl Streep). Julia adalah seorang perempuan paruh baya yang juga belum lama menikah dengan seorang pegawai pemerintahan AS yang ditugaskan di Paris. Ketika di Amerika, Julia adalah seorang perempuan karir yang selalu menyibukan diri, tetapi ketika ia pindah ke Paris, ia harus berhenti dari pekerjaannya dan memulai aktifitas kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Julia tentu tidak bisa diam. Ia merasa harus melakukan sesuatu, selain makan dan mengagumi Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Julia sangat suka makan, karena menurutnya makanan Prancis memiliki taste yang amat menarik dan cocok di lidahnya. Maka setelah mencoba mengisi waktu luangnya dengan berbagai aktifitas ala ibu-ibu di Paris (yang menurutnya amat membosankan) seperti kursus membuat topi, Julia mencoba memulai dunia barunya dalam hal masak-memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, banyak yang meremehkan kemampuannya memasak. Tentu ini selain suaminya Paul Child (Stanley Tucci) yang sangat suportif akan segala aktifitas yang dilakukan oleh Julia. Salah satunya adalah pimpinan tempat kursus masaknya di Cordon Bleu yang amat meragukan kemampuannya, sehingga pada awalnya Julia hanya ditempatkan di kelas pemula yang memulai kelasnya dengan merebus telur. Bagi Julia merebus telur adalah pekerjaan mudah dan ia ingin tantangan lebih. Akhirnya setelah berargumen dengan pimpinan sekolah masaknya, Julia pun mulai bergabung dengan kelas profesional yang isinya adalah para lelaki. Dari situlah, ia mulai merasakan menemukan dunianya dan passion hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berbeda dengan tokoh yang pertama si Julie. Di tengah kebosanan dengan pekerjaan, serta cita-citanya yang tak pernah tuntas ia kerjakan. Julie seperti menemukan passion yang lama hilang dalam hal memasak. Salah seorang yang menginspirasinya adalah si Julia Child.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia Child memang seorang tokoh riil legendaris dengan buku masak Mastering the Art of French Cooking Julia Child juga memiliki sebuah tv show yang juga amat legendaris. Kelegendarisanny hingga dirinya diabadikan dalam museum smithsonian AS. Dari buku serta membaca kisah hidup Julia Child, Julie mendapat inspirasinya. Dengan dorongan dari si suami yang lagi-lagi amat suportif, Julie akhirnya seperti membuat semacam proyek untuk menantang kemampuan masaknya dengan berbagai resep milik Julia Child dalam buku legendaris itu. Julie seperti menantang dirinya untuk mengejar kemampuan masak sang master masak itu dalam waktu 365 hari. Dan untuk mempublikasikan proyek itu, atau mungkin semacam proyeksi sederhana dari buku yang belum kesampean ia buat, Julie menggunakan media blog dalam dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, blog itu sungguh sepi dan minim comment. Satu-satunya yang memberi comment adalah ibunya. Tetapi, ini tentu tidak membuat Julie menyerah, karena ia memiliki target waktu. Inilah yang membedakan proyek yang sekarang ia lakukan, dengan proyek-proyek tulisan lainnya. Proyek Julia Child ini memiliki target waktu. Walau perjalanan proyeknya itu tidak melulu berjalan mulus, dan pernah satu kali ia benar-benar frustasi karena sempat gagal membekukan daging ala Julia Child, dan sempat bertengkar hebat dengan suaminya gara-gara editor buku Julia Child batal berkunjung ke rumahnya, Julie seperti tidak bisa dihentikan.&lt;br /&gt;Yah tentu ada orang-orang yang sepertinya memberi semangat, suaimnya tentu saja, kawan-kawan baiknya, ibunya, dan yang tidak bisa dilupakan adalah si Julia Child itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, kisah ini amat menarik dan inspiratif. Selain seperti ada hal-hal yang mengingatkan akan diri saya sendiri. Yang membuat menarik adalah, dua tokoh sentral ini tidak pernah bertemu. Kisah mereka masing-masing berjalan sendiri dalam tracknya, tetapi kemudian seringkali dihubungkan dengan sebuah benang merah. Selain kisahnya yang menarik, akting Meryl Streep juga sungguh luar biasa. Saya memang amat menyukai Meryl, jadi ketika melihat film Julie and Julia ini, jadi seperti sebuah afirmasi akan kekaguman saya akan kemampuan aktingnya. Amy Adams juga tidak mengecewakan. Kalau sempat melihat Doubt, dua aktor hebat berbeda generasai ini juga pernah beradu akting. Amy Adams sempat mendapat nominasi oscar untuk aktingnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Great one to watch!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-5088366724667734905?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/5088366724667734905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=5088366724667734905&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5088366724667734905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5088366724667734905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/julie-and-julia.html' title='julie and julia'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nnURrCm_eJE/TaQEqy3bKKI/AAAAAAAAAgU/eZF_oDLlF_U/s72-c/Julie_and_julia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7548613522646470675</id><published>2011-04-12T14:44:00.003+07:00</published><updated>2011-05-09T15:17:41.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>full metal jacket</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NZKiMONpt5g/TaQDM5AuXRI/AAAAAAAAAgM/X7LVikwvqZA/s1600/Full_Metal_Jacket_poster.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 305px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NZKiMONpt5g/TaQDM5AuXRI/AAAAAAAAAgM/X7LVikwvqZA/s400/Full_Metal_Jacket_poster.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594600157098171666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"In a world of shit, I am glad to be alive, and is unafraid", kurang lebih jika dibahasaIndonesiakan menjadi "dalam dunia yang hancur dan tidak bersahabat ini, saya senang masih bisa bertahan hidup dan tidak takut menghadapinya,". Apalagi jika dunia yang dibicarakan adalah dunia perang dimana kemanusiaan menjadi begitu banal. Cuplikan kalimat dalam film garapan Stanley Kubrick itu adalah penggalan dialog menjelang akhir film yang diucapkan oleh salah seorang tokoh bernama Joker (Matthey Modine).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film perang bersetting perang Vietnam itu adalah adaptasi dari sebuah novel The Short Timers karya Gustav Hasford. Seperti layaknya film perang, film ini penuh dengan adegan, yang jujur saja, tidak benar-benar saya nikmati. Darah dimana-mana dan kehancuran menjadi frame-frame utama dalam film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik ketika menyaksikan film ini adalah, seperti ada pesan yang ingin disampaikan. Plot ceritanya si (menurut saya) sederhana saja. Berangkat dari adegan para kadet baru yang masuk tempat pelatihan militer yang (mungkin saja) memiliki prinsip dehumanisasi. Mereka diperlakukan seperti mesin dan pelan-pelan tapi secara sistematis rasa kemanusiannya dihilangkan. Dan tujuan akhirnya adalah membuat para kadet ini menjadi semacam mesin pembunuh ketika disebarkan di hutan belantara Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, dan ternyata berhasil. Satu orang kadet, Pyle (Vincet D'Onofrio) yang selama pelatihan menjadi bulan-bulanan karena ia bertubuh subur dan sepertinya memiliki sedikit keterlambatan mental, akhirnya menjadi "gila" dan membunuh komandannya serta menembak kepalanya sendiri melalui mulut dengan menggunakan sejenis peluru full metal jacket yang sering digunakan untuk senapan infrantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti keberhasilan dehumanisasi itu adalah ketika berada di medan perang Vietnam, ada satu adegan dimana salah seorang tentara menembaki secara membabi buta -dari atas heli- para penduduk biasa, baik itu wanita dan anak-anak. Tidak ada rasa takut ataupun bersalah, ia melakukannya dengan gembira sambil terbahak. Bahkan, tidak ada satupun kawan tentara lainnya yang duduk di dalam heli itu mencoba menghentikan aksi itu, semua hanya diam, dan malah ikut tertawa. Ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keironisan ini mungkin yang coba dipotret oleh Kubrik. Bahwa manusia adalah hal yang kompleks, bahwa terkadang proses dehumanisasi yang dilakukan oleh lembaga militer terhadap para tentaranya belum tentu bener-benar berhasil. Bahwa proses itu tidak melulu berjalan mulus, ada yang bisa memberontak dan menjadi muak lalu menjadi gila. Bahwa banyak juga yang walau sudah hampir menjadi mesin pembunuh, juga masih punya kemanusiaan, apalagi jika melihat kawan seperjuangannya sekarat karena ditembaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan kemanusiaan itu pada bagian akhir dari film ini, dengan cukup apik dipotret oleh Kubrick, ketika Joker mengalami pertentangan apakah ia harus membunuh seorang sniper perempuan yang telah menembaki kawannya. Seorang sniper yang begitu kesakitan karena telah tertembak dan cara satu-satunya mengakhiri penderitaanya adalah dengan menembaknya. Dan akhirnya, Joker pun yang selama ini belum pernah benar-benar membunuh, menembak sniper perempuan itu dengan gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kekompleksan manusia dengan berbagai ambivalensinya, tampak dipotret oleh Kubrick lewat lambang peace (damai) yang dikenakan oleh Joker di bajunya, serta tulisan born to kill yang tertera pada helm Joker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin ketika konteksnya dalam perang, semua manusia harus menjadi beringas untuk sebuah pertahanan hidup. Ya "in a world of shit i am glad to be alive"....akhirnya semua tentara berbaris dan bernyanyi M I C K E Y mouse march.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7548613522646470675?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7548613522646470675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7548613522646470675&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7548613522646470675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7548613522646470675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/full-metal-jacket.html' title='full metal jacket'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NZKiMONpt5g/TaQDM5AuXRI/AAAAAAAAAgM/X7LVikwvqZA/s72-c/Full_Metal_Jacket_poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-1364102161404007349</id><published>2011-04-12T14:42:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:18:15.959+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>mary and max</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NZu9QAAVkWI/TaQCrwPisoI/AAAAAAAAAgE/bDRzcuQbsDM/s1600/Mary%2Band%2BMax.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 285px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NZu9QAAVkWI/TaQCrwPisoI/AAAAAAAAAgE/bDRzcuQbsDM/s400/Mary%2Band%2BMax.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594599587808719490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya pernah membayangkan punya seorang sahabat pena di negeri yang jauh. Lalu kami berkorespondensi secara aktif, sambil bertukar kata soal perbedaan, soal persamaan, perasaan serta mungkin berbagi coklat atau es krim dari masing-masing negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayangnya, itu tidak pernah terjadi. Kawan pena saya yang paling lama, hanya bertahan dua kali pengiriman surat. Alasannya, karena tiba-tiba saja saya jadi malas membalas surat-surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, hingga saat ini saya masih senang membayangkan hal itu. Pasti seru, karena thrill nya menunggu balasan surat dari orang yang entah di negeri seperti apa, atau seperti apa rupanya.&lt;br /&gt;Tapi mungkin sulit ya membayangkan itu dilakukan pada masa ini, masa di mana dunia semakin sempit dan jarak juga waktu bisa dicapai dengan sebuah ibu jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti ketika saya melihat Mary and Max, sebuah film dari tanah liat (clay) yang berdasar dari sebuah kisah nyata. Sebuah kisah persahabatan yang begitu menyentuh, yang terjalin lewat pena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu, ringan, sederhana sekaligus baru (paling tidak bagi saya). Pengisi suaranya pun amat pas, apalagi aktor favorit saya jadi pengisi suara si Max yaitu Philip Seymour Hoffman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyenangkan sekali pokoknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-1364102161404007349?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/1364102161404007349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=1364102161404007349&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1364102161404007349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1364102161404007349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/mary-and-max.html' title='mary and max'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NZu9QAAVkWI/TaQCrwPisoI/AAAAAAAAAgE/bDRzcuQbsDM/s72-c/Mary%2Band%2BMax.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-64022003860984853</id><published>2011-04-12T14:35:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:18:50.635+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>dog day afternoon</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vnK1aNen1J4/TaQCDZekUHI/AAAAAAAAAf8/22_3tqtN6mg/s1600/dogday.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 293px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vnK1aNen1J4/TaQCDZekUHI/AAAAAAAAAf8/22_3tqtN6mg/s400/dogday.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594598894502957170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah salah satu film terbaik Al Pacino (subjektif menurut saya). Film yang sederhana, cuma soal perampokan bank yang dilakukan hampir tiga hari, karena mereka (para perampok) ini mau tidak mau harus menyandera para pegawai bank itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana, karena film ini hanya berisi cerita perampokan serta penyanderaan itu. Dan hebatnya, alur yang sederhana itu tidak membuat saya tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya dari sebuah kisah nyata, soal seorang lelaki bernama Sonny Wortzik (Pacino) yang begitu putus asa karena benar-benar membutuhkan uang dalam waktu dekat, nekat mengajak kawannya Sal (John Cazale) merampok bank. Perampokan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak profesional ini pun, tidak berlangsung mulus dan akhirnya baunya tercium hingga ke Kepolisian Kota yang segera mengirimkan puluhan pasukannya untuk memblokade bank yang tidak tergolong besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panik dan bingung melakukan apa, Sonny dan Sal pun memutuskan untuk terus menyandera para pegawai bank itu hingga keinginan mereka dipenuhi. Salah satunya, melarikan diri dengan sebuah pesawat jet ke Algeria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih menyenangkan si sebaiknya, film ini ditonton saja, karena film yang dibuat berdasarkan artikel pada majalah Life ini, begitu detil menggambarkan berbagai adegan yang ada dalam kisah perampokan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, film ini begitu menggugah dan banyak memotret masalah-masalah sosial yang secara implisit digambarkan dalam dialog-dialognya, misalnya saja soal isu homoseksualitas, transgender ataupun kemiskinan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-64022003860984853?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/64022003860984853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=64022003860984853&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/64022003860984853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/64022003860984853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/dog-day-afternoon.html' title='dog day afternoon'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vnK1aNen1J4/TaQCDZekUHI/AAAAAAAAAf8/22_3tqtN6mg/s72-c/dogday.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8827314152478787817</id><published>2011-04-12T14:28:00.004+07:00</published><updated>2011-05-09T15:19:38.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>i'm not there</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nYcGR51CdLA/TaQALsMVSnI/AAAAAAAAAf0/ZVTymFew6Ko/s1600/I%2527m_Not_There.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 215px; height: 318px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nYcGR51CdLA/TaQALsMVSnI/AAAAAAAAAf0/ZVTymFew6Ko/s400/I%2527m_Not_There.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594596837942446706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah familiar dengan lagu-lagu milik Bob Dylan, cuma satu lagunya berjudul Like A Rolling Stones yang sempat 'nyantol' di kepala karena ada sebuah film yang menggunakannya sebagai soundtrack. Ketika kuliah dulu, saya sempat punya CD nya, tetapi tidak terlalu saya simak dan hanya saya dengar sambil lalu karena banyak nada-nada yang Dylan mainkan agak tidak sepaham dengan kuping saya. Sekarang entah kemana CD itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum akhirnya menonton film yang berkisah soal kisah hidup pencipta lagu dan penyanyi Bob Dylan yang kebanyakan lagunya adalah puisi yang bernarasi, saya sudah sering mendengar film ini. Apalagi ada aktris Cate Blanchett, yang kebetulan salah satu aktris favorit saya, memainkan salah satu karekter Dylan dalam film ini. Ini jadi amat menarik bagi saya, karena seorang perempuan menjadi dan melebur dalam karakter laki-laki si penyanyi eksentrik itu. Ini adalah sesuatu yang sangat orisinil dan baru buat saya. Maka ketika salah seorang kawan mengajak menonton DVD bajakan berjudul I'm Not There, tentu saya sangat bergembira. Dan, sungguh seperti yang saya harapkan. Film yang bercerita soal berbagai kisah hidup Dylan digambarkan dengan sangat apik dan menyenangkan. Sepanjang film penuh dengan lagu-lagu Bob Dylan yang (ternyata...lama-kelamaan) jadi ramah pada kuping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lagu-lagu yang memenuhi film ini, gambar-gambar dalam film ini sangat menyenangkan untuk dilihat, karena diambil dengan gaya dan jenis film yang berbeda, seperti salah satu plot tentang Jack Rollins yang dimainkan oleh Christian Balle diambil dengan film 16 milimeter, dan khusus plot Jude Quinn diperankan oleh Cate divisualisasikan dalam format hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama film berlangsung, tak habis-habisnya saya berkata..."anjing...keren banget", banyak dialog yang terinspirasi oleh puisi naratif milik Dylan membuat saya tergugah. Apalagi ada adegan dimana ia bertemu dengan sastrawan Alan Gainsborough dan sama-sama memaki patung Yesus disalib, ini adegan yang penuh dengan sarkasme tetapi sangat menyadarkan, saya cuma ketawa terpingkal-pingkal melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada enam karakter Dylan dalam film ini, yaitu Marcus Carl Franklin yang memainkan karakter Dylan sebagai Woody Guthrie yang digambarkan sebagai seorang anak kulit hitam berusia 11 tahun dan melarikan diri dari sebuah tahanan anak, ada Jack Rollins yang dimainkan oleh Christian Bale yang merupakan versi Dylan sebagai seorang penyanyi folk muda dengan kesadaran berpolitik, lalu ada Cate Blanchett sebagai Jude Quinn yang adalah versi Dylan pada masa keemasannya di sekitar tahun 60 an. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ini menurut saya yang paling sempurna. Akting Cate luar biasa, kata kata "anjing...anjingg...keren banget" berkali kali keluar dari mulut saya ketika melihat Cate.&lt;/span&gt; Lalu ada Ben Whishaw yang menjadi Arthur Rimbaud dimana ia menjadi karakter Dylan muda yang pemberontak, ada juga Heath Ledger yang memerankan Robbie Clark. Dalam plot ini dikisahkan soal romantisme perceraian Dylan dengan istrinya Claire (dimainkan oleh Charlotte Gainsbourg). Dan terakhir ada Richard Gere yang memerankan versi tua Dylan, dan bersetting sebuah kota Wild West klasik yang amat sureal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang ditulis dan disutradarai oleh Todd Hayness ini berdurasi sekitar 135 menit. Dan selama 135 menit itu, kira-kira ada sekitar 50 kata-kata "anjing keren banget" keluar dari mulut saya....hahahaha, itu prestasi, karena saya biasanya malas menghitung kata-kata anjing itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8827314152478787817?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8827314152478787817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8827314152478787817&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8827314152478787817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8827314152478787817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/im-not-there.html' title='i&apos;m not there'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nYcGR51CdLA/TaQALsMVSnI/AAAAAAAAAf0/ZVTymFew6Ko/s72-c/I%2527m_Not_There.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-4699271878104591268</id><published>2011-04-12T14:23:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:20:12.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>across the universe</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-BsMKyB48W-Y/TaP-25sb5AI/AAAAAAAAAfs/QjWqeiHYoTw/s1600/Across_the_universe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 296px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-BsMKyB48W-Y/TaP-25sb5AI/AAAAAAAAAfs/QjWqeiHYoTw/s400/Across_the_universe.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594595381277877250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat menangis melihat film ini, ketika lagu "Let It Be" dinyanyikan, saya juga tertawa-tawa dan ikut menyanyi ketika "Come Togehter" muncul apalagi visualisasinya amat menyenangkan karena Joe Cocker menjadi tiga karakter yang berbeda di situ, saya juga sempat senyum-senyum sendiri ketika "With a Little Help From My Friend" dinyanyikan...yeahhh.."i get high with little help from my friend...". Juga, sempat hampir menangis lagi ketika "All My Loving" dinyanyikan Jim Sturgess..."close your eyes and I kiss you, tommorow i miss you, remeber i always be true"...wow. Dan yang paling mengagetkan adalah ketika Dr Robert..."the BONO" himself menyanyikan "Im the Walrus"...wow....superbfuntastic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya ingat sepanjang melihat film ini adalah selalu menyanyi dan menyanyi. Kalau pernah melihat Fryda tentu hapal betul dengan gaya Julie Taymor sang sutradara. Banyak gambar-gambar surealis yang ditampilkan dalam film berdurasi 131 menit ini. Sangat abstrak tetapi mengsyikkan dan karena saya penggemar Beatles, tentu sangat bahagia seluruh lagu dalam film ini adalah milik Beatles yang dinyanyikan lagi dengan komposisi ulang oleh para aktor dan aktrisnya. Apalagi salah satu favorit saya "Lucy in The Sky With Diamonds" dinyanyikan ulang oleh Bono yang diiringi The Edge. Komplit rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang dimainkan oleh Jim Sturgess sebagai Jude, Evan Rachel Wood sebagai Lucy, Joe Anderson sebagai Max, Dana Fuch sebagai Sadie, Martin Luther McCoy sebagai Jojo dan T.V Carpio sebagai Prudence ini bersetting sekitar pertengahan tahun 60 an dimana di Amerika sedang berkecamuk polemik anti perang dan pro perang Vietnam. Tidak ada figure Beatles dalam film ini, hanya roh the Beatles yang menjiwai seluruh film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini, buat saya cuma mau bicara soal...cinta bahwa..."All You Need Is Love"...dan saya sangat sepakat dengan itu...."love love love......"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-4699271878104591268?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/4699271878104591268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=4699271878104591268&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4699271878104591268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4699271878104591268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/across-universe.html' title='across the universe'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BsMKyB48W-Y/TaP-25sb5AI/AAAAAAAAAfs/QjWqeiHYoTw/s72-c/Across_the_universe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3343839091912165299</id><published>2011-04-09T11:51:00.009+07:00</published><updated>2011-05-09T15:21:00.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Dialog Pasar Rakyat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-dOtJKm5yIY0/TZ_oi68IXdI/AAAAAAAAAe8/bdyF2D9Pdec/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-dOtJKm5yIY0/TZ_oi68IXdI/AAAAAAAAAe8/bdyF2D9Pdec/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593444948852104658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak dialog terjadi di pasar rakyat. Dialog antar pedagang dan pembeli, dialog antar warga kota dengan ruang publiknya, dialog antar kawan, juga dialog antar masing-masing anggota keluarga. Ruang dialog yang diciptakan itu menjadi semacam ajang pertemuan yang tidak terjadi setiap hari. Sebuah ruang yang tercipta karena kini, ruang-ruang publik menjadi semakin mahal serta terhimpit oleh arus modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi tempat bertemu, pasar rakyat berkembang menjadi semacam arena dengan fungsi-fungsi tertentu. Ia bisa berfungsi ekonomis, sosial juga sebagai arena hiburan bagi masing-masing warga kotanya. Di pasar rakyat ada obrolan, baik lewat kata atau gerak tubuh. Semua berbagi keriaan serta kesederhanaan. Tidak peduli siapa, lansia, remaja, orang tua, balita, kaum metroseksual, gelandangan, sampai bangsawan, semua yang hadir di arena itu melebur menjadi kelas yang sama, ‘rakyat’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pasar rakyat yang telah menjadi agenda rutin sebuah kota adalah Pasar Sekaten. Sebuah pesta tahunan bagi rakyat Yogyakarta yang bermula dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Mulanya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa abad lalu di wilayah Demak Bintoro, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dilakukan selama tujuh hari. Daerah yang telah berkembang menjadi Kerajaan Islam dibawah kepemimpinan Raden Patah itu, belum sepenuhnya bisa melepaskan diri dari pengaruh Majapahit. Berbagai tradisi Hinduisme masih sering dipergunakan oleh masyarakatnya, terutama ketika menggelar sejumlah acara. Salah satunya adalah pertunjukan gamelan saat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memeriahkan acara, pertunjukan gamelan yang digelar di halaman Mesjid itu juga berfungsi sebagai ajang memperkenalkan Islam ke masyarakat luas di luar Demak Bintoro. Suara gamelan yang bertalu-talu, ternyata cukup efektif mengundang massa. Alkisah mengatakan, ketika mendengar alunan musik gamelan, masyarakat di sekitar Kerajaan pun berbondong-bondong ke halaman Mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memanfaatkan keingintahuan warga, pihak Kerajaan memberlakukan sebuah peraturan, bahwa untuk bisa melihat dan mendengarkan musik gamelan secara langsung, masyarakat yang hadir harus mengucapkan kalimat syahadat lalu sesudahnya membasuh tangan, kaki dan wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangannya, tradisi ini kemudian diteruskan oleh Kerajaan Islam Mataram. Kerajaan Mataram yang kemudian terpecah menjadi dua akibat Perjanjian Giyanti ini, berada di Yogyakarta serta Surakarta. Setiap tahunnya, Kraton Yogyakarta Hadiningrat meneruskan tradisi keagamaan ini tepat di depan Masjid Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semakin memeriahkan acara yang mengadopsi tradisi Hindu bernama Sekaten itu, maka diciptakanlah sebuah ruang publik di depan Masjid Agung, tepatnya di Alun-alun Utara, dalam bentuk pasar rakyat. Pasar rakyat yang sejatinya adalah semacam pelengkap dari tradisi itu kemudian pada perkembangannya disebut sebagai Sekaten oleh masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berwisata Sambil Berpesta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaten bukan sekedar Pasar Rakyat biasa. Selain menjadi perhelatan turisme tahunan kota Yogyakarta, arena pasar rakyat ini telah menjadi arena wisata keluarga yang murah, meriah dan terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti Dunia Fantasi (Dufan) atau Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, Sekaten hanya memerlukan tiket masuk sebesar 3000 rupiah. Kalau mau datang lebih siang, kita bahkan bisa masuk ke arena Sekaten gratis sesuka hati. Wahana-wahana yang ditampilkan-pun tidak kalah menarik dan menyenangkan seperti yang bisa ditemui di Dufan ataupun TMII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bianglala dengan tarif 5000 rupiah untuk beberapa kali putaran, bom-bom car dengan tarif 6000 rupiah sekali permainan, komedi putar, rumah hantu, arena memancing bagi balita, juga tong setan dimana manusia-manusia bernyali mempertunjukkan keahliannya dengan motor. Tentu jika dibandingkan dengan Dufan, teknologi dan keamanannya lebih tradisional. Tetapi di sebuah pasar rakyat yang semangatnya adalah melulu kesederhanaan, tentu itu tidak menjadi soal, karena pada saat memasuki arena, semua percaya pada satu hal yang pasti, “bersenang-senang”. Para orang tua dengan balitanya, sama-sama berbagi tawa, dan ketika balitanya menangis, para orang tua pun akan berusaha sekuat tenaga menenangkan dengan membelikan bola-bola arum manis, atau sepotong es krim seharga 1000 rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar rakyat Sekaten, segala jenis manusia tumpah ruah. Ada remaja ABG yang sibuk mengobrak-abrik tumpukan baju di awul-awul (penjual baju bekas import). Ada kaum ibu yang sibuk membelanjakan pecahan 13.000 rupiah untuk mendapatkan dua buah perabot rumah tangga. Ada balita-balita yang berteriak-teriak gembira sambil melompat di atas trampolin atau berputar-putar di komedi putar. Ada sepasang muda-mudi yang tersipu-sipu ketika duduk berduaan di atas bianglala. Juga ada wisatawan asing serta domestik yang sibuk berpose di depan kamera sambil sesekali pandangannya menelisik ke seluruh atmosfir alun-alun utara yang pada malam hari menjadi begitu riuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang pernah tahu atau peduli, dari manakah atau dari kelas masyarakat apakah si ABG, pasangan muda-mudi, ibu-ibu atau para wisatawan itu. Yang jelas ketika mereka masuk ke dalam arena Sekaten, semua melebur menjadi rakyat biasa yang saat itu sedang berpesta juga berdialog dengan lingkungan sekitarnya. Semua seperti membagi senyum dengan begitu mudah dan murah, karena siapapun pasti akan bergembira melihat arena pasar malam atau layaknya disebut sebagai sebuah “taman bermain” besar yang hanya akan didapati setahun sekali di kota Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kemeriahan arena pasar rakyat itu, Sekaten memiliki berbagai rangkaian upacara budaya yang sudah mentradisi. Upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan Abdi Dalem yang membawa dua set gamelan, Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Gamelan Kyai Nogowilogo menempati sisi utara masjid Agung, sementara Gamelan Kyai Gunturmadu berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya, persis di hari ulang tahun Nabi Muhammad pada tanggal 12, dilangsungkan Grebeg Muludan. Sebuah Gunungan yang terbuat dari beras ketan, berbagai makanan, buah-buahan serta sayur-sayuran akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung untuk diberkati dan didoai. Setelah itu, Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram akan diperebutkan oleh masyarakat yang menghadiri upacara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai varian di dalam pasar malam itu, seperti menawarkan sebuah pesta meriah dimana, masing-masing saling berinteraksi dan berdialog baik dengan kata atau hanya dengan senyum dan pandangan mata. Dialog yang terjadi adalah dialog antar sesama warga kota tentang berbagi bersama ruang publik, dialog tentang sarana hiburan yang murah, mudah dan terjangkau, serta dialog tentang fungsi perniagaan bahwa si penjual butuh pemasukan, dan si pembeli butuh barang dan jasa. Sebuah dialog perniagaan yang tidak melulu bicara tentang si penjual yang diuntungkan dan si pembeli yang dikalahkan, karena barang-barang yang diperdagangkan adalah barang-barang khas rakyat yang harganya pun merakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Maghrib, saat warna langit Jogja sudah menjadi kelam, kerlap-kerlip di pasar Sekaten mulai benar-benar berpijar. Wahana-wahana permainan yang pada siangnya belum beroperasi, satu persatu mulai hidup. Pesta pun dimulai. Masyarakat pun siap berpartisipasi dalam sebuah dialog kerakyatan yang tidak melulu dengan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3343839091912165299?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3343839091912165299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3343839091912165299&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3343839091912165299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3343839091912165299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/dialog-pasar-rakyat.html' title='Dialog Pasar Rakyat'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dOtJKm5yIY0/TZ_oi68IXdI/AAAAAAAAAe8/bdyF2D9Pdec/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-2533224646078704797</id><published>2011-04-08T17:48:00.001+07:00</published><updated>2011-05-09T15:21:38.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Belajar Mencintai Manusia dan Kemanusiaannya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, melihat televisi akhir-akhir ini adalah sebuah aktifitas yang berujung pada rasa risau sekaligus penasaran. Ketika menekan remote control yang akan muncul di layar adalah sinetron tidak berisi, reality show tidak real atau berita-berita kekerasan yang sudah seperti infotainment, terus diulang dan dibalut berbagai komentar yang provokatif serta membuat panas kuping, juga hati. Walaupun demikian, seperti layaknya berita-berita selebritis, pada saat bersamaan tayangan-tayangan itu memunculkan rasa ingin tahu. Atau mungkin ungkapan yang lebih tepat, ‘mengusik perasaan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja pemberitaan yang masih segar di ingatan, yaitu penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Dusun Cikeusik, Banten, perusakan dan pembakaran Gereja di Temanggung, Jawa Tengah. Juga berbagai peristiwa kekerasan yang secara sporadis terjadi di negeri ini, seperti bentrok antar Satpol PP dengan sejumlah masyarakat di makam Mbah Priok, Jakarta Utara ataupun bentrok mahasiswa dengan aparat di Makasar. Selain gambar-gambar tidak menyenangkan yang terus diulang, berbagai diskusi, talk show serta narasi turut serta dimunculkan di seputar peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukan gambar-gambar kekerasan atau narasi-narasi itu yang paling membuat saya terusik. Fakta bahwa sekelompok manusia, yang katanya ber-Tuhan itu, secara terang-terangan telah membunuh kemanusiaannya sendiri saat melakukan berbagai tindak kekerasan tersebut. Misalnya, membunuh tiga anggota jamaah Ahmadiyah ataupun merusak serta membakar Gereja dengan mengatasnamakan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tumpul Kemanusiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdamai dengan kekerasan adalah salah satu cara untuk bisa bertahan hidup di negeri ini. Di negeri yang sedang berjuang mencari bentuk paling pas dari sistem pemerintahan serta bernegaranya. Pencarian bentuk yang sekarang memasuki tahap transisi, dimana dibutuhkan begitu banyak pengorbanan serta sikap biasa terhadap segala bentuk kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai bentuk kekerasan itu tidak hanya seputar masalah agama. Dalam banyak aspek kehidupan masyarakat di lingkup terkecil pun, kekerasan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa. Jika ada yang memberi cubitan, menyinggung perasaan atau hanya sekedar berbeda pendapat, kemarahan mudah sekali tersulut. Jika sudah tersulut, pihak yang sedang marah itu-pun merasa dibenarkan ketika melakukan tindakan merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, jika ada warga dari RT lain yang mengganggu kawan satu RT, maka solusinya adalah memobilisasi massa, membakar amarahnya lalu beramai-ramai melempar batu. Jika ada yang mencoba bersikap kritis dan mengekspresikan dalam bentuk tulisan atau sekedar ucapan, maka yang tersinggung merasa sah-sah saja memukuli orang itu. Dan jika ada yang punya keyakinan berbeda serta berusaha mengamini keyakinannya terhadap semesta, maka wajar saja untuk merasa terancam dan menghabisi orang-orang yang dianggap mengancam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk berdamai dengan kekerasan adalah pelan-pelan menumpulkan rasa kemanusiaan kita. Untuk menjadi tumpul, maka kita harus terus-menerus memborbardir diri melihat dan membiasakan diri dengan berbagai tindakan kekerasan. Ini rupanya yang sedang terjadi di negeri ini. Penumpulan hati nurani, penumpulan rasa kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara adalah salah satu agen yang bertanggung jawab terhadap penumpulan itu. Baik secara sadar ataupun tidak, negeri ini, lewat institusi negara, telah secara sistematis mengedukasi warganya untuk melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Telah sejak lama negara melakukan pembiaran terhadap berbagai penindasan yang dilakukan mayoritas terhadap minoritas. Premanisme tumbuh subur dimana-mana. Dan salah satu yang membuat warga negeri ini pelan-pelan lupa akan kemanusiaannya sendiri adalah adanya intervensi negara terhadap ruang-ruang privat warganya. Misalnya saja, negara turut campur dalam urusan keyakinan dan keagamaan seseorang hingga urusan kamar tidur. Intinya, sebagai warga negeri ini, kita harus mau menjadi manusia-manusia “lurus” dan kompromis. Jika kita mau megambil jalan berbeda, maka konsekuensinya dicap PKI, kafir atau imoral.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan Kemanusiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari kecil, anak negeri ini tidak pernah benar-benar diajari untuk menyadari kemanusiaannya. Yang melulu diajarkan adalah sebuah kebenaran absolut yang tidak bisa dibantah di dunia ini. Bahwa manusia akan menjadi sempurna ketika ia ber-Tuhan dan mencintai Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengatakan bahwa mencintai Tuhan adalah hal yang salah dan tidak perlu dilakukan. Tetapi sangat disayangkan jika cinta kepada Tuhan dimaknai begitu sempit. Sebuah pemaknaan banal bahwa ketika mencintai Tuhan, maka tindakan apapun benar dilakukan, sekalipun itu menyakiti orang lain. Padahal, “Tuhan tidak perlu dibela”, ucap Gus Dur suatu ketika. Dan saya pikir, Gus Dur ada benarnya, karena Tuhan Maha Kuasa, jadi untuk apa membela sesuatu yang sudah begitu berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan yang sempit tentang cinta kepada Tuhan, serta tidak terasahnya rasa kemanusiaan pada diri seseorang itu terjadi karena luputnya pendidikan tentang kemanusiaan dari kurikulum sekolah, juga dalam keluarga. Yang menjadi titik berat adalah pendidikan ilmu pasti serta diluar itu prioritasnya adalah pendidikan agama. Dalam pendidikan agama itu pun yang dibedah hanya agama yang dianut si murid, bukan penjabaran dan pembedahan berbagai agama yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, untuk menciptakan sebuah reproduksi makna yang luas, sedari kecil seseorang harus dibuka cakrawala berpikirnya. Pengetahuan tentang berbagai agama serta kepercayaan yang ada di Nusantara juga seluruh dunia. Tentang sejarah dan perkembangannya, juga tentang bagaimana setiap umat beragama dan kepercayaan memiliki ekspresi serta ritual yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengetahuan tentang agama-agama secara inklusif, sedari kecil rasa kemanusiaan juga harus diasah. Tentang kepekaan terhadap orang lain, sikap bertoleransi, mau menerima perbedaan, serta mau mendengar hati nurani. Pengetahuan bahwa seorang manusia tidak hidup sendiri di dunia juga harus terus ditanamkan. Pengertian akan hal ini akan membawa seseorang lebih menghargai sesama, alam dan semesta raya. Sebuah pemahaman dan pemaknaan akan hidup yang tidak melulu hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar Kemanusiaan Lewat Televisi    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat ini akan sulit menemukan sebuah sistem pendidikan yang benar-benar menanamkan nilai-nilai kemanusiaan pada diri seorang anak. Walau tidak berarti tidak ada sama sekali institusi pendidikan baik formal ataupun informal yang berusaha melakukan hal itu. Tetapi tentu itu tidak mayoritas di negeri ini. Yang perlu dicermati sekarang adalah, fakta bahwa selain dididik oleh lembaga formal seperti sekolah, masyarakat negeri ini praktis dididik oleh media massa, terutama televisi. Hampir setiap rumah tangga mampu mengakses media ini. Malah mungkin bisa dikatakan, tidak lengkap sebuah rumah tanpa kehadiran televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifatnya yang mudah, murah, dan menghibur, membuat televisi begitu terjangkau di tengah masyarakat negeri ini. Untuk melihat televisi, seseorang tidak memerlukan banyak aktifitas otak untuk berpikir juga fisik. Berbeda ketika harus membaca koran, majalah atau buku. Seseorang akan menjadi penonton pasif, karena ia tinggal duduk dan menekan tombol saluran. Dengan berbagai potensi ini, televisi menjadi salah satu media massa yang turut membentuk cara berpikir dan cara pandang masyarakat. Oleh karena itu, media televisi harusnya menyadari betapa besar tanggung jawab moral mereka untuk memproduksi program-program yang kritis dan edukatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tanggung jawab besar yang dipanggul oleh media televisi ini belum benar-benar disadari oleh banyak praktisi televisi. Kebanyakan acara-acara yang ditayangkan adalah, acara-acara ‘cepat saji’. Acara yang sifatnya hanya menghibur dan tidak bernutrisi ke otak dan rasa-rasa kemanusiaan kita. Bahkan banyak juga acara-acara yang sifatnya provokatif dan menciptakan narasi-narasi tidak menentramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga sudah saatnya, media televisi benar-benar sadar akan potensi dan tanggung jawab moral yang mengikutinya itu. Jangan melulu menyalahkan masyarakat, bahwa apa yang ditayangkan adalah apa yang diinginkan oleh masyarakat, “mengikuti selera pasar” ucap para praktisi televisi. Padahal, masyarakat hanya menerima apa yang sudah diberikan. Dan hampir semua stasiun televisi menayangkan acara-acara serupa, sehingga masyarakat tidak memiliki pilihan tontonan yang variatif. Jadi, rasanya tidak adil jika masyarakat negeri ini tidak pernah diberi asupan-asupan nutrisi baik ke kepala mereka, hanya karena media televisi tidak mau berepot-repot memproduksi acara yang edukatif dan menjadi teman belajar masyarakat tentang nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, jika media televisi beramai-ramai menyadari potensi serta tanggung jawabnya itu, masyarakat negeri ini memiliki alternatif pendidik selain lembaga formal. Dan dengan membombardir masyarakat, yang masih mencintai budaya-budaya visual ketimbang budaya literer, dengan berbagai tayangan yang tidak melulu repetitif, dramatis serta jauh dari kenyataan hidup sehari-hari, media televisi tentu dapat menjadi agen peubah di masyarakat. Sebuah masyarakat yang terdiri dari manusia-manusia seimbang, manusia yang mencintai Tuhan juga mencintai manusia dan seluruh aspek-aspek kemanusiaannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-2533224646078704797?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/2533224646078704797/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=2533224646078704797&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2533224646078704797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2533224646078704797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/04/belajar-mencintai-manusia-dan.html' title='Belajar Mencintai Manusia dan Kemanusiaannya'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7553839186969049213</id><published>2011-03-05T19:35:00.005+07:00</published><updated>2011-05-09T15:22:46.586+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>hujan barusan berhenti</title><content type='html'>Hari ini langit berwarna jingga. Sepertinya seluruh makhluk dan benda yang ada di permukaan bumi ini menjadi merah kekuningan.&lt;br /&gt;Aku sempat tergugah dengan pemandangan menakjubkan itu.&lt;br /&gt;Sebentar aku menghentikan kerjaku. Aku beranjak dari layar monitor dan bergegas ke luar, memandangi warna jingga di luar.&lt;br /&gt;Hujan yang barusan berhenti menciptakan sebuah keajaiban yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bukan bianglala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia memproyeksikan warna emas di ujung bianglala kepada seluruh bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*kadang kalau hujan datang, saya suka mendadak jadi sastrawan hujan..:p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7553839186969049213?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7553839186969049213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7553839186969049213&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7553839186969049213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7553839186969049213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/03/hujan-barusan-berhenti.html' title='hujan barusan berhenti'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-526678670307570103</id><published>2011-02-24T09:05:00.001+07:00</published><updated>2011-02-24T09:10:03.565+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>manusia terkutuk</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLUCIAD%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"Tw Cen MT"; 	panose-1:2 11 6 2 2 1 4 2 6 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:Verdana; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:SQ; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SQ"&gt;“...dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya” (pram, jejak langkah, 2, hasta mitra),&lt;br /&gt;Lalu apakah saya sudah menjadi modern, karena masih tidak bisa melepaskan diri dari kejawaan saya, juga kompromi terhadap dunia ini. Ah tampaknya saya belum jadi manusia “yang dikutuk” &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SQ"&gt;itu &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SQ"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SQ"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-526678670307570103?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/526678670307570103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=526678670307570103&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/526678670307570103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/526678670307570103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/02/manusia-terkutuk.html' title='manusia terkutuk'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3920097502609796936</id><published>2011-01-25T18:38:00.001+07:00</published><updated>2011-01-25T18:45:18.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>phalusentris</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLUCIAD%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Tw Cen MT"; 	panose-1:2 11 6 2 2 1 4 2 6 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;} @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:Verdana; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:SQ; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;&lt;/style&gt;hari ini saya sangat marah,&lt;br /&gt;karena saya baru tahu bahwa Rama tidak pernah mencintai Sinta&lt;br /&gt;Rama hanya tahu kalau Sinta adalah seorang pengabdi&lt;br /&gt;satu-satunya orang yang akan menceburkan diri ke api untuk sang "Sri"&lt;br /&gt;untuk mengenyangkan ego phalusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3920097502609796936?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3920097502609796936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3920097502609796936&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3920097502609796936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3920097502609796936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/phalusentris.html' title='phalusentris'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-6555712047808000066</id><published>2011-01-24T22:17:00.002+07:00</published><updated>2011-01-25T18:37:34.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>in the name of love</title><content type='html'>saya adalah manusia dengan banyak mimpi sederhana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ini cuma mau hidup bahagia, wajar-wajar saja seperti orang kebanyakan.&lt;br /&gt;Saya cuma mau punya ruang (entah ini disebut apa, rumah, kamar atau kotak) dimana saya merasa nyaman, setiap hari tersenyum lebar, sambil tertawa keras-keras, bisa ngobrol ngalor ngidul dengan orang yang saya kasihi (kawan, sahabat, saudara, orang tua, ataupun pacar).&lt;br /&gt;Saya cuma pingin bisa minum teh hangat setiap hari, sambil makan pisang goreng kegemaran saya tanpa merasa harus was-was kalau-kalau minyak gorengnya kena racun plastik atau racun-racun lainnya yang bisa menyebabkan berbagai penyakit memusingkan seperti kanker, tumor atau penyakit gila.&lt;br /&gt;Saya cuma ingin bisa mengenderai sepeda mini saya sambil berputar-putar di jalan raya tanpa harus disembur knalpot biskota atau diserang klakson motor juga mobil yang menganggap sepeda sebagai penyakit.&lt;br /&gt;Saya cuma ingin mendengarkan doa-doa yang dinyanyikan dari dalam masjid, gereja, klenteng, kuil, hutan, pinggir jalan, sisi-sisi bantaran kali, dengan hati sukaria tanpa ada yang mengganggapnya sebagai sesat atau tak sesuai dogma.&lt;br /&gt;Saya cuma ingin menari, berlari bertelanjang kaki sambil berteriak-teriak '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in the name of love....&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya cuma manusia wajar yang punya mimpi sama seperti manusia kebanyakan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-6555712047808000066?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/6555712047808000066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=6555712047808000066&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6555712047808000066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6555712047808000066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/in-name-of-love.html' title='in the name of love'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7993612249032489686</id><published>2011-01-22T04:04:00.001+07:00</published><updated>2011-05-09T15:24:37.596+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Aku  ini Seorang Pecandu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:"Arial Unicode MS"; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} @font-face 	{font-family:"\@Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:Batang; 	mso-bidi-font-family:"Arial Unicode MS";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku adalah seorang pekerja tetap pada sebuah perusaahaan nasional yang memproduksi sampah. Sampah-sampah berita yang hanya akan dilirik, sedikit dibaca lalu dibuang atau jika beruntung dijadikan pembungkus kacang goreng. Mataku baru terpejam, ketika matahari hampir terbit di ufuk timur dan mulai terbukakembali ketika matahari telah mulai benar-benar terbit. Lingkaran hitam di bawah mataku tak juga bisa kusamarkan dengan berbagai produk kecantikan murahan hingga berharga ratusan ribu rupiah. Aku lelah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Aku menyaksikan berbagai peristiwa dengan mataku yang sudah minus berlipat-lipat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Berbagai peristiwa yang ketika itu – saat pertama kali kutercebur dalam pekerjaan ini – bisa membuatku tersenyum, tertawa terbahak, menangis, dan bahkan sampai muntah. Mungkin jika kau ada di tempat peristiwa itu berlangsung, taruhan kau akan merasakan dan melakukan hal yang persis sama dengan ku. Ketika itu aku hanya bisa melihat, sedikit bertanya dan maksimal menuliskannya pada notebook kecil berlogo perusahaanku atau merekamnya dalam sebuah tape recorder usang pinjaman. Jika peristiwa itu cukup sensasional atau mampu membuat segelintir orang gatal-gatal ketika membacanya, maka hasil rekamanku itu akan muncul pada headline atau pada kolom kecil di sisi kanan produk berita perusahaanku itu. Tetapi jika peristiwa itu cuma bisa membuatku seorang diri, dan hanya aku seorang diri, meringis, maka rekaman peristiwaku hanya akan mampir di meja editor dan akhirnya masuk ke kantong sampah di bawah mejanya yang angker itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Kini aku memiliki topeng. Topeng dari besi baja yang bisa melindungi wajah dan mataku dari perasaan-perasaan yang bisa membuatku menjadi terlalu manusiawi. Topeng yang terbentuk dan semakin lama semakin tebal karena waktu. Waktu yang membuatku belajar dan mendikteku bahwa aku harus patuh pada sesuatu, atau seseorang yang memilikiku karena ia membayarku dan pelan-pelan menjadikanku sebagai robot. Seseorang yang telah dengan sadar membayari segala kebutuhan bulananku, rekening listrik, tagihan telepon, juga makananku tiap hari. Seseorang yang sudah menguasaiku, dan mau tidak mau harus kupatuhi. Patuh pada aturannya, patuh pada apa yang ia mau dan akhirnya patuh menjadi seperti orang itu. Orang yang adalah sebuah struktur dan akhirnya secara tidak sadar telah menjadi bagian dari sistem hidupku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Maka kini, peristiwa-peristiwa itu tidak lagi mengerikan, tidak lagi menyenangkan, tidak lagi membuatku sedih dan tidak lagi membuatku muntah. Kini aku hanyalah seorang robot, yang berjalan dengan sangat mekanis, melihat secara mekanis dan berpikir secara mekanis pula. Aku adalah seorang robot. Robot kekuasaan yang membuatku kehilangan kesejatianku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Aku hanya ingin tidur sejenak dan terbangun ketika aku sudah lepas dari struktur yang membelengguku. Saat dimana aku sebagai individu benar-benar otonom, tidak dikuasai orang lain. Dalam tidur-tidur malamku, aku memimpikan sebuah momen dimana aku bisa melepaskan diri dari keterasinganku. Keterasingan terhadap diriku sendiri, sebuah keterasingan yang membuatku merasa hanya sebagai sebuah benda di tengah benda-benda atau imaji-imaji yang kuciptakan. Dan bahkan saat ini untuk bisa berhubungan dengan diriku sendiri, aku amat tergantung pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hal-hal yang kuciptakan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Saat kubermimpi aku ingin berteriak kepada hantu Marx yang telah memuntahkan soal teori pembebasan saat hidupnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ingin berteriak soal penipuan. Bahwa ia telah berbohong dan telah menyumpalkan pikiran-pikiran surganya kepada manusia-manusia tak berdaya seperti diriku. Seorang manusia yang hanya bisa berteriak kritis dalam otaknya dan memberontak dalam pikirnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Dalam mimpi panjangku itu pun, aku telah bertemu tuhan. Tuhan berambut gondrong berjenggot lebat, seperti yang tergambar secara dogmatis dalam agama yang semenjak kecil sudah tersosialisasi di kepalaku. Aku ingin mengadu, karena aku lelah. Tetapi ketika kudekati, ternyata yang seperti tuhan itu bukan lelaki, ia juga tidak berjenggot, dan makin kudekati, makin terlihat bahwa gambaran tuhan itu adalah diriku sendiri. Seperti yang dikatakan Feurbach seorang filsuf Jerman, bahwa “manusia menciptakan Allah menurut citranya sendiri”, dan persis seperti itulah yang terjadi dalam mimpiku. Ternyata setelah tuhan menjadi kepercayaan dalam agama, ia merampas, membuat manusia, membuat aku, terasing dan akhirnya menguasaiku, menguasai manusia. Buktinya, bahkan dalam mimpiku ini, aku tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang akan tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Bagaimana mungkin, seorang robot milik kekuasaan ini bisa benar-benar bahagia. Saat mimpi panjangku itu pun aku menemukan diriku berjalan di sebuah trotoar kota. Di situ aku melihat seorang gila mengangkang terbahak dalam pakaian rombengnya. Aku iri. Aku sungguh iri karena ia bisa tertawa terbahak tanpa harus mengenakan topeng besinya. Ia tertawa dengan sangat jujur, dan teramat bahagia. Tidak ada yang harus ia lupakan, tidak ada yang harus ia ingat pula. Tidak ada yang harus ia patuhi dan tidak ada yang harus ia gantungi. Karena ia bebas merdeka dalam kepalanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Mungkin, utopia-utopia yang sudah disumpalkan oleh si hantu Marx itu yang harus benar-benar diwujudkan agar aku dan manusia-manusia lainnya bisa tertawa terbahak dengan jujur. Seperti kata Engels, sudah saatnya manusia bersifat antroposentris. Sudah saatnya manusia benar-benar melihat kepada dirinya sendiri, mengaktualisasikan dirinya sendiri, membebaskan dari imaji-imaji dan benda-benda yang ia ciptakan, yang diciptakan oleh struktur, oleh sistem. Sudah saatnya aku menciptakan sejarah, bukan didikte oleh sejarah. Sudah saatnya aku menjadi otonom, dimana aku bebas untuk menentukan pilihan atas berbagai alternatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Ya !!!, aku akan menjadi individu yang seperti kata Gabriel Marcel bukan melawan sejarah, tetapi aku akan menjadi individu yang justru membuat sejarah. Karena saat membuat sejarah, berarti aku sudah bebas. Karena aku bukanlah alat yang buta yang digunakan oleh suatu kekuatan yang mengatasiku. Aku adalah pencipta sejarah. Bukan hanya karena aku menciptakan dengan tindakanku, melainkan terutama karena aku bertindak secara sadar, melakukan perhitungan serta menentukan pilihan dari berbagai kemungkinan yang ada. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ya !!! aku akan melepaskan topeng besiku dan mulai berteriak kepada seseorang di dalam struktur yang selama ini mengatasiku, bahwa aku akan berhenti dan membebaskan diri dari keterasinganku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Ahhhhh, tunggu dulu, saat ini aku masih bermimpi dalam tidur panjangku. Dan entah saat bangun nanti, mungkin aku akan melupakan semuanya dan kembali bangun di saat fajar telah benar-benar terbit, lalu kembali menjadi seorang robot, karena mungkin saja sebenarnya aku sudah kecanduan. Kecanduan dengan ketidakbebasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber bacaan : &lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-style: italic;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wardaya, Baskara T. &lt;/span&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;Marx Muda : Marxisme Berwajah Manusiawi&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. Yogyakarta : Buku Baik,  2003.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 285pt; text-indent: -249pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7993612249032489686?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7993612249032489686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7993612249032489686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7993612249032489686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7993612249032489686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/aku-ini-seorang-pecandu.html' title='Aku  ini Seorang Pecandu'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3502576560429323812</id><published>2011-01-22T03:53:00.004+07:00</published><updated>2011-05-09T15:12:36.346+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Islam dan Gender ‘Antara’</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, agama yang menebarkan rahmat bagi alam semesta. Alam semesta yang begitu kaya ragam isi dengan berbagai makhluk yang menghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah sebuah penghidupan, penghiburan dan sumber energi bagi banyak orang yang memaklumi dan mengamininya. Ia tidak ingin mengkotak-kotakan manusia dalam lubang-lubang yang berlabel, ia ingin merengkuh siapa saja, merangkul siapa saja apapun orientasi pikir, ideologi ataupun seksualitasnya. Islam adalah afirmasi bagi keragaman, ia tidak melihat manusia secara banal, ia melihat manusia secara esensial, bukan dari topeng-topeng lahiriahnya. Dalam QS. al-Hujurat, 49:13 disabdakan bawah ukuran kemuliaan seorang manusia di hadapan Allah swt, adalah prestasi dan kualitas takwa, tanpa membedakan jenis kelamin, bahkan tanpa menghiraukan orientasi seksualnya. Manusia berjenis kelamin perempuan, manusia berjenis kelamin laki-laki serta manusia berjenis kelamin “antara” sama-sama berpotensi untuk menjadi manusia yang paling bertakwa. Al-Qur’an tidak memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu. Semua manusia tanpa dibedakan jenis kelaminnya mempunyai potensi yang sama untuk menjadi ‘abid (hamba yang saleh) dan khalifah (pemimpin) (QS. al-Nisa’, 4:124 dan S. al-Nahl, 16:97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah serta berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini mencatat, bahwa manusia tidak hanya tercipta ke dalam dua jenis kelamin, perempuan dan laki-laki. Ada jenis ‘antara’  yang secara gradasi memiliki berbagai jenis berbeda. Menurut James Danandjaja, seorang guru besar Antropologi Universitas Indonesia, jenis ‘antara’ yang juga dikenal sebagai kaum homoseksual, dalam masyarakat kita sering dirancukan dengan istilah waria (untuk mereka yang secara fisik laki-laki). Istilah ini kemudian seringkali dijadikan istilah umum bagi kaum homoseksual. Dalam kenyataannya, untuk jenis ‘antara’ (terutama yang secara fisik laki-laki), terdapat berbagai keragaman yang kemudian dibahasakan dalam berbagai istilah, seperti banci (hermaprhodite), transvestite, transexsual, gay serta lesbian. Transvestite adalah kaum homoseksual yang gemar memakai pakaian dan perhiasan tubuh perempuan serta berdandan seperti perempuan. Ketika berdandan seperti perempuan, para transvestite ini akan mengadopsi gaya gerak tubuh lawan seksnya (perempuan). Sedangkan transsexsual adalah kaum homoseksual yang mengubah bentuk tubuhnya dengan operasi plastik atau menyuntikkan hormon-hormon seks dari lawan jenis kelamin. Mereka melakukan itu agar bentuk tubuhnya dapat menjadi serupa dengan lawan jenis mereka. Dan jenis homoseksual yang lain adalah gay (bagi laki-laki) dan lesbian (bagi perempuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gay atau lesbian  memiliki orientasi seksual terhadap sesama jenis kelaminnya. Organ reproduksi mereka pun normal, berpenis untuk yang lelaki dan bervagina untuk yang perempuan, dan jika terjadi penetrasi dengan lawan jenisnya maka mereka tetap bisa menghasilkan keturunan. Salah satu tokoh yang paling terkenal di dunia adalah raja Macedonia yang gemar menaklukkan bangsa-bangsa lain yaitu Iskandar Zulkarnaen (Alexander the Great) yang seluruh jenderal-jenderalnya adalah kaum gay yang begitu tangguh dalam berbagai pertempuran. Selain itu, juga terdapat kaum biseksual yang orientasi seksualnya adalah pada kedua jenis kelamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai klasifikasi yang begitu beraneka itu adalah sebuah keragaman yang secara faktual hidup dan menjadi bagian dari kisah serta sejarah manusia hingga saat ini. Mungkin pada masa Iskandar Zulkarnaen, klasifikasi kebahasaan itu tidak teramat kompleks dan beragam seperti yang sudah disebutkan, tetapi sudah menjadi fakta bahwa fenomena gender ‘antara’ adalah hal yang nyata dan ada di masyarakat kita. Ini adalah hal yang “given” yang sudah kodrati. Seperti halnya realitas yang tidak melulu hitam putih tetapi selalu ada ranah abu-abu atau ranah antara. Islam pun mampu memahami realitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Siti Musdah Mulia, dosen program pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah yang juga seorang aktivis Islam liberal, dalam bahasa fikih, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), maupun biseksual adalah kodrati, sesuatu yang sifatnya “given” atau disebut sunatullah. Sementara, perilaku seksual bersifat konstruksi manusia. Sesuatu yang bisa diubah dan berubah. Memang betul ada teks hadis Nabi yang mengharamkan perempuan ‘mendatangi’ perempuan atau sebaliknya laki-laki ‘mendatangi’ laki-laki dan memandang perilaku tersebut sebagai perbuatan zina dan hukumnya boleh dibunuh. Pengharaman ini juga disandarkan pada ayat-ayat yang bercerita tentang Nabi Luth dan umatnya yang dikenal memperaktekkan sodomi (liwath). Tetapi menurut Musdah, yang dilarang adalah lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pemahaman yang dimahfumi oleh sejumlah komunitas homoseksual yang merasa dan tetap berpegang teguh pada iman keIslaman mereka. Diantaranya adalah komunitas pesantren Senin-Kamis waria yang ada di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Mariyani. Seorang manusia bergender antara yang telah dan merasa menjadi perempuan serta seorang ibu dari seorang anak perempuan bernama Riski.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pesantren waria itu, contoh komunitas lainnya adalah komunitas Bissu yang sejatinya adalah pendeta agama Bugis kuno pra Islam. Bissu dan tradisi transvestite di tanah Bugis memiliki sejarah yang amat panjang. Mereka sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Naskah La Galigo banyak mengungkap tentang keberadaan Bissu dalam budaya Bugis, yang konon sebagai pendamping dan pelengkap kedatangan para tokoh utama langit atau dari pertala bumi. Bissu juga merupakan penasehat raja beserta seluruh keluarganya yang berfungsi mengabdi dan menjaga Arajang yang merupakan benda pusaka keramat. Para Bissu ini diketuai oleh seseorang yang bergelar Puang Matowa atau Puang Towa. Ia adalah seorang figur feminin dengan wajah licin seperti seorang kasim. Bissu berasal dari kata Bugis “mabessi” yang berarti bersih. Mereka disebut demikian karena dianggap suci (tidak kotor), tidak memiliki payudara, serta tidak haid. Identitas seksual para Bissu inilah yang sering menjadi kontroversi di kalangan masyarakat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bissu, bukan laki-laki dan bukan perempuan adalah identitas yang sangat jelas. Bahkan bagi mereka, identitas itu merupakan pemberian Tuhan sehingga bersifat kodrati. Oleh karena itu amat dimaklumi jika terdapat pro dan kontra di kalangan masyarakat akan keberadaan komunitas Bissu ini, apalagi di tengah masyarakat yang masih mengganggap yang normal itu adalah yang berorientasi hetero dan tidak berpenampilan seperti lawan jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, selain di Bone dan Sigeri, komunitas Bissu juga terdapat di beberapa tempat di Sulawesi Selatan, di antaranya di Soppeng, Luwu dan Polywali. Walaupun demikian, saat ini masa-masa kejayaan Bissu tampaknya sudah berakhir. Diperkirakan sekitar abad ke-17 sampai abad ke-18, Bissu mengalami masa kejayaannya. Saat itu mereka menjadi ahli spiritual kerajaan yang sangat dihormati, semua Arajang saat itu ada di bawah pengawasan dan pemeliharaan mereka. Tetapi karena pengaruh Islam yang masuk ke Sulawesi Selatan semakin kuat, maka lama kelamaan, Bissu mengalami masa-masa yang pahit akibat dicerca dan diskriminasi dari kalangan Islam. Hingga akhirnya kini, komunitas Bissu telah beradaptasi dan melebur dalam kultur lokal yang begitu kuat menggempur, yaitu kultur keIslaman. Mereka telah menjadi Islam dan berhasil memadukan berbagai tradisi ritual Bugis kuno itu dengan ritus-ritus Islam yang bersumber dari Al Quran. Bagi para kaum Bissu ini, Islam yang mereka maknai secara personal itu, kini dianggap mampu mengakomodir hidup dan kebutuhan spiritual mereka sebagai seorang manusia Bissu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi menarik adalah, mengapa Islam bisa jadi begitu personal dan akomodatif bagi para kaum waria di Jogja yang merasa menemukan penebusan dengan belajar melafalkan Al Quran tiap Senin dan Kamis, juga bagi kaum Bissu di Bugis yang merasa ketika mereka menggirik atau menari dan melafalkan melulu nama Allah dengan gerakan lentik jemari, mereka telah merasa bebas lepas menembus yang transenden sehingga bisa sampai pada titik trance atau ranah ketidaksadarannya. Sementara di kutub bertentangan, sejumlah pemeluk Islam lainnya yang juga menemukan pembebasan dalam Islam, memaknai bahwa komunitas waria dan Bissu itu telah mencedrai Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, inilah yang kemudian selalu menjadi pertanyaan reflektif bagi saya, sebuah kontroversi wacana yang melulu diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;referensi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;James Danandjaja, Homoseksual atawa Heteroseksual?, Srinthil edisi 05 2003, Menggugat Maskulinitas dan Feminitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bisri Effendi dan Ijhal Thamaona, Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas,  Srinthil edisi 05 2003, Menggugat Maskulinitas dan Feminitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3502576560429323812?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3502576560429323812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3502576560429323812&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3502576560429323812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3502576560429323812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/islam-dan-gender-antara.html' title='Islam dan Gender ‘Antara’'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-4329844492442647348</id><published>2011-01-22T03:45:00.003+07:00</published><updated>2011-01-22T03:50:30.296+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Catatan Perjalanan Orang Kota soal Ladang Orang Rimba</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Sebelumnya saya tidak pernah tahu benar-benar soal ladang, berladang ataupun membuka ladang. Jika ditanya mengenai hal itu saya cuma bisa membayangkan tentang hamparan tanah luas yang ditumbuhi berbagai tanaman seperti singkong ataupun jagung. Lalu ada gambaran romantis tentang seorang petani yang mencangkul tanah atau sedang beristirahat di pinggir ladang sambil mengipas-ngipaskan topi kerucutnya untuk mengusir lalat-lalat iseng yang bermain di sekitaran wajahnya. Sebuah gambaran sangat biasa dan bisa dilihat dalam layar-layar kaca atau sejumlah buku pelajaran yang pernah saya dapatkan dari semenjak sekolah dasar hingga saya menamatkan sekolah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Kemudian gambaran itu segera berubah ketika dalam sebuah waktu yang sungguh beruntung, saya memiliki kesempatan untuk pergi ke tempat yang sebelumnya tidak terbayangkan sama sekali di kepala saya. Ketika itu, untuk beberapa lama saya berkesempatan bekerja pada sebuah lembaga yang wilayah kerjanya berada dalam kawasan Taman Nasional Bukit 12, Jambi. Di situ saya harus bertugas sebagai seorang fasilitator yang khusus mendampingi masyarakat yang menjadi salah satu kelompok etnis minoritas di Indonesia. Mereka adalah Orang Rimba atau terkenal dengan sebutan Suku Anak Dalam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Gambaran ladang yang selama dua puluh tahun menempel di kepala saya tiba-tiba lenyap, ketika saya melihat secara langsung sebuah pohon setinggi gedung tingkat dua harus dirobohkan saat sebuah ladang dalam proses pembukaan. Tidak ada cangkul, juga tidak ada seorang petani bertopi kerucut, yang ada hanyalah hamparan hutan berpohon-pohon besar yang siap dirobohkan dan dibakar agar dapat ditanami dengan padi ladang, singkong ataupun karet. Sejumlah ritual yang selama ini belum pernah saya tahu atau dengar keberadaannyapun muncul di depan mata saya. Sungguh berbagai pengetahuan yang belum pernah saya alami itu amat memperkaya saya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Tidak lama memang, hanya sekitar setengah tahun saya mendampingi mereka. Dan pengalaman yang berisi sebagian “gaya” Orang Rimba membuka ladang di kawasan Taman Nasional Bukit 12 Jambi itulah yang mengisi sejumlah catatan perjalanan pribadi yang berikut akan saya bagikan kepada Anda semua. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan perjalanan ini bermula ketika saya berada di tengah-tengah mereka dalam sebuah proses pembukaan ladang. Ketika itu sejumlah lelaki rimba yang berada dalam satu rombong (kelompok) sedang sibuk bekerja mempersiapkan lokasi yang bakal menjadi tumpuan hidup mereka ke depan. Dengan hanya bercawat (kain yang dililit di sekitar pinggang dan pangkal paha guna menutupi daerah kemaluan) dan bertelanjang dada, kelompok Orang Rimba yang berada di kawasan Taman Nasional Bukit 12 ini sejenak meninggalkan perburuan babi hutan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berburu, berladang bagi Orang Rimba adalah salah satu strategi untuk bertahan hidup. Bertahan dari rasa lapar, juga bertahan dari gempuran modernitas. Karena dengan berladang, kebutuhan primer akan pangan dapat dipenuhi serta eksistensi mereka sebagai masyarakat Rimba dengan salah satu ciri khasnya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup dapat tetap lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini Orang Rimba masih tetap mempertahankan pola hidup nomaden yang berimplikasi pada pola perladangan mereka yang berpindah juga. Tak banyak jenis tanaman yang dibudidayakan oleh Orang Rimba, diantaranya karet dan tanaman muda seperti cabai maupun ubi. Biasanya setelah masa 2-3 tahun, ladang akan menjadi kebun karet. Tetapi, tidak melulu seluruh rombong Orang Rimba melakukan pola penanaman seperti itu, ada beberapa rombong yang menjadikan ladang mereka sebagai ladang padi sebelum dijadikan sebagai kebun karet. Perbedaan ini hanya terletak pada proses awal penanaman tanaman muda saja. Ada sejumlah rombong yang sengaja menanami ladangnya dengan padi namun ada juga yang langsung ditanami dengan karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Orang Rimba, bertanam ladang padi, tidak hanya sekedar tindakan bercocok tanam tetapi juga memiliki maksud dan makna di dalamnya. Karena bagi Orang Rimba, berladang adalah masalah yang juga sifatnya vertikal. Ada hubungan yang harus dijaga antara Sang Pemberi Hidup juga antara masyarakat sekitarnya. Sebuah kesadaran akan harmonisasi yang harus terus dijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan harmonisasi itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih lokasi perladangan. Ternyata Orang Rimba tidak asal saja memilih lokasi perladangan. Selain masalah kesuburan, tanah berbukit juga akan dihindari, karena bagi mereka berbukit identik dengan tanah bersetan. Begitu juga dengan tanah tebing yaitu tanah yang berada di bawah tebing tinggi, lokasi pasaron (tanah pekuburan), dan  tanah peranakon (tempat untuk kegiatan bersalin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah menemukan lokasi yang pas, tahap selanjutnya adalah melakukan pembukaan ladang yaitu dengan nyimas atau manca untuk membersihkan lokasi dari tanaman-tanaman yang masih kecil. Setelah bersih dari berbagai tanaman kecil, pohon-pohon besar yang ada di lokasi itu akan ditebang (ditumbang). Penebangan pohon ini bisa dilakukan secara tradisional maupun dengan cara modern. Cara tradisional biasanya menggunakan kapak, sedangkan yang lebih modern adalah dengan menggunakan gergaji mesin. Kini karena alasan efektifitas dan kecepatan banyak Orang Rimba yang lebih memilih gergaji mesin atau chainsaw. Walaupun harus meminjam atau membelinya dari orang desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seluruh pohon besar sudah habis ditebang, proses selanjutnya yang juga amat melelahkan adalah pembakaran ladang. Ketika ini terjadi, saya lebih memilih jauh-jauh dari lokasi ladang. Karena proses yang dilakukan ketika terik matahari benar-benar menyengat itu adalah proses yang bagi saya sungguh membakar kulit. Orang rimba menyebut proses ini sebagai manggang ladang atau bekor ladang. Untuk menghadirkan api dan angin agar proses pembakaran berjalan sukses dan lebih cepat, mereka melakukan ritual khusus untuk memanggil dewa angin dan dewa matahari. Ritual diawali ketika seorang dukun mulai memanjatkan doa kepada bahelo (sebutan untuk yang Maha, sesuatu yang abstrak, tak terjangkau, dalam logika umum dan kesadaran masyarakat umum bahelo bisa menjadi sebutan untuk Tuhan, tetapi bukan Tuhan) untuk mengundang dewa angin dan dewa matahari agar datang ke lokasi ladang dan menghembuskan panas dan anginnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembakaran tidak dilakukan sendirian. Sejumlah lelaki dari rombong yang sama, masing-masing akan membawa buluh dengan kain diujungnya, yang kemudian diisi dengan minyak tanah untuk disulut dengan api. Setelah obor dari buluh menyala, para lelaki itu akan datang dari sudut-sudut ladang dan mulai membakar pohon-pohon besar yang sudah tumbang. Ketika melakukan pembakaran ladang, para lelaki tersebut sudah tahu benar fungsi serta posisinya di sekitaran lokasi ladang. Karena jika tidak, resiko untuk terkepung api sangat besar. Selain itu sejumlah pantangan juga harus ditaati bukan hanya oleh si pembakar ladang tetapi juga oleh Orang Rimba lain yang berada dalam satu rombong. Pantangan-pantangan itu antara lain, selama waktu pembakaran, Orang Rimba lain tidak boleh berteriak atau berbicara dengan suara keras dan memberikan komentar terhadap proses pembakaran. Juga dilarang pergi untuk mengambil air maupun untuk mandi. Jika pantangan ini dilanggar maka akibatnya adalah pembakaran ladang tidak akan berhasil dengan sempurna. Akhirnya setelah proses pembakaran yang berlangsung lebih kurang satu hari itu berjalan dengan sempurna, lokasi ladang itu pun siap ditanami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, si orang kota yang hanya melihat dari jauh pembukaan ladang Orang Rimba, proses itu cukup melelahkan sekaligus melegakan. Saat itu saya bisa melihat wajah-wajah puas dan senyum lebar dari mereka semua. Salah seorang yang turut membuka ladang itu, adalah Ejam, seorang bujang rimba dengan muka ramah. Ejam tampak tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang sudah habis karena kebanyakan mengkonsumsi gula. Sambil tertawa lebar Ejam berkata “Eeee, semoga ladang ini subur dan memberikan banyak hasil”. Si orang kota ini pun turut tersenyum sambil mengamini pemuda rimba yang tinggal di Makekal Tengah, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, propinsi Jambi itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-4329844492442647348?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/4329844492442647348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=4329844492442647348&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4329844492442647348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4329844492442647348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/catatan-perjalanan-orang-kota-soal.html' title='Catatan Perjalanan Orang Kota soal Ladang Orang Rimba'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-1030242527024011436</id><published>2011-01-22T03:29:00.004+07:00</published><updated>2011-06-01T08:18:10.958+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>ende 1934, sebuah memoar yang terlupakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika saja Ende tidak pernah menjadi tempat ber”samadi” Soekarno, mungkin saja Pancasila yang menjadi dasar negara republik ini tidak pernah akan tercipta. Di pulau bunga pada periode 1934-1938 itulah masa samadi panjang Soekarno, seorang lelaki yang dilahirkan ketika fajar menyingsing di ufuk timur Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode empat tahun itulah Soekarno, yang dianggap sebagai seorang yang amat berbahaya bagi stabilitas otoritas saat itu, dibuang dan diasingkan dari dunia yang selama ini ia kenal. Dunia yang dianggap dapat membuatnya menjadi lebih liar dan lebih revolusioner. Ende dianggap oleh pemerintah kolonial yang berkuasa sebagai tempat paling pas untuk memenjara segala daya kreatifitas dan pikiran-pikiran “gila” Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa pembuangan Putra Sang Fajar yang akhirnya menjadi semacam persamadian panjang Soekarno dimulai ketika KM van Riebeeck membuang sauh di Pelabuhan Ende. Walaupun pengasingan adalah suatu yang tidak lagi baru bagi lelaki muda ini, tetapi merapatnya KM van Riebeeck ke kota kecil di pesisir selatan pulau Flores itu seperti sebuah pukulan psikologis bagi Soekarno. Bersama dengan keluarga kecilnya yaitu istrinya Inggit Garnasi, mertuanya Ibu Amsi serta anak angkatnya Ratna Juami, Soekarno benar-benar dialienasi dari berbagai sarana informasi dan kemudahan dunia luar. Tidak ada telepon ataupun telegram. Satu-satunya cara berhubungan dengan dunia luar ialah dengan memanfaatkan dua kapal pos yang singgah di Ende sekali sebulan. Orang-orang terpandang dan berkuasa di Ende pun tidak berani mendekati Soekarno. Soekarno telah menjadi eksternir atau orang buangan yang oleh pemerintah Belanda dicap layak dijauhi. Yang berani mendekatinya hanya para mata-mata yang ditugasi mengintai berbagai gerak-gerik Soekarno. Sungguh sebuah kondisi yang menggambarkan ketakutan Belanda terhadap lelaki muda ini. Sebuah ketakutan yang sangat beralasan, karena dari berbagai sejarah pengasingan, tujuan Belanda untuk membuat Soekarno “lumpuh” tidak pernah berhasil. Pikiran merdekanya yang tidak bisa dihalangi tembok, gunung ataupun laut tetap membuat pemuda yang begitu mencintai seni ini tak terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kayu sederhana yang menjadi tempat bernaung Soekarno dan keluarga selama empat tahun di Ende, telah menjadi saksi bisu bagaimana Soekarno tetap bebas merdeka walau terpenjara dalam kesunyian. Rumah tidak bernomor yang sebelumnya adalah milik Haji Abdullah Ambuwaru yang masih keturunan bangsawan Ende itu berada di kampung Ambugaga Kelurahan Kota Ratu Ende. Kehadirannya sangat tidak mencolok dan hidup harmonis di tengah rumah penduduk Ende yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan ataupun petani. Suasana sunyi senyap menjadi aura sehari-sehari yang melingkupi tempat tinggal Soekarno. Laut, gunung, bukit dan lembah disekeliling Kota Ende telah menjadi benteng-benteng kuat untuk memenjara sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi seorang bakal pemimpin Indonesia yang penuh dengan sisi melankolis dan romantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi-sisi humanisnya itulah yang tetap membuat Soekarno menjadi seorang manusia utuh. Ia tetap hidup dan malah menjadi semacam magnet bagi banyak orang di kota kecil yang sebelumnya tidak mengenal lelaki bersenyum simpatik itu. Ketika itu memang kawan-kawan akrab Soekarno tidak berasal dari kalangan penguasa setempat. Banyak para penguasa setempat juga sejumlah orang terpandang di Ende menjauhi Soekarno. Mereka takut Belanda akan memberikan cap buruk sehingga banyak kemudahan yang akan dicabut. Oleh karena itu, ketika pertama kali datang dan beradaptasi dengan Ende, Soekarno benar-benar sendiri, tidak ada kawan diskusi yang sejajar tingkat intelektualitasnya. Kawan bersenda gurau pun amat terbatas,  hanya keluarga kecilnya yang menjadi teman. Tetapi Soekarno bukanlah seorang yang mudah patah arang dan menenggelamkan diri dalam kemalangan. Ia pun memutuskan untuk memberontak. Memberontak terhadap kesunyian dan tidak membiarkan pemerintah kolonial melumpuhkannya. Terutama melumpuhkan semangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno pun akhirnya berusaha meleburkan diri ke dalam dinamika lokal setempat.  Ia kerap mengunjungi penduduk yang kebanyakan tidak seterpelajar dirinya. Ditengah kawan-kawan barunya itu, Soekarno menemukan keakraban serta pelepasan dari ruang-ruang sunyi yang telah membelenggunya. Ketika itu banyak kawan barunya yang tidak mengerti sama sekali siapa ataupun sepak terjang bakal pemimpin Indonesia itu selama ini. Dengan kharismanya, Soekarno mampu membuat banyak orang baik dari generasi muda ataupun tua jatuh cinta kepadanya. Berbagai kalangan dari banyak profesi turut menjadi teman ngobrol Soekarno, salah satunya adalah para misionaris dari kalangan Katolik. Di tengah para misionaris itu Soekarno seperti menemukan lawan sebanding beradu argumentasi. Para misionaris itu jugalah yang turut membuka wawasan religius spiritual Soekarno. Dari berbagai pergulatannya itulah yang salah satunya membuat Soekarno pada akhirnya memaknai Islam secara lebih universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya seputar kehidupan spiritual religi yang semakin berkembang. Apresiasi berkesenian Soekarno pun turut diladeni. Berkesenian telah menjadi sarana katarsis terhadap ketidakdilan juga kepada para penguasa yang telah berhasil memenjara fisiknya. Sebuah kelompok tonil yang ia dirikan menjadi sarana pas bagi Soekarno mengekspresikan “kegilaan-kegilaan” pikirnya. Kawan-kawan yang menjadi partner diskusi di kota Ende itulah yang menjadi para pemain dalam kelompok tonil itu. Ia sendiri bertindak sebagai sutradara serta penulis skenario. Berbagai pandangan atas kondisi yang terjadi dalam bangsanya ia tuangkan secara implisit juga eksplisit dalam berbagai skenario yang menjadi semacam manifestasi kritik Soekarno kepada penguasa yang telah menindas serta menjadikan Indonesia sebagai sapi perahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hal yang terjadi selama kurun empat tahun serta pergaulannya dengan seluruh alam landskap juga orang-orang di Pulau Bunga itu adalah sebuah proses samadi panjang yang amat melelahkan. Saat-saat istirahnya di bawah pohon sukun tidak jauh dari Pelabuhan Ende adalah momen yang amat inspiratif bagi Soekarno. Dari lima sudut daun sukun yang telah berjatuhan ke tanah karena usia ataupun angin itulah awal inspirasinya akan lima butir Pancasila. Lima dasar falsafah yang hingga kini masih mampu menjadi jiwa dan benang merah dari setiap keIndonesian setiap elemen di Nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tak banyak yang masih ingat periode 1934 hingga 1938 di sebuah kota kecil di Pulau Bunga itu. Atau mungkin saja tidak mau mengingat lagi, bahkan bisa jadi tidak pernah sama sekali mendengarnya. Padahal, jika saja Soekarno tidak pernah duduk melangut di bawah pohon sukun atau bergaul dengan kawan dari berbagai golongan petani sampai misionaris, Pancasila bisa jadi tidak akan pernah tercetus atau, yah..bisa saja bernama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi sedikit teringat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-1030242527024011436?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/1030242527024011436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=1030242527024011436&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1030242527024011436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1030242527024011436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/ende-1934-sebuah-memoar-yang-terlupakan.html' title='ende 1934, sebuah memoar yang terlupakan'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-5084131172580863048</id><published>2011-01-20T21:26:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:14:55.786+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>Dunia Shire</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aku akan bercerita kepadamu tentang sebuah dunia, dimana semuanya berjalan lambat. Dunia itu adalah sebuah dunia yang dihuni oleh ku dan karib-karibku yang kebetulan saja berstatus mahasiswi tingkat akhir sebuah perguruan tinggi negri, yang sedang bergulat dengan dirinya sendiri serta seruan kejam dosen pembimbing tentang.....”DEADLINE”....&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dunia, dimana semuanya berjalan lambat adalah sebuah kos-kosan bernama Rumah Betan di sebuah jalan bernama Salak. Karib-karibku adalah penghuni tetap dunia itu, sementara aku, penghuni gelap tetap di kos-kosan itu yang kebetulan saja memiliki rumah tidak jauh dari kampus.Kami-kami ini sering menganggap kos-kosan di jalan Salak itu adalah sebuah “dunia kecil” lain yang amat nyaman dan amat indah seperti layaknya SHIRE dalam trilogi Lord Of The Ring. Sebuah dunia, dimana segala sesuatunya berjalan lambat dan segala sesuatunya dimiliki bersama (dari piring, kompor, panci, penggorengan, sutil, sabun, sendal, pasta gigi, baju, indomi, telor, sampai kasur).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bisa kau bayangkan betapa kacaunya suasana pagi dan malam tempat itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pagi hari&lt;/strong&gt;, dimana nissa berteriak-teriak&lt;em&gt;...”weih bangunnnnn, tidur mulu, kesiangan nih gue...”,&lt;/em&gt; dimana ninin..masih tertidur pulas dengan lembar-lembar transkrip wawancara serta spidol warna-warni di mukanya, dimana Hanna...keluar masuk kamarnya sendiri dan kamar ninin sambil berkaca dan mempertanyakan &lt;em&gt;“rambutku gimana, trus nin bagi kecapnya ya...” &lt;/em&gt;tidak peduli bahwa sang pemilik kamar sedang bermimpi dan seorang penghuni gelap tetap sedang memegang megang perutnya karena sudah tidak mampu menahan waktu biologis paginya dan menunggu pembebasan satu-satunya sedang diokupasi oleh Deni yang tidak selesai-selesai juga mandi&lt;em&gt;..”owwwww DENIIIIII cepetaaaaaannnnn donggggg, aduhhh dah gak tahan nehhh”&lt;/em&gt;, dimana Deni (yg kebetulan juga seorang penghuni gelap lainnya..) akan menjawab dengan&lt;em&gt;....”hahhhh, apaan, gak denger....lus...apaann...”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;...suasana pagi yang kacau sekaligus ...INDAH..&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian “Dunia Salak” itu akan kembali lengang ketika &lt;strong&gt;siang&lt;/strong&gt; menjelang, dimana Nissa sudah sibuk dengan kerjaan sambilannya di kampus, Ninin sudah bangun dan ke kampus bersama seorang penghuni gelap tetap yang bertanya&lt;em&gt;...”Nin ngapain coba kita ke kampus....”&lt;/em&gt; Dimana Hanna sibuk dengan bab 1 dan warnetnya...., ahhhhhh semua penghuni “Dunia Salak” amat merindukan dunianya itu, sebuah dunia dimana semua berjalan lambat. Aku apalagi, karena tidak setiap hari bisa merasakan pagi dan malam nya dunia itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Malam hari&lt;/strong&gt;, “Dunia Salak” kembali menyalakan lampu-lampu gairahnya. Makhluk-makhluk aneh, dan sedikit “sakit jiwa” telah kembali ke SHIRE (ingat kan empat sekawan bangsa Hobbit dalam Trilogi Lord Of The Ring: Frodo, Sam, Pippin dan Meri. Kadang kami berempat merasa seperti  para Hobbit itu, hanya saja kami tidak sekecil mereka, rambut kami tidak keriting dan kaki-kaki kami tidak berbulu..). Seorang penghuni gelap tetap bernama Lusi akan berkata..... &lt;em&gt;“Salam Kamerad Hanna...”&lt;/em&gt; (oh ya, kami berempat berencana membentuk sebuah Politbiro yang memiliki visi sama rata sama rasa  dan SAVE THE MONEY...hehehe, semuanya terjadi ketika karib-karibku itu harus berhemat besar-besaran akibat setan kapitalisme global semua harga barang meningkat...mulai dari harga nasi di warteg  bu Dewi, sampai harga PONDs yang merupakan salah satu setan kapitalisme yang membuat kami semua ketergantungan karenanya...oleh karena itu kami semua memiliki missi: menghancurkan ketergantungan terhadap setan kapitalisme global itu dan mulai menggunakan lulur tradisional cap sekar sari produksi Solo...heheheheheh), kemudian Lusi akan mengendap-endap ke kamar Nisa dan berteriak&lt;em&gt;...” WHOEEEEEEEE....!!!!!”&lt;/em&gt; , dan Nissa akan mengumpat-umpat... &lt;em&gt;“F**K, F**K, sialan loe lus”&lt;/em&gt; dan akan terjatuh dari kursi komputernya...dan Ninin akan tertawa-tawa sambil berkata... &lt;em&gt;“ORANG GILA semuanya”&lt;/em&gt;. Para Hobbit ini kemudian akan berkumpul di kamar Nissa, dan tertawa-tawa, menertawakan apapun, mulai dari ulah Dekan Flamboyan kampus kami yang selalu mencintai keindahan sehingga merombak habis-habisan kampus kami dan menenggerkan berpuluh-puluh kandang ayam berukir di beberapa titik kampus walau tidak ada ayam di dalam kandang itu. Sampai menertawakan pembicaraan sendiri apakah kita akan melenguh ketika kita mencapai titik orgasme.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yahh pembicaraan ringan yang sangat menyenangkan. Kemudian aku akan membacakan puisi-puisi ku didepan mereka sambil melompat-lompat, menari-nari, meliuk-liuk, dan mengguling-guling di karpet Nisa. Kemudian Ninin akan mengiringi Nisa sambil memainkan lagu Naik-naik ke puncak Gunung dengan gitar (yah maklum saja dari berempat ini tidak ada satupun yang bisa bergitar, hanya Ninin yang bisa memetik lagu naik-naik ke puncak gunung, selebihnya...dia tidak bisa lagi..), yang membacakan cerpennya sambil melotot ke arah kita dengan mata besarnya. Setelah semua menjadi begitu kacau, tiba-tiba Hanna berteriak... &lt;em&gt;“WOEHHH mumpung semua ngumpul kita bikin selebaran aja yok...”&lt;/em&gt; yang akan mengagetkan kami semua. Rencananya (dan sepertinya memang akan selalu menjadi rencana, maklum saja, kami ini para hobbit yang selalu berwacana tentang apapun, mulai dari rencana membuat makaroni schotel, pergi ke Bromo, salatiga, lombok, bali sampai rencana menaklukan dunia dan bertemu Nikita Kruschev di Leninggrad) kami akan membuat sebuah aksi keprihatinan di kampus terhadap kondisi kampus yang sudah amat ‘menggerahkan’. Kampus yang tampak semakin borjuis, kapitalis dan individualis.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian sekitar pukul 2 dini hari, Lusi, Ninin dan Nisa akan kelaparan sementara Hana sudah terlelap kelelahan. Lusi, Ninin dan Nisa akan mengendap-endap ke dapur bawah sambil celingak-celinguk karena takut terdengar sang empunya kos, dengan membawa tiga bungkus mie instant, beserta dua butir telor ayam dan akan memasaknya dengan air liur tertahan di ujung lidah. Ehmmm enak sekali, mie instant waktu malam (walaupun kami sering misuh-misuh dengan kapitalisme, neoliberalisme, dll, kami-kami ini ternyata amat mencintai mereka, hehehehehe paradoks ala mahasiswa yang terkadang menggelikan) apalagi jumlah yang terbatas membuat kami semakin kalap dan menghabiskan sampai bersih tak bersisa dalam satu piring bersama. Ternyata semakin sedikit jumlahnya semakin luar biasa rasanya, hahaha.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya sekitar pukul empat dini hari, dengan perut yang masih lapar, kami tertidur dengan ingatan akan &lt;strong&gt;“DUNIA SHIRE”, &lt;/strong&gt;dimana semuanya berjalan lambat&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(kembalikan ingatan ke tahun 2004-2005)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-5084131172580863048?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/5084131172580863048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=5084131172580863048&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5084131172580863048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5084131172580863048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/dunia-shire.html' title='Dunia Shire'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-5822572798005720193</id><published>2011-01-16T20:35:00.003+07:00</published><updated>2011-05-09T15:33:52.470+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Yogya Yang Istimewa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siang itu, seperti biasa, Sunardi tampak gagah berdiri di selasar Kraton dengan surjan lurik berwarna hitam biru, serta blangkon bermondol. Wajahnya menyiratkan kebanggan, serta sebersit senyum keramahan khas Yogya. “Saya ini dulu tinggal di Tangerang, tetapi karena saya jatuh cinta dan merasa terpanggil, maka saya meninggalkan Tangerang dan mengabdi kepada Kraton Yogya ini,” paparnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 30 tahun ia menjadi abdi dalem di Kraton Nyayogyakarta Hadiningrat. Bagi Sunardi, Yogya, khususnya Kraton, adalah pusat seluruh hidupnya. Yogya sungguh istimewa karena hanya di Kraton Yogyakarta ini, ia merasa menemukan makna-makna filosofis kehidupan yang hingga kini masih tetap lestari. “Ada budaya-budaya leluhur yang tetap dipertahankan, serta bagi saya, Yogya memiliki tradisi yang selalu selaras dengan alam sekitar,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunardi tidak sendiri, Yogya juga menjadi istimewa bagi ribuan manusia yang tinggal di dalamnya. Ada yang datang dari luar daerah, tetapi ada juga yang terlahir dan mengolah kehidupannya di kota yang akhir-akhir ini menjadi sorotan banyak mata dan telinga, akibat isu keistimewaan yang lagi-lagi tidak juga purna dibahas. Isu keistimewaan yang akhir-akhir ini membuat ribuan manusia Jogja menjadi sedikit bergolak setelah hampir sembuh dari erupsi Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesudah bencana Merapi mulai reda, Jogja terkena “bencana” kembali, yang kali ini datangnya dari pusat, yaitu tentang keistimewaan”, ucap adik kandung Sri Sultan HB X, GBPH Joyohadikusumo saat membuka prosesi Mubeng Benteng di Regol Keben, Selasa (7/12). Ungkapan adik Sultan itu, adalah cerminan suara ribuan orang yang merasa terusik ketika Jogja tercintanya yang selama ini tentram, “dikisruhkan” oleh sepatah kalimat “Monarki versus Demokrasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak masyarakat Jogja, kalimat yang diucapkan oleh orang nomor satu di negara ini adalah seperti sebuah cubitan yang membuat sakit sekaligus menggelisahkan. Kalimat ini seperti mengingatkan kembali akan tidak pernah tuntasnya pembahasan tentang Undang-Undang soal keistimewaan. Ini pun melahirkan opsi “memilih” atau “ditetapkan”. Padahal selama ini, Jogja sudah tentram dengan fakta bahwa negrinya adalah provinsi istimewa yang berpusat di Kraton dan dengan keistimewaanya itu berarti secara otomatis Sultan adalah Gubernur dan Paku Alam adalah wakilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yogya Bagi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumat 5 September 1945 adalah salah satu momentum yang amat penting dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Maklumat yang diserukan oleh Sultan Hamengku Buwono ke-IX itu menandakan bahwa Yogya secara resmi berintegrasi kepada Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berintegrasi, Yogya seperti menjadi “ibu” yang memberi susu kepada anaknya yang sedang merangkak besar. Menurut budayawan yang juga Kepala Program Magister Studi Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Dr. Gregorius Budi Subanar, SJ, Republik Indonesia menghabiskan masa-masa “balita”nya di Yogyakarta. Begitu juga modal kapital pertama Republik ini disumbang dari kantong Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Inilah salah satu yang membuat Yogya jadi istimewa bagi Indonesia,” ucap Subanar atau akrab disapa Romo Banar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik dari faktor kesejarahan, sebelum berintegrasi, Yogya memang sudah istimewa. Ia pada awalnya merupakan daerah yang memiliki pemerintahan sendiri. Hal ini berbeda dengan banyak daerah berpemerintahan sendiri lainnya karena kedudukan istimewa dari Yogyakarta diakui secara tegas oleh pemerintah Republik Indonesia sejak permulaan revolusi nasional Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesultanan Yogyakarta serta Kadipaten Paku Alaman, sebelumnya, memiliki status “Kerajaan vasal/Negara bagian”. Oleh Belanda status itu disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan oleh Jepang disebut Koti/Kooti. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah sendiri di bawah pemerintahan penjajahan. Status ini pula yang kemudian diakui dan diberi payung hukum oleh Soekarno, Presiden pertama RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang masalah keistimewaan ini harusnya tidak dilihat sebagai sebuah pembahasan soal Yogya saja, tetapi bagaimana sebuah bangsa mengapresiasi sejarah kelahiran negrinya sendiri,” ucap Romo Banar. Baginya, pembahasan soal keistimewaan Yogya adalah sebuah pembahasan komprehensif yang juga harus melibatkan pembicaraan  tentang Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan. Artinya, ketika berbicara tentang Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tentu tidak bisa jika tidak membicarakan soal Indonesia, begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Hamengku Buwono X pun sempat menegaskan bahwa persoalan Keistimewaan Yogyakarta bukan sebatas masalah politik, konstitusi atau hukum, tetapi ini adalah persoalan peradaban. Persoalan peradaban ini pun secara konstitusional telah diakui. Dalam UU No 32 Tahun 2004, Pasal 226 ayat (2) yang berbunyi, "Keistimewaan untuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaimana dimaksud dalam UU No  22 Tahun 1999, adalah, tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada UU ini". Sehingga Undang-Undang ini pun sejalan dengan semangat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Pasal 18B ayat (1) yang menyatakan, "Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa dengan undang-undang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yogya Kini dan Kedepannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kini Yogya sedang menunggu pemerintah pusat berkeputusan,” ucap Inung Nurzani, salah seorang dari ribuan warga Yogya yang turut terlibat dalam Komite Independen Pengawal Referendum. Menurut dia, jika keputusannya adalah pemilihan maka sudah bisa diyakinkan Yogya akan bergolak. “Paling tidak, para warga yang sudah mendaftar menjadi relawan referendum ini akan bergerak,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan di kantor DPRD tanggal 8 Desember yang lalu, sejumlah ormas dan, paguyuban kepala Dukuh dan perangkat desa se-Yogyakarta seperti Ismoyo dan Semar Sembogo juga bersepakat untuk mendukung opsi penetapan dan akan melakukan aksi boikot jika pemerintah tetap melakukan pilkada. Sikap ormas itu pun diamini oleh salah seorang anggota DPRD, bahwa DPRD Yogya tidak menganggarkan dalam APBD pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Inung, Roma Banar, Ismoyo, Semar Sembogo atau ribuan warga lainnya, Yogya adalah salah satu provinsi di Indonesia yang amat istimewa, bukan hanya dari latar sejarahnya, tetapi juga karena pada konteks kekinian, Yogya pun memiliki prestasi yang membanggakan serta terukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun lalu, Yogya berada di urutan pertama sebagai provinsi dengan tingkat korupsi paling rendah. Masyarakat Yogya juga memiliki harapan hidup tinggi hingga usia 70 tahun. Tingkat disiplin institusi pendidikannya pun tinggi. Yogya juga mendapat apresiasi dari badan Koordinasi Penanaman Modal. Dan yang tidak bisa dikesampingkan, Yogya juga memiliki 90 persen Kopertis dari seluruh wilayah di Indonesia, ini artinya administrasi bidang pendidikan di Yogya bisa dijadikan jaminan,” papar Romo Banar. Dari berbagai prestasi itu, maka seharusnya pemerintah pusat dapat melihat bahwa status keistimewan Yogya selama ini tidak pernah menjadi hambatan bagi kemajuan pemerintahan Yogya. “Lalu apa titik berangkat dari ucapan Presiden itu. Sepertinya ada agenda dari pemerintahan pusat untuk mempreteli kepemimpinan politik serta kepemimpinan kultural di Yogyakarta,”ungkap Romo Banar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, lanjut Romo Banar, saat ini, dan kedepannya, pemerintah harus bisa bersikap bijak dan mengakomodir kekhasan tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia. “Sudah saatnya pemerintah betitik tolak dari kepemimpinan politk yang berakar pada grass root,” ucapnya. Artinya, pemerintah mau dengan rendah hati mengambil berbagai kebijaksaanaan lokal yang telah ratusan tahun hidup dan dihidupi oleh masyarakat Nusantara. Dengan sikap seperti itu, maka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang merupakan bagian dari sejarah Indonesia, kedepannya dapat terus hidup tentram sebagai bagian dari Republik tercinta ini. “Jika tidak, maka bisa-bisa pemerintah pusat dipencundangi oleh sikap arogannya itu sendiri,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik tentang keistimewaan yang telah menimbulkan gejolak dari berbagai kalangan di Yogyakarta ini adalah salah satu tantangan bagi eksistensi Kraton Ngayogyakarta Hadinginrat. Sebuah tantangan yang harus dijawab dengan bijak oleh pihak Kraton juga pemerintah yang sejatinya adalah payung besar untuk masing-masing warganya. Bagi Sultan Hamengku Buwono X sendiri, saat ini ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan yang membutuhkan sikap berhati-hati untuk mencermatinya. Karena bagi Sultan, Keistimewaan Yogyakarta adalah sebuah identitas etnik yang menunjukkan kearifan lokal dalam proses berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Soemardjan, Selo, Perubahan Sosial di Yogyakarta, Depok: Komunitas Bambu, 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.tempointeraktif.com, Sultan: Keistimewaan Yogya adalah Soal Peradaban, Kamis 02 Desember 2010.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-5822572798005720193?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/5822572798005720193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=5822572798005720193&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5822572798005720193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5822572798005720193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2011/01/yogya-yang-istimewa.html' title='Yogya Yang Istimewa'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8110517065621136056</id><published>2010-12-19T11:23:00.010+07:00</published><updated>2011-01-22T03:41:48.745+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>minggu pagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2LGTZVAiI/AAAAAAAAAdc/yqhWb_5El3c/s1600/minggu%2Bpagi9.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2LGTZVAiI/AAAAAAAAAdc/yqhWb_5El3c/s400/minggu%2Bpagi9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552246856019673634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;minggu pagi,&lt;br /&gt;sepi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KgQSbRbI/AAAAAAAAAdM/jwNatcCtufM/s1600/minggu%2Bpagi7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KgQSbRbI/AAAAAAAAAdM/jwNatcCtufM/s400/minggu%2Bpagi7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552246202350388658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KLWUdp_I/AAAAAAAAAc8/_omLCBKGVgw/s1600/minggu%2Bpagi5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KLWUdp_I/AAAAAAAAAc8/_omLCBKGVgw/s400/minggu%2Bpagi5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552245843192293362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KExwcNZI/AAAAAAAAAc0/LAXYr1e7lok/s1600/minggu%2Bpagi4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KExwcNZI/AAAAAAAAAc0/LAXYr1e7lok/s400/minggu%2Bpagi4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552245730298312082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2J4Ln5xYI/AAAAAAAAAcs/w5akQbV2ZbE/s1600/minggu%2Bpagi3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2J4Ln5xYI/AAAAAAAAAcs/w5akQbV2ZbE/s400/minggu%2Bpagi3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552245513903523202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2Jp6rmv7I/AAAAAAAAAck/JtgpTgbcsCk/s1600/minggu%2Bpagi2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2Jp6rmv7I/AAAAAAAAAck/JtgpTgbcsCk/s400/minggu%2Bpagi2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552245268837482418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2JigrK_oI/AAAAAAAAAcc/CdrPat2vNhs/s1600/minggu%2Bpagi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 309px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2JigrK_oI/AAAAAAAAAcc/CdrPat2vNhs/s400/minggu%2Bpagi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552245141597257346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KYoWcXyI/AAAAAAAAAdE/Sx0_q8lw_60/s1600/minggu%2Bpagi6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2KYoWcXyI/AAAAAAAAAdE/Sx0_q8lw_60/s400/minggu%2Bpagi6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552246071370735394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;..tapi, pernahkah anda merasa bahagia, tiba-tiba saja,&lt;br /&gt;entah kenapa, saat bangun di minggu pagi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8110517065621136056?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8110517065621136056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8110517065621136056&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8110517065621136056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8110517065621136056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/12/minggu-pagi.html' title='minggu pagi'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TQ2LGTZVAiI/AAAAAAAAAdc/yqhWb_5El3c/s72-c/minggu%2Bpagi9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-6298404670900544837</id><published>2010-11-28T13:48:00.007+07:00</published><updated>2011-05-09T15:27:06.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Melancong ke Kota di Seberang Laut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPH_NLqsmXI/AAAAAAAAAbk/U4l55FP8iT4/s1600/sing12.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPH_NLqsmXI/AAAAAAAAAbk/U4l55FP8iT4/s400/sing12.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544493218205047154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJri3kkTjI/AAAAAAAAAcM/p_wQABu38Jc/s1600/KL%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJri3kkTjI/AAAAAAAAAcM/p_wQABu38Jc/s400/KL%2B3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544612338023550514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat terkesima ketika sebentar melancong ke negeri di seberang lautan. Ketika itu saya melakukan hal yang -sepertinya- sering dilakukan oleh para anggota DPR ketika studi banding ke negeri orang, “terkesima, membanding-bandingkan, berefleksi mengapa negerinya tidak seperti negeri ini, lalu sesudahnya jalan-jalan saja ala turis”. Nah pada kesempatan itu pun saya benar-benar menjadi turis dan tidak sengaja - iseng-iseng - membaca kota yang saya singgahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bayangkan sebuah pembacaan yang rumit dan semiotis. Pembacaan yang saya lakukan ini sungguh sederhana, apalagi ini hanya iseng-iseng saja. Mengingat apa yang saya lakukan dari awal hingga mengantar saya ke sebuah perjalanan ke luar negeri pertama kali, ya memang berawal dari sebuah keisengan. Iseng-iseng membuka situs maskapai penerbangan murah meriah, lalu kebetulan ada promo tiket murah, iseng-iseng memesan tiket untuk perjalanan enam bulan ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalau mau, tulisan ini bisa berjudul, ‘iseng-iseng berhadiah’, karena sebelumnya, pergi ke luar negeri adalah hal yang sepertinya ada di angan-angan saja, apalagi dengan uang sendiri. Lalu karena keisengan memesan tiket murah yang -saya pikir- kalau tidak jadi pergi ya tidak rugi juga, serta berbekal uang saku terbatas, saya dan kawan, nekat berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, saya mendapat hadiah tidak mengecewakan. Perlancongan saya ini akhirnya menjadi sebuah perjalanan pertama kali yang menyenangkan dan cukup membuka mata. Terutama tentang bagaimana orang di luar negeri saya mengelola kota mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melihat dan Membaca Kota&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPH-lrr9bSI/AAAAAAAAAbc/V_Fdf4iqCXc/s1600/sing4.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPH-lrr9bSI/AAAAAAAAAbc/V_Fdf4iqCXc/s400/sing4.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544492539605511458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJqsPCUgEI/AAAAAAAAAcE/EqZ_qwHq6Go/s1600/KL%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJqsPCUgEI/AAAAAAAAAcE/EqZ_qwHq6Go/s400/KL%2B2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544611399429554242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melihat kota adalah seperti melihat masyarakatnya. Melihat bagaimana sebuah kota dibangun, ditata lalu dipelihara, adalah sama dengan melihat bagaimana sekelompok masyarakat melakukan kerja-kerja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas sepertinya bisa merangkum berbagai perasaan yang menggelayuti selama saya melakukan perjalanan. Sebuah kekaguman sekaligus kegundahan setelah melancong ke dua kota di dua negeri yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura dan Kuala Lumpur di Malaysia adalah dua buah kota pada negeri di seberang lautan itu. Dua kota yang membuat saya terkesima, terutama pada moda transportasi umumnya. Bolehlah jika ada yang mengatakan saya ini udik atau kampungan, karena termangap-mangap melihat hal itu. Tapi saya tidak bisa menyangkal bahwa moda transportasi itu sungguh luar biasa. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi di negeri saya sendiri, Indonesia tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura ada Mass Rapid Transit (MRT). MRT adalah sebutan transportasi massa berbentuk kereta. Selain memiliki MRT, Singapura juga ramah dengan berbagai moda transportasi publik lain, seperti bus dan taksi. Tarif yang terjangkau, tempat menunggu yang nyaman dan mudah ditemukan, tepat waktu dan cepat, membuat bergerak di Singapura adalah sesuatu yang mudah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Kuala Lumpur, juga tidak jauh berbeda dengan Singapura. Walau tidak sebersih dan serapi Singapura, kota ini memiliki transportasi umum berbagai bentuk yang lebih manusiawi ketimbang kota-kota besar di Indonesia. Transportasi publik di Kuala Lumpur terdiri dari bis, taksi dan kereta api. Rapid Transit di Kuala Lumpur terdiri dari tiga transportasi rel yang berbeda, yaitu RapidKL RAIL, KL Monorail, dan KTM Komuter. Stasiun KL Sentral berperan sebagai hub utama transportasi rel. Selain itu KL Sentral juga menjadi hub bagi jalur kereta antar kota yang dioperasikan oleh KTM Intercity, dengan layanan hingga Singapura dan Hat Yai, Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di Singapura, bis-bis di Kuala Lumpur tidak bisa berhenti sembarangan. Ada halte sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan, serta ada jam-jam keberangkatan. Bis nya pun nyaman dan tarifnya lumayan terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ingin naik bis, kereta atau taksi, Singapura dan Kuala Lumpur, amat ramah dengan para pejalan kaki. Sarana pedestrian begitu diperhatikan di kedua kota ini. Bahkan di tengah pembangunan kota yang begitu menggebu, kedua kota ini tetap menyediakan jalur-jalur pejalan kaki yang tidak dikalahkan oleh pengendara motor, pedagang kaki lima atau mobil yang parkir sembarangan. Maka dari itu, saya pun begitu betah berjalan kaki di kedua kota ini. Sampai-sampai kedua kaki saya kapalan karena tidak memakai alas kaki nyaman. Ah ini sungguh mengganggu, jadi mungkin bisa menjadi tips, pakailah alas kaki nyaman jika ingin bepergian ke dua kota ini, karena jalan kaki –seharusnya- bisa sangat menyenangkan -jika kaki anda tidak kapalan tentunya-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang membuat saya begitu iri tidak menjadi warga kota-kota ini adalah banyaknya ruang publik yang ada di setiap sudut. Ruang publik tempat dimana warga kota, serta pengunjung kota dapat menghabiskan waktu sambil duduk-duduk sendiri, bersama kawan dan kerabat atau hanya sekedar melihat-lihat keramaian. Dalam waktu yang begitu singkat selama perlancongan saya di Singapura, saya sudah bisa mengatakan Marina Bay adalah ruang publik favorit saya. Tidak ada pagar-pagar besi yang menutupi ruang ini, semua orang dari berbagai lapisan bisa masuk, duduk-duduk, atau bahkan tertidur di situ. Sambil duduk-duduk melihat Merlion dari kejauhan, saya pun bisa asyik surfing di dunia maya karena seluruh wilayah itu dikelilingi oleh Wifi gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kuala Lumpur, tempat publik favorit saya adalah KLCC dimana menara Petronas menjadi pusatnya. Untuk memasuki area ini, semua orang bisa lewat dari berbagai sisi, karena tidak ada pagar yang mengelilinginya. Walau tidak berpagar, berbagai fasilitas yang ada di ruang publik ini cukup terawat. Arena jogging tersedia dengan rapi. Bangku-bangku untuk duduk leyeh-leyeh juga disediakan dengan kapasitas memadai.Tidak ada bohlam lampu yang pecah atau mati. Tong-tong sampah masih ada di tempatnya dan berfungsi sebagaimana mestinya, sarana air minum publik gratis pun juga masih bisa digunakan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kekaguman yang muncul dari sekilas penglihatan saya itu membuat saya sedikit membaca, bahwa dua kota itu memang dirancang untuk menjadi accesible bagi warganya juga bagi pengunjungnya. Sebuah kota memang seharusnya dirancang menjadi mudah bagi siapa saja, bukan hanya bagi orang yang punya duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya di Indonesia, khususnya Jakarta, bahkan orang-orang yang berduit pun, tidak bisa merasakan kemudahan itu. Apalagi jika sudah berbicara soal masalah transportasi. Bagi saya, dan saya percaya, bagi banyak masyarakat Jakarta, sungguh ironis, sebuah ibukota tidak menyediakan alat transportasi publik yang layak bagi warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat transportasi yang memadai adalah salah satu bentuk penghargaan, juga sebuah kewajiban hakiki sebuah kota kepada warganya. Dengan transportasi yang memadai, energi warganya dapat tersalurkan dengan efektif. Bukan untuk hal-hal negatif, seperti marah-marah karena mobilnya disalip motor, merengut karena berdesak-desakan di dalam bis kota atau mengeluh karena terperangkap macet berjam-jam. Ekonomi kota akan terdorong lebih maju, karena semua berjalan efisien, dan yang jelas, warga kota lebih sehat, baik fisik atau rohani. Tingkat stress menurun, kesehatan pernafasan pun lebih terjaga. Dan mungkin aksesibilitas kota ini lah salah satunya yang membuat standar hidup di dua kota ini lebih tinggi dibandingkan kota-kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah pembacaan iseng-iseng ini, mungkin hanya akan keluar dari seorang yang baru pertama kali ke luar negeri seperti saya. Tentu semua jadi exciting dan berbeda. Entah jika suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke kota-kota itu atau ke kota lainnya, mungkin ada rasa kagum dan gundah yang tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang jelas, Indonesia dan kota-kotanya akan selalu jadi rumah saya. Entah suatu saat nanti saya akan (mungkin iseng-iseng juga) pergi ke belahan dunia yang waktunya berbeda 17 jam atau suhunya berbeda ekstrim, pasti saya akan kembali lagi ke negeri ini. Negeri yang kota-kota didalamnya  sedang bergulat dengan segala masalah dan dinamikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak ada kota di dunia, seperti Jakarta atau Yogyakarta yang memiliki warung makan dengan menu seenak yang pernah saya rasakan. Tidak ada yang menyediakan nasi uduk jengkol ala Betawi atau gudeg Wijilan dengan cita rasa khas seperti di dua kota itu. Boleh taruhan jika tidak percaya...;p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPH9uN9e0aI/AAAAAAAAAbU/HE6vLhAVByk/s1600/sing14.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 310px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPH9uN9e0aI/AAAAAAAAAbU/HE6vLhAVByk/s400/sing14.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544491586733134242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJsrjqDzNI/AAAAAAAAAcU/FozHXBTUqrE/s1600/KL%2B4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJsrjqDzNI/AAAAAAAAAcU/FozHXBTUqrE/s400/KL%2B4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544613586808327378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tips and Trick for budget traveler to Singapore and KL!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.    Rajin-rajin browsing di situs AirAsia.com, banyak promo tiket murah yang harus dipesan berbulan-bulan sebelum waktu keberangkatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2.    Untuk melanjutkan perjalanan dari Singapura ke Kuala Lumpur, lebih murah ditempuh dengan bis, tetapi jangan naik bis langsung dari terminal Singapura ke Kuala Lumpur. Harga bisa ditekan hingga 50 persen kalau perjalanan dilakukan dari Johor Baru dan sesudah itu ke Kuala Lumpur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk ke Johor Baru dari Singapura bisa ditempuh dari terminal khusus untuk     bis-bis ke Johor. Salah satu nama bis Singapura-Johor Baru yang cukup     recomended bernama “Causeway Link”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3.    Jangan lupa tukar rupiah (Rp) dengan dolar Singapura (SGD) sebelum berangkat ke Singapura. Dan jangan lupa tukar SGD ke ringgit (MYR) di Singapura. Saya punya pengalaman ketika sudah sampai di terminal Johor Baru, saya belum menukar SGD ke MYR dan coba menukar di money changer setempat. Karena tidak cermat membaca catatan kecil di bawahr, bahwa rate dapat dinegosiasi, si pemilik money changer dengan seenaknya menukar dengan harga murah di bawah dari rate yang ia cantumkan besar-besar. Katanya kalau menukar dibawah 100 SGD ya ratenya dibawah itu, padahal tidak ada catatan atau peraturan seperti itu. Merasa ditipu saya dan kawan  pun sempat berdebat dan akhirnya ia menaikkan ratenya sedikit sekali. Pengalaman menyebalkan pertama dengan seorang India.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4.    Saya punya satu tempat rekomendasi menginap yang murah, meriah dan cukup lumayan di Singapura. Namanya Backpackers Inn, lokasnya di Bugis, tepatnya di depan Bugis Junction. Untuk tipe dorm (sekitar 4-6 orang per kamar) ratenya sekitar 18 SGD per malam. Di tempat ini kita dapat makan pagi (biasanya roti bakar yang semuanya self service) serta minum (kopi dan teh) pagi. Tapi memang tidak disediakan air putih di tempat ini. Kalau di Kuala Lumpur, bisa menginap di sekitaran Jalan Pudu. Di tempat itu banyak sekali hostel-hostel budget dengan tarif paling murah sekitar 35 MYR per malam per orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5.    Untuk makan, saya dan kawan punya tempat favorit yang sering sekali kami kunjungi, karena rasanya enak, dan porsinya besar, serta harganya relatif murah. Tepatnya di Geylang, persis di depan stasiun MRT Aljuneid. Warung makan itu dimiliki oleh orang Cina dan menunya dijajar di depan warungnya persis seperti warteg di Indonesia. Waktu itu saya dan kawan makan dengan harga 2 SGD per porsi. Lumayan !!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6.    Pakai alas kaki yang nyaman, lebih baik memakai sepatu yang enak digunakan untuk berjalan kaki, karena rugi kalau ke Singapura atau ke Kuala Lumpur tidak sempat keliling kota dengan jalan kaki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7.    Bawa payung dari Indonesia, karena cuaca sering tidak menentu dan harga payung di Singapura juga KL lumayan mahal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8.    Bawa botol minum atau jangan buang botol bekas air mineral, karena beberapa titik di Singapura (seperti di Changi) dan Kuala Lumpur (seperti di KLCC) menyediakan air minum reffil gratis. Lumayan menghemat untuk budget air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJqSi3ULII/AAAAAAAAAb8/M33hxjTUILw/s1600/KL%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPJqSi3ULII/AAAAAAAAAb8/M33hxjTUILw/s400/KL%2B1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544610958075505794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-6298404670900544837?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/6298404670900544837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=6298404670900544837&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6298404670900544837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6298404670900544837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/11/melancong-ke-kota-di-seberang-laut.html' title='Melancong ke Kota di Seberang Laut'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TPH_NLqsmXI/AAAAAAAAAbk/U4l55FP8iT4/s72-c/sing12.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-95222056301036085</id><published>2010-11-13T14:04:00.014+07:00</published><updated>2011-05-09T15:28:21.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tentang Bumi dan Wajahnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catatan untuk pameran foto "Elements" oleh Cephas Photo Forum dalam rangka Bulan Foto LIP (3-19 Nov '10)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca alam lingkungan adalah seperti membaca wajah yang berupa-rupa.&lt;br /&gt;Wajah yang akhir-akhir ini seperti sedang berteriak, entah karena marah, entah karena ingin istirahat untuk sedikit menarik nafas. Wassior, Merapi dan Mentawai adalah rupa-rupa wajah alam yang kini sedang ‘merengut’, dan seperti mengingatkan makhluk alam lainnya bahwa mereka juga ingin didengar, dieja, lalu dibaca kembali dengan benar-benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memotret adalah sebuah ejaan pada alam yang tidak melulu eksploitatif tetapi amat reflektif. Dengan memotret, pesan alam dan lingkungan sekitarnya bisa disampaikan kepada khalayak secara lugas. Pesan yang sepertinya hanya ingin bicara tentang keselarasan dan keharmonisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip Sontag, “to photograph is to appropriate the thing photographed. It means putting oneself into a certain relation to the world that feels like knowledge-and, therefore, like power”. Dengan memotret, sang pembidik telah mencipta sebuah hubungan dengan objek yang akan difoto, yang sejatinya adalah pengetahuan. Dengan pengetahuan, sang pembidik seperti memiliki sebuah kuasa. Kuasa untuk mengontrol visualisasi dari karya foto yang dicipta sehingga pada akhirnya memiliki kuasa untuk mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk merestorasi bumi dan elemen di dalamnya lewat bahasa visual itu, telah dilakukan oleh sebuah Photo Forum, berbasis di Yogyakarta. Pameran foto bertajuk “Elements” yang bekerjasama dengan Lembaga Indonesia Perancis (LIP), adalah upaya Cephas Photo Forum, memberi sesuatu yang nyata kepada bumi dan wajahnya yang sedang ‘merengut’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Delapan fotografer yang tergabung dalam Cephas Photo Forum itu adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurniadi Widodo, melalui karyanya yang berjudul “Unnatural Coexistence” mencoba membaca gejala-gejala yang ada di lingkungan sekitarnya, yaitu masyarakat urban Jogja yang harus berkompromi dengan alam juga modernitas. Misalnya saja, Wid memotret tanaman penghijauan pinggar jalan, yang ditanam oleh manusia. Mau tidak mau, tentu, tanaman itu harus tumbuh mengikuti arsitektur ruang yang menanamnya. Sebaliknya, Wid juga memotret sebuah pohon besar yang tetap kokoh berdiri pada tempat tumbuhnya semula, dan manusia yang hidup di dekatnya itulah yang menyesuaikan dengan pohon itu. Sebuah kompromi harmonis diantara keduanya.&lt;br /&gt;Namun, dalam karya-karyanya itu, pada akhirnya Wid sebenarnya ingin bertanya, siapakah atau apakah yang harus berkompromi. Manusia atau alamkah? karena manusialah yang dengan semena membuat batasan-batasan pada alam tetapi manusia pun tak bisa mengelak ketika alam sedang bergolak.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbhwBRXJI/AAAAAAAAAeI/LYK1zzHKHHs/s1600/Kurniadi%2BWidodo%2B-%2BUnnatural%2BCoexistence%2B01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbhwBRXJI/AAAAAAAAAeI/LYK1zzHKHHs/s400/Kurniadi%2BWidodo%2B-%2BUnnatural%2BCoexistence%2B01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564860924953713810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Fauzan Ijazah atau Yo, lewat karya “Man-eating Tigers and Tiger Tamer”, mendokumentasikan seorang penangkap Harimau tradisional berusia 70 tahun bernama Syarwani Sabi dari Arongan, Aceh Barat. Dalam karya fotonya itu, Yo secara gamblang memperlihatkan bagaimana Syarwani menangkap seekor harimau dengan cara-cara yang masih tradisional, misalnya saja dengan menggunakan perangkap dari kayu, serta anjing sebagai umpan. Walaupun zaman sudah bergerak maju, Syarwani percaya, metode tradisional yang ia pelajari secara turun-temurun dari nenek moyangnya itu, masih ampuh menangkap harimau yang buas tanpa menyakiti si harimau. Sama seperti Wid, Yo, ingin mengatakan bahwa kedua elemen bumi ini harus saling berkompromi untuk bisa bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbSyqQjeI/AAAAAAAAAd4/s6eyOo41Xac/s1600/Fauzan%2BIjazah%2B-%2BA%2BMan-eating%2BTiger%2Band%2BTiger%2BTamer%2B01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbSyqQjeI/AAAAAAAAAd4/s6eyOo41Xac/s400/Fauzan%2BIjazah%2B-%2BA%2BMan-eating%2BTiger%2Band%2BTiger%2BTamer%2B01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564860667964460514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oscar P. Siagian membingkai ceritanya dalam “Rhythm of Life”. Ia membaca dan mendokumentasikan tradisi perburuan paus oleh sebuah masyarakat di dusun kecil Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Oscar, secara visual menampilkan ragam wajah bumi, dimana tradisi dan kearifan lokal masyarakat dalam membaca alam diterapkan dalam ritual tahunan masyarakat Lamalera. Cerminan sebuah kearifan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpb0s694JI/AAAAAAAAAeY/xGG2HVwS1ME/s1600/Oscar%2BSiagian%2B-%2BRhythm%2Bof%2BLife%2B002.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpb0s694JI/AAAAAAAAAeY/xGG2HVwS1ME/s400/Oscar%2BSiagian%2B-%2BRhythm%2Bof%2BLife%2B002.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564861250539479186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Budi N.D Dharmawan dengan karya “Green Gold” melihat sebuah upaya konservasi ditengah tebalnya deforestasi hutan Indonesia. Budi melihat adanya harapan bagi alam ini untuk tetap bernafas walau eksploitasi besar-besaran juga terus terjadi. Perusahaan milik pemerintah yang mengurusi kayu hutan di Blora, Jawa Tengah, adalah harapan yang menurut Budi dapat menjadi simpanan harta karun bagi masa depan alam, terutama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpaoiXP3vI/AAAAAAAAAdo/HsegoRDNpdU/s1600/Budi%2BDharmawan%2B-%2BGreen%2BGold%2B01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpaoiXP3vI/AAAAAAAAAdo/HsegoRDNpdU/s400/Budi%2BDharmawan%2B-%2BGreen%2BGold%2B01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564859942035250930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ulet Ifansasti, mencoba membaca rupa alam di Sumatera, dengan karya foto “Deforestation in Sumatra”. Sebuah rupa yang begitu khas manusia, esksploitatif! Ifan memotret kondisi yang bertolak belakang dari Budi, betapa sifat khas manusia itu telah membuat rupa alam jadi begitu terancam. Misalnya saja atas nama kesejahteraan, hutan yang ramah lingkungan telah dikonversi menjadi hutan yang akhirnya mengganggu ekosistem, yaitu hutan Sawit. Akibatnya kerusakan parah yang terjadi di hutan Sumatera itu telah mengakibatkan sejumlah spesies langka Sumatera terancam punah.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpb68vwY-I/AAAAAAAAAeg/x62JY8-F77U/s1600/Ulet%2BIfansasti%2B-%2BDeforestation%2Bin%2BSumatra%2B01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpb68vwY-I/AAAAAAAAAeg/x62JY8-F77U/s400/Ulet%2BIfansasti%2B-%2BDeforestation%2Bin%2BSumatra%2B01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564861357866640354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Doni Maulistya, atau Aul, berefleksi lewat karya “Gone”. Ia melihat bagaimana hubungan (yang seharusnya) simbiosis mutualistis terjadi antara manusia, bumi dan elemen-elemen yang ada di dalamnya. Manusia (seharusnya) mencintai, merawat dan menghormati bumi karena ketika itu terjadi, bumi akan demikian juga. Tanpa ada manusia, bumi hanya sebuah tempat sepi tak dicintai. Tanpa ada bumi, manusia hanya akan jadi makhluk tanpa rumah ‘tuk berpijak.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpa0jnluFI/AAAAAAAAAdw/p2SJjarKAMQ/s1600/Doni%2BMaulistya%2B-%2BGone%2B01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 301px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpa0jnluFI/AAAAAAAAAdw/p2SJjarKAMQ/s400/Doni%2BMaulistya%2B-%2BGone%2B01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564860148530657362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Michael Eko, menyajikan karya “Knock-Knock, Knockin’ on Innocence Door” sebagai sebuah refleksi personal Eko tentang perjalanannya menembus pedalaman Kalimantan. Dalam perjalanannya itu, ia berefleksi tentang hubungan bumi dengan segala penghuninya, terutama elemen-elemen bumi yang ada di pedalaman Kalimantan, seperti hutan, manusia serta satwa yang ada di dalamnya. Sebuah refleksi romantis Eko, membaca rupa bumi yang tidak bisa melepaskan diri dari manusia dan segala apologinya terhadap alam sekitarnya, begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbtufcpRI/AAAAAAAAAeQ/9Z7yV7MBZpc/s1600/Michael%2BEko%2BHardianto%2B-%2BKnock-knock%252C%2BKnockin%2527%2Bon%2BInnocence%2BDoor%2B01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbtufcpRI/AAAAAAAAAeQ/9Z7yV7MBZpc/s400/Michael%2BEko%2BHardianto%2B-%2BKnock-knock%252C%2BKnockin%2527%2Bon%2BInnocence%2BDoor%2B01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564861130701841682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karolus Naga mencoba memotret Merapi sebagai bentuk refleksi personalnya atas sebuah gunung yang begitu membawa aura mistis bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Bagi Naga, Merapi bukan hanya sebuah gunung api yang saat ini sedang bergolak. Secara personal, ia memaknai Merapi sebagai sumber kehidupan, baik dari pasir, pariwisata, serta berkah kesuburannya. Selain berfungsi secara materil, Merapi juga dihidupi oleh mistisme Jawa yang begitu kental. Pembacaan dalam bentuk karya foto yang telah dilakukannya sejak 2001 itu, dibingkai Naga dalam sebuah karya sastra milik Dante, La Divina Commedia, “Purgatorio”, dimana Naga melihat perjalanan personalnya melihat Merapi sama seperti perjalanan spiritual Dante yang ditemani Virgil, saat mereka mendaki gunung Purgatorio.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbZkqj0lI/AAAAAAAAAeA/L-HoBcy15ew/s1600/Karolus%2BNaga%2B-%2BPurgatorio%2B01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbZkqj0lI/AAAAAAAAAeA/L-HoBcy15ew/s400/Karolus%2BNaga%2B-%2BPurgatorio%2B01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564860784466711122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membaca Alam Melalui Fotografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca alam melalui media fotografi adalah hal yang patut dihargai, apalagi saat ini kita tidak bisa tidak mengelak dari serangan imaji-imaji visual. Seperti istilah Kundera , “imagology” yaitu sebuah kondisi dimana kenyataan telah semakin dipahami melalui rangkaian imaji, salah satunya melalui frame-frame gambar yang dicitrakan oleh pembidik melalui kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studium dan punctum yang dihasilkan oleh kedelapan fotografer ini adalah sebuah usaha untuk menyibak yang selama ini belum benar-benar terkemuka. Seperti yang dikatakan oleh Edward Weston , bahwa tugas fotografer bersifat profetik, subversif dan revelatoris. Ia harus berani mengungkapkan persoalan tersembunyi di balik yang tampak dan seperti seorang pembaharu, seorang fotografer juga harus berani menelurkan pencerahan yang dapat membuka mata khalayak tentang adanya masalah yang bergelayut. Sebuah persoalan mendasar tentang tidak selarasnya hubungan manusia dengan alamnya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatannya, fotografer harus mampu menarik perhatian yang menonton, serta mencipta visi-visi baru. Sebuah realitas yang kesannya banal, kejadian sehari-hari, serta hubungan normal antara manusia dan alam sekitarnya, seharusnya dapat dibuat oleh si fotografer menjadi rupa yang sungguh luar biasa, dan terkadang membuat ‘panik’ juga ‘miris’. Sebuah upaya untuk menarik perhatian massa atau kata Sontag, “aphotheosized”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka:&lt;br /&gt;Sontag, Susan, On Photography, New York: An Anchor Book, 1977.&lt;br /&gt;Sunardi, St. Semiotika Negativa, Yogyakarta: Kanal, 2002.&lt;br /&gt;Motuloh, Oscar, Soulscape Road, tulisan pengantar oleh Bambang Sugiharto, R&amp;amp;W Publishing, 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cephasphotoforum.wordpress.com/"&gt;Cephas Photo Forum &lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;Forum diskusi bagi para pecinta, peminat, pemerhati dan pelaku fotografi di Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-95222056301036085?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://ruimages.wordpress.com/2010/11/19/a-reflection-on-elements/' title='Tentang Bumi dan Wajahnya'/><link rel='enclosure' type='' href='http://www.indonesiaartnews.or.id/artikeldetil.php?id=75' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/95222056301036085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=95222056301036085&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/95222056301036085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/95222056301036085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/11/tentang-alam-lingkungan-dan-wajahnya.html' title='Tentang Bumi dan Wajahnya'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TTpbhwBRXJI/AAAAAAAAAeI/LYK1zzHKHHs/s72-c/Kurniadi%2BWidodo%2B-%2BUnnatural%2BCoexistence%2B01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3172504909535242026</id><published>2010-10-13T22:07:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:34:28.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Fotografi, dunia yang maskulin?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah memang dunia fotografi adalah dunia yang maskulin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini bermula ketika beberapa waktu yang lalu, saya sempat bertemu dengan seorang kawan fotografer perempuan yang bekerja sebagai seorang fotojurnalis. Dalam sebuah kesempatan ngobrol yang begitu santai dan menyenangkan, saya sempat bertanya mengenai hal itu, dan jawabannya, membuat saya semakin berpikir saja. “Gak tau kenapa ya lus, semenjak gue kuliah, terus ikut klub fotografi di kampus, mata gue ini dah dibentuk jadi mata lelaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mata lelaki”, sebuah idiom yang amat menarik.  Apakah ini, dan bagaimanakah idiom ini bisa muncul dan terucap dari mulut kawan saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang apa itu “mata lelaki?” tanyaku kepada kawan itu kemudian. “Maksudnya ya itu Lus, waktu gue motret, gue seperti melihat dari sudut pandang lelaki. Misalnya saja, waktu gue motret perempuan, perspektif keindahan seorang perempuan menurut gue adalah bagian-bagian dari tubuh perempuan yang dianggap seksi itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan itu kemudian semakin menarik saja, karena dalam sebuah kajian gender saya sempat membaca tentang konsep male gaze, yaitu bagaimana sebuah perspektif kelaki-lakian membantuk “mata masyarakat”. Kongkritnya adalah, bagaimana ketika seorang perempuan dalam prilakunya, misalnya saja ketika ia berpakaian, berdandan, berjalan atau melakukan hal-hal tertentu yang secara visual bisa tertangkap mata, melakukannya atas kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan itu akan dilihat oleh lelaki.&lt;br /&gt;Dengan kesadaran itu, maka segala tindakannya akan dibentuk untuk memuaskan atau paling tidak mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh lelaki itu.&lt;br /&gt;Dan yang menjadi masalah adalah, ketika kesadaran ini sudah menjadi sebuah kesadaran turun-temurun, dan dilakukan dari dari generasi ke generasi baik oleh lelaki atau perempuan. Maka kesadaran yang sejatinya adalah sebuah konstruk, akhirnya dimaklumi menjadi sebuah kesadaran yang sejati dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, itu yang dimaksud oleh kawan saya, male gaze. Sebuah konsep yang samar tetapi pasti bahwa memang masyarakat kita, telah patuh mengikuti konstruk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemudian saya kembali bertanya-tanya, bahwa sangat banal dan tidak berdasar jika saya kemudian menjustifikasi, bahwa mata para pembidik yang menekan shutter adalah seluruhnya terkonstruk oleh “mata lelaki”. Bahwa kemudian memang secara empiris, jika dilihat dari jumlah, (lagi-lagi saya sok tahu, ini juga berdasar pengamatan saya di lapangan) fotografer lelaki jumlahnya lebih banyak dibanding perempuan. Misalnya saja (ini justifikasi semena) dalam penganugerahan PFI, juri perempuan hanya satu orang, dan pemenang dari kelamin perempuan hanya satu orang. Tentu tidak bisa dikatakan bahwa seluruh fotografer (khususnya yang ada di Indonesia) memiliki konstruk pandang yang benar-benar lelaki (baca patriarki). Tentu ada juga, bahkan mungkin tidak sedikit, fotografer (bahkan lelaki) yang memiliki sudut pandang sangat sensitif gender. Misalnya saja, salah seorang kawan fotografer yang saya kenal, Karolus Naga, memotret kisah para Waria dalam Pesantren Senin-Kamis di Yogyakarta. Tentu saya bisa mengatakan bahwa, upaya Naga untuk memotret para Waria ini adalah semacam cara untuk mendokumentasi sekaligus meneriakkan isu-isu gender yang masih terus berkelindan dalam masyarakat kita. Selain itu, saya juga mengenal seorang kawan fotografer perempuan yang lewat karyanya ingin mengisahkan soal perempuan serta berbagai permasalahannya. Stefanni Imelda adalah salah seorang kawan fotografer perempuan yang saya kenal itu. Lewat Mata Perempuan, sebuah eksibisi yang mencoba mendokumentasikan perempuan dari mata perempuan, Fanni yang menjadi salah satu motor penggeraknya, ingin menjadikan fotografi sebagai medium bercerita yang mampu menembus gender dan realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika demikian, kebingungan saya ini tampaknya butuh sebuah penjelasan yang amat bijak. Dan sepertinya pembicaraan tentang mengapa banyak mata pembidik, salah satunya adalah kawan perempuan saya yang fotojurnalis itu, terbentuk menjadi “mata lelaki” harus dimulai dari saat media fotografi ini tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil obrol-obrol saya lainnya, tentang tema yang kurang lebih sama dengan serang kawan fotografer lainnya, secara amat singkat, bisa dikatakan, bahwa pada mulanya, fotografi adalah sebuah medium yang diciptakan oleh para pencetusnya untuk menghadirkan satu paradigma baru. Para pencetusnya, yaitu William Henry Fox Talbot, Joseph Nicephore Niepche dan Louis Jacques Mande Daguere melakukan berbagai percobaan pada waktu dan tahun berbeda untuk menjawab tantangan akan pencarian obyektifitas dari the real. Bagaimana hal yang benar-benar terjadi atau benar-benar ada, serta sudah terlampaui waktu itu, dapat dibekukan secara visual dan dapat dilihat kembali terus menerus. Pada saat itu, fotografi belum benar-benar menjadi industri massif, fotografi masih menjadi barang mahal, hobi yang hanya dapat dimiliki dan digunakan oleh para kalangan atas saja. Selain itu, dengan alat foto yang begitu besar dan berat, fotografi pada saat itu secara tidak langsung menjadi semacam monopoli para lelaki (ini sepertinya berhubungan dengan konstruk di masyarakat, bahwa fisik perempuan lebih lemah dibanding para lelaki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika ada fotografer-fotografer perempuan ‘militan’ yang secara fisik dan karya tidak berbeda dengan para fotografer laki-laki (seperti Dorothea Lange, misalnya yang pada tahun 1936, memotret para keluarga migran di California), anggapan bahwa perempuan memiliki keterbatasan dalam dunia fotografi, seperti tidak berlaku lagi.&lt;br /&gt;Apalagi jika merunut kembali ke tahun-tahun sebelumnya saat seorang “Eastman” dengan Kodaknya mencipta kamera yang begitu compact, murah dan terjangkau, maka asumsi bahwa dunia fotografi hanya mampu digumuli oleh para lelaki adalah sesuatu yang sepertinya tidak tepat lagi. “You press the button we do the rest”, dengan slogan ini, Eastman sepertinya ingin mengatakan ‘siapapun bisa memotret, karena memotret adalah pekerjaan mudah, dan kerepotan selanjutnya akan langsung ditangani oleh Kodak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemudian, ketika ranah-ranah dalam foto semakin berkembang, seiring dengan makin berkembangnya kapitalisasi dalam dunia fotografi, komodifikasi keindahan, kecantikan, dan akhirnya perempuan mulai berkembang. Dari hasil obrol-obrol ngalur ngidul itu, kami berkesimpulan, salah satu ranah yang cukup terkapitalisasi karena harus berkompromi teramat sangat dengan pasar adalah ranah photo fashion. Saat pasar mulai benar-benar berkembang, dan memasuki hampir setiap ranah kehidupan manusia, kebutuhan akan propaganda pun makin meningkat. Dalam kebutuhan akan propaganda itu, kebutuhan akan aktor untuk dikomodifikasi tentu begitu besar. Dalam masyarakat yang sungguh patriarkis ini, perempuan akhirnya menjadi semacam santapan lunak yang seringkali dikomodifikasi. Dengan konstruk-konstruk yang mengelilingi tubuh perempuan, serta peran dan statusnya dalam masyrakat, banyak sekali propaganda-propaganda yang dilakukan oleh pasar itu semakin melanggengkan hal itu. Misalnya saja, simbol kecantikan seringkali divisualisasi dalam bentuk perempuan langsing, putih, berambut lurus, dan berwajah indo.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dari obrol-obrol itu adalah, mungkin saja, ungkapan kawan saya yang mengatakan matanya sudah dibentuk menjadi ‘mata lelaki’ itu terjadi ketika fotografi mulai dikapitalisasi. Dan ketika itu, secara tidak langsung, sepertinya fotografi menjadi dunia yang maskulin, dan terma ini tidak hanya dalam ranah photo fashion, tetapi memasuki hampir seluruh ranah fotografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tentu arus-arus kesadaran lain akan kondisi itu, tentu begitu besar membuncah di sekitar kesadaran yang sudah (sepertinya) terfiksasi itu, banyak fotografer dengan karya-karyanya (mungkin karya idealisnya) mencoba mendobrak konstruk-konstruk itu. Dan ini tidak melulu tergantung pada kelaminnya, karena bisa saja, dan sangat mungkin, seorang fotografer perempuan sama sekali tidak memiliki perspektif kritis soal isu perempuan, tetapi sebaliknya, bisa saja seorang fotografer laki-laki memiliki perspektif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana menurut kawan-kawan? Karena sungguh, saya sendiri merasa belum benar-benar menemukan jawaban atas pertanyaa saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam&lt;br /&gt;Lucia Dianawuri&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3172504909535242026?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3172504909535242026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3172504909535242026&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3172504909535242026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3172504909535242026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/10/fotografi-dunia-yang-maskulin.html' title='Fotografi, dunia yang maskulin?'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8446995062702548356</id><published>2010-10-06T14:00:00.004+07:00</published><updated>2011-01-20T20:03:13.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Perhaps Love, Momen Personal dalam Bahasa Universal</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Mungkin cinta adalah saat seorang ibu sedang berjuang antara hidup dan mati dalam ruang persalinan, mungkin cinta adalah saat seorang ibu tersenyum melihat sang buah hati menguap dalam dekapan, dan mungkin cinta adalah saat seorang ayah mengintip dari balik jendela bidik dan menekan tombol rana untuk mengabadikan momen yang tak pernah ingin ia lupakan. &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin Dicky Jiang, lewat bidikan-bidikannya itu sedang menunjukkan cinta pada keluarga kecilnya, dan mungkin foto-foto yang ditampilkan oleh Dicky Jiang ini adalah sebuah ekspresi cinta sederhana dari seorang lelaki yang begitu sentimentil, tentang momen ‘menjadi Ayah’. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjadi Ayah adalah sebuah momen personal yang dimaknai secara personal pula oleh sang empunya, dan secara personal, saya sendiri tidak pernah merasakan momen itu. Entah bagaimana rasanya mendengar dan melihat tangis pertama buah hati, atau melihat istri tercinta menangis terharu memeluk si kecil yang berteriak-teriak karena kenyamanannya selama sembilan bulan terusik. Sungguh saya hanya bisa ikut merasakan aura itu dari foto-foto Dicky Jiang yang begitu manis bertutur tentang rasa itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memotret adalah kegiatan subyektif, memotret adalah sarana untuk memahami, berekspresi, dan tentu saja mendokumentasikan. Dalam bukunya On Photography, Susan Sontag sempat bertutur bahwa fotografi adalah sebuah kegiatan memandang dunia – t&lt;span style="font-style: italic;"&gt;o appropriate the thing photographed - putting oneself into a certain relation to the world.&lt;/span&gt; Memotret adalah saat-saat dimana diri kita sebagai persona lebur dalam frame-frame yang dibekukan. Ini adalah sebuah metamorfosa panjang dari awal mula terciptanya fotografi yang pada mulanya ingin menghadirkan satu paradigma baru dari apa yang diperjuangkan oleh William Henry Fox Talbot, Joseph Nicephore Niepce dan Louis Jaques Mande Daguere dengan sejumlah percobaan yang mereka lakukan pada waktu dan tahun yang berbeda. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat itu medium fotografi ditujukan sebagai medium yang mampu menjawab tantangan akan pencarian 'obyektifitas' dari 'the real'. Bagaimana hal yang benar-benar terjadi atau benar-benar ada, serta sudah terlampaui waktu itu, dapat dibekukan secara visual dan dapat dilihat kembali terus menerus. Namun, dalam konteks kekinian, ketika fotografi telah menjadi begitu massif, fotografi telah berproses menjadi sebuah bahasa, pesan visual subyektif sang fotografer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Momen-momen personal yang begitu romantis, juga sentimentil adalah sebuah pernyataan yang secara implisit ingin dikatakan oleh si pembidik gambar lewat sebuah bahasa universal, bahasa foto. Lewat bahasa foto itu, si pembidik gambar –Dicky Jiang- mungkin saja dengan jujur ingin berkisah soal kisah cintanya yang begitu dalam pada keluarganya, pada kekasih, dan anak-anaknya. Kisah cintanya menjadi seorang ayah yang pada setiap alurnya membuat ia begitu tersentuh. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lewat bahasa gambar Dicky Jiang ingin membagi rasa serta aura itu. Bahwa dalam kisah-kisah keseharian, yang bisa saja dialami oleh banyak orang, peristiwa menjadi Ayah yang merupakan sebuah peristiwa biasa dalam banyak masyarakat kita, merupakan sebuah peristiwa yang tidak biasa bagi Dicky Jiang, atau mungkin bagi beberapa orang. Karena dalam momen personal itu, ada kebahagiaan begitu mendalam yang berbeda dengan kebahagiaan lainnya, bahwa dalam momen personal itu, ia merasa beruntung memiliki kekasih-kekasih yang akan menjadi teman seumur hidupnya, bahwa dalam momen menjadi ayah itu, ada cinta yang tak terjelaskan sekaligus tanggung jawab yang mengikutinya. Sebuah gambar-gambar personal yang dapat merengkuh sebuah rasa yang universal. Rasa yang mungkin saja sempat dialami oleh banyak orang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti Barthes, dalam telaah visual terakhirnya yang begitu personal, mencoba merefleksikan apa yang mampu dihadirkan oleh foto &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Winter Garden&lt;/span&gt; dalam kenangan akan sang ibunda tercinta. Dalam telaahnya yang begitu sentimentil itu, Barthes akhirnya menemukan bahwa bukanlah foto si anak gadis yang dikenalinya sebagai sang ibu yang berbicara tentang kebangkitan ibunda tercinta, namun pada kegelisahan pribadinya, pada kerinduannya yang teramat dalam pada sang ibunda. Dari aura yang muncul dari foto yang begitu personal itu, Barthes memanifestasikan segala gelisah dan rindunya dalam sebuah puisi indah berjudul l&lt;span style="font-style: italic;"&gt;e chambre claire - Camera Lucida.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benang merahnya adalah bukan pada fotonya, seperti yang dilakukan oleh Dicky Jiang, yang mungkin saja hanya ingin menjadikan foto sebagai media untuk bertutur soal kisahnya yang sentimentil, dan personal itu. Lewat medium foto pula, seorang Jacques- Henri Lartigue, menangkap momen-momen personal yang telah lewat. Sebuah pembekuan visual yang jika dilihat kembali akan menjadi sebuah ‘dunia’ yang utuh atau seperti yang dikatakan Sontang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to collect photograph is to collect the world&lt;/span&gt; – &lt;span style="font-style: italic;"&gt;On Photography&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau mungkin saja, lewat foto-foto personal ini, Dicky Jiang ingin mengatakan bahwa perhaps love is HOPE.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*hadiah untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sarah Hope Yuwono&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lucia Dianawuri dan Karolus Naga, untuk &lt;a href="http://citrakostha.blogspot.com/2010/10/sarah-hope-yuwono-dicky-jiang.html"&gt;citrakostha&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8446995062702548356?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://citrakostha.blogspot.com/2010/10/sarah-hope-yuwono-dicky-jiang.html' title='Perhaps Love, Momen Personal dalam Bahasa Universal'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8446995062702548356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8446995062702548356&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8446995062702548356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8446995062702548356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/10/perhaps-love-momen-personal-dalam.html' title='Perhaps Love, Momen Personal dalam Bahasa Universal'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-1083410188431184768</id><published>2010-09-07T06:49:00.001+07:00</published><updated>2011-05-09T15:30:18.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pada Suatu Waktu di Negeri Asing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku adalah orang asing di tanah yang penuh dengan ranum madu dan hentak kaki bocah-bocah pada asinnya air laut serta kokohnya tembok-tembok kota tua ini.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah pertemuan antara Barat dan Timur, juga sebaliknya. Sebuah pertemuan yang membawa melankoli bagi masing-masing yang bertemu. Bagi Caro, juga bagi Erik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caro bertemu Erik di negeri Timur, dimana srengenge*  selalu bersinar serta wajah-wajah manusianya, selalu tersenyum lebar terbakar matahari. Pertemuan mereka itu berlanjut pada sebuah kisah soal bagaimana akhirnya cita-cita mereka membangun sebuah rumah bertaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timur, bagi banyak masyarakat Barat, begitu banyak menjanjikan eksotika visual yang selalu menarik untuk direkam. Sebuah masyarakat yang bagi banyak orang Barat, masih tradisional, hidup dengan mitos-mitos, serta amat berwarna dalam kesehariannya. Sementara Barat, dari kacamata orang Timur, seperti gambaran sebuah tembok raksasa besar, dengan bangunan-bangunan kokoh, terkesan dingin, serta makhluk-makhluk modern yang lebih individualis. Sebuah dikotomi Barat Timur, yang pada jaman ini, seharusnya sudah lebur dan tidak berbatas lagi. Karena Barat juga telah menghibrid Timur, begitu pula sebaliknya. Tidak ada lagi batas ruang dan waktu, karena Barat dan Timur adalah sebuah konsepsi yang juga secara semena dikonstruks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caro dan Erik dalam lanskap mata mereka, sepertinya ingin berkisah tentang gambaran personal mereka soal negeri Barat dan negeri Timur itu. Lewat seri foto, Caro, “My Baby is Sleeping in the Middle of the Wave, dan Erik, “No Title” , ingin merefleksikan pengalaman personal mereka tentang orang Barat melihat Timur dan orang Timur melihat Barat. Dua orang yang masing-masing berada di tanah asing dengan begitu banyak kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caro merekam eksotika visual Timur di utara Borneo. Ia bertemu dengan pribadi-pribadi Bajau Laut yang selalu mengapung karena berumah di tengah lautan. Sementara Erik merekam sebuah kota di negeri Barat yang begitu bermakna personal untuknya. Ia bertemu dengan Wina, Ibukota Austria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Caro, Bajau Laut, makhluk-makluk yang ada di dalamnya, serta luka bakar matahari pada kulit adalah sebuah senyum lebar kebahagiaan. Mereka bahagia dengan tradisinya, kesederhanaan, serta asin air laut yang telah menjadi urat nadi hidup mereka. Tanpa laut, mereka menjadi “miskin”. Sedangkan bagi Erik, Wina adalah sebuah kota khas Eropa, yang tua, diam, sepi, serta hitam putih. Riuh rendah sebuah ibukota, ditangkap Erik dengan kekosongan, karena untuk Erik, kosong adalah sebuah melankoli tentang yang terkasih, karena Wina adalah kota dimana sang terkasih tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keindahan yang masing-masing dimaknai oleh Caro dan Erik secara berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya, bertemu dan mempertemukan diri dengan apa yang akhirnya mereka cintai, di negeri asing. Di negeri, Barat ataupun Timur, yang masing-masing memberi hidup dan menginspirasi, untuk kemudian melebur menjadi satu. Menjadi sebuah kisah pertemuan seseorang pada suatu waktu di negeri asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menempuh hidup baru untuk Caro dan Erik,&lt;br /&gt;Save journey to both Estrada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucia dianawuri.&lt;br /&gt;(sedikit apresiasi untuk presentasi foto Erik dan Caro di Chepas Photo Forum, YUK, Jogja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt;matahari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-1083410188431184768?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/1083410188431184768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=1083410188431184768&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1083410188431184768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1083410188431184768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/09/pada-suatu-waktu-di-negeri-asing.html' title='Pada Suatu Waktu di Negeri Asing'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3992380704301137974</id><published>2010-08-31T18:44:00.000+07:00</published><updated>2011-01-20T20:07:21.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>seperti gula</title><content type='html'>Selalu seperti gula, ketika orang jatuh cinta, lalu mulai meleburkan hari-harinya, mungkin juga hatinya pada yang dicinta.&lt;br /&gt;Kadang jadi terlupa pada diri sendiri. Lupa bahwa bisa pergi ke warung makan sendiri, bisa pergi ke supermarket sendiri, bahkan jadi lupa bisa pergi ke toilet sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, sudah mulai tumbuh sepasang kaki tambahan di samping kaki yang lain. Jadi jika kaki yang sepasang tidak ikut serta, rasanya seperti lumpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu seperti gula kalau saya bilang, semua manis, bikin tersenyum. Membuat garis di bibir jadi melengkung ke atas. Seperti habis minum teh manis hangat dengan gula batu. slurupppp..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh tapi tunggu dulu, itu belum tentu melulu begitu. Karena gula juga bisa mencair. Kalau ia terkena terik, atau suhu tinggi. Jadi kalau sudah mencair, terkadang kaki-kaki tambahan itu sepertinya lepas dengan sendirinya. Lalu ingatan bahwa semua bisa dilakukan sendiri mulai muncul. Ingatan yang sebenarnya tidak ingin diingat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya yang bisa dilakukan hanya menunggu gula cair itu jadi beku lagi. Karena, walaupun begitu ia kan tetap manis juga rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah gula..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3992380704301137974?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3992380704301137974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3992380704301137974&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3992380704301137974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3992380704301137974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/08/seperti-gula.html' title='seperti gula'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7754790095050949062</id><published>2010-08-30T07:47:00.004+07:00</published><updated>2011-05-09T15:35:43.063+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>mantra untuk hari ini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THsAFB5w6MI/AAAAAAAAAZM/vAfNex8L18Y/s1600/bunda+maria.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THsAFB5w6MI/AAAAAAAAAZM/vAfNex8L18Y/s400/bunda+maria.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510998655427995842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;saya percaya semesta akan melindungi saya satu hari ini, ketika bangun pagi lalu menguap dan melap kotoran mata saya hingga secara otomatis terduduk dan mengeluarkan mantra-mantra&lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt;'salam maria penuh rahmat tuhan sertamu&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt;terpujilah engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu yesus....&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;tidak ada tanda salib, saya hanya duduk dan mengucapkan kata kata itu, entah ini sebuah keyakinan atau memang syaraf-syaraf motorik saya yang sudah hapal dan langsung saja bergerak tak terkontrol untuk mengucapkannya, yang jelas saya merasa nyaman dan lega mengucapkannya&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;saya ini penakut, walau saya termasuk cukup berani jalan-jalan tengah malam sendirian sambil bersepeda dari kos saya di pakualaman sampai ke warung roti sahabat saya di sekitaran RS PKU Muhamaddiyah. ato pulang dini hari sekitar pukul satu pagi dari kos kawan di daerah Gejayan sampai ke kos saya, ato tidur sendirian di atas loteng rumah saya yang kata kakak saya yang (katanya) bisa melihat hantu ada hantu perempuan bergentayangan di situ. tapi saya ini penakut. saya suka takut menghadapi hari esok..hmmmphhhhh, menggelikan..!!!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;isi kepala saya memang selalu berputar. si lelakiku pernah berkata "jangan terbunuh pikiran sendiri", dan ya, saya pikir saya sering hampir bunuh diri dengan pikiran sendiri. semua dipikirkan sampe seringkali suka bengong bengong sendiri bahkan ketika berada di tengah jalan raya ketika mengenderai sepeda motor ayah, seringkali bus atopun angkot di jakarta hampir menabrak saya. ketika di atas sepeda mini saya di kota jogja ini pun, pikiran saya sering melangut jauh sampai entah ke mana. padahal saya sudah tau dan menyimpan banyak kata bijak soal "hiduplah untuk hari ini", tapi kok ya saya suka hidup untuk hari lain dan lain lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;itu yang sering membuat saya takut menghadapi hari esok. karena isi kepala saya selalu berputar...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;oleh karena itu saya butuh mantra yang membuat semesta mampu melindungi saya, dan saya cuma tau mantra itu....&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt;santa maria bunda allah doakanlah kami yang berdosa ini&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt;sekarang dan waktu kami mati amin..'&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THsAN_VfgDI/AAAAAAAAAZU/EVGgBWKksvQ/s1600/mother+mary.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THsAN_VfgDI/AAAAAAAAAZU/EVGgBWKksvQ/s400/mother+mary.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510998809357811762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(tulisan ini dibuat tahun 2007, tetapi saya masih tetap takut hingga hari ini (2010), saya mau jadi apa, dan sepertinya saya takut menjadi tidak berarti untuk hidup saya sendiri...mungkin saya butuh tidak hanya sekedar mantra ini...)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7754790095050949062?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7754790095050949062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7754790095050949062&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7754790095050949062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7754790095050949062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/08/mantra-untuk-hari-ini.html' title='mantra untuk hari ini'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THsAFB5w6MI/AAAAAAAAAZM/vAfNex8L18Y/s72-c/bunda+maria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-5353265978231549779</id><published>2010-08-28T10:52:00.010+07:00</published><updated>2011-01-24T10:37:03.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>the wedding</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiJLyVFt0I/AAAAAAAAAY0/ZOPS0kNWmMM/s1600/flower.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiJLyVFt0I/AAAAAAAAAY0/ZOPS0kNWmMM/s400/flower.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510304979669595970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiJDQO_azI/AAAAAAAAAYs/zvxQ3e1qNn8/s1600/dupa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiJDQO_azI/AAAAAAAAAYs/zvxQ3e1qNn8/s400/dupa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510304833078258482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiI8phBpAI/AAAAAAAAAYk/_g9B8EUwdNs/s1600/ayam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiI8phBpAI/AAAAAAAAAYk/_g9B8EUwdNs/s400/ayam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510304719605703682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiI18KAFPI/AAAAAAAAAYc/6kph_tXU9Lk/s1600/leluhur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiI18KAFPI/AAAAAAAAAYc/6kph_tXU9Lk/s400/leluhur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510304604350321906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiIrNb198I/AAAAAAAAAYU/NCVjBhx3I14/s1600/bocah+kecil+.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiIrNb198I/AAAAAAAAAYU/NCVjBhx3I14/s400/bocah+kecil+.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510304420009998274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiIipmBN1I/AAAAAAAAAYM/ii_0koUtzD0/s1600/kursi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiIipmBN1I/AAAAAAAAAYM/ii_0koUtzD0/s400/kursi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510304272950048594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiIJA6qfhI/AAAAAAAAAYE/8xvT9P4-yfg/s1600/the+wedding.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiIJA6qfhI/AAAAAAAAAYE/8xvT9P4-yfg/s400/the+wedding.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510303832534056466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiJVuwIRaI/AAAAAAAAAZE/mSc5Xvs7uPE/s1600/bunga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiJVuwIRaI/AAAAAAAAAZE/mSc5Xvs7uPE/s400/bunga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510305150507959714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;congratulation to erik and caro, save journey, my god and the universe bless you both..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-5353265978231549779?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/5353265978231549779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=5353265978231549779&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5353265978231549779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5353265978231549779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/08/wedding.html' title='the wedding'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/THiJLyVFt0I/AAAAAAAAAY0/ZOPS0kNWmMM/s72-c/flower.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8205948106238928573</id><published>2010-08-10T18:57:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:36:28.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mimpi Tentang Genesis dan Purgatorio</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bermimpi,&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah predikat yang dengan semena sepertinya cukup pas saya tempelkan pada apa yang sedang dilakukan oleh dua kawan saya, Mike dan Naga. Terma itu tiba-tiba saja terlintas di kepala, sehabis melihat dan kemudian mendengar cerita dua kawan saya ini tentang Genesis dan Purgatorio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mike bermimpi tentang sebuah penciptaan dunia yang berawal dari sebuah titik nihil yang kemudian secara ironis (sepertinya akan) menuju pada titik nihil kembali. Sebuah kehancuran yang disebabkan oleh hasil dari penciptaan itu sendiri. Sementara Naga bermimpi tentang sebuah perjalanan. Perjalanan yang berpusat pada sebuah gunung, yang menjadi semacam pusat kosmis orang Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi-mimpi kedua kawan saya ini, kemudian mereka narasikan dalam fragmen-fragmen gambar yang ingin secara lugas maupun secara simbolik berbicara tentang pengalaman personal mereka soal manusia, soal diri mereka sendiri dengan alam sekitar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti membaca sebuah buku, mengikuti kisah dua orang kawan saya melalui rangkaian foto-foto ceritanya itu, saya harus benar-benar berkonsentrasi dan bersabar membuka lembar demi lembar gambar yang ingin bercerita tentang sesuatu. Kedua kawan ini seperti ingin berefleksi terhadap kondisi kekinian manusia dengan alamnya. Mengutip ucapan seorang kawan lain, seperti ada gugatan yang ingin disampaikan oleh Mike dan Naga. Sebuah gugatan terhadap manusia. Manusia yang sejatinya menjadi penciptaan terakhir dan utama dalam narasi besar Genesis, serta titik penting yang membuat narasi Purgatorio dalam trilogi La Divina Commedia milik Dante Alighieri berjalan. Tanpa tokoh-tokoh manusia, dua narasi besar itu, akan kosong dan tidak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan media foto, Mike ingin mengatasi batas-batas ruang dan waktu, serta memapatkan mimpinya tentang sebuah “gugatan” dalam sebuah kisah Genesis, The Shadow of the 6th Day. Genesis, adalah sebuah narasi besar dalam tradisi Kristianitas tentang awal mula seluruh alam semesta. Secara harafiah, Mike mengurutkan satu per satu urutan awal mula terciptanya elemen-elemen yang ada di semesta ini. Air, lautan, matahari, hingga yang ke enam, manusia, sebelum akhirnya Tuhan berlibur sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mike memotret komunitas masyarakat lokal di Putussibau, Kalimantan Barat. Sebuah komunitas lokal yang mau tidak mau harus berjuang menahan gerusan jaman dan modernitas. Perlahan tetapi pasti modernitas dan benturannya itu telah merenggut kearifan lokal mereka. Secara satir Mike ingin bercerita bahwa “bayang-bayang” manusia lah yang kemudian merusak satu- persatu yang dicipta itu. Bahkan pada akhirnya manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mike tidak ingin “otoriter” dalam bercerita, ungkapnya tentang warna-warna dalam fotonya. Lewat warna-warna dalam fotonya, Mike ingin menjadikan semacam media gugatan tentang ironi sebuah relasi antara manusia dengan alam sekitarnya. Sebuah titik nihil yang kembali lagi ke titik nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Naga, lewat media foto hitam putih yang menurutnya sederhana itu, ingin berbicara soal mimpinya tentang sebuah perjalanan. Perjalanan personal, melihat dan mengalami sendiri tentang sebuah kota yang telah didiami selama hampir sembilan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merapi adalah pusat kisahnya. Sebuah gunung yang dipercaya menjadi semacam pusat kosmis orang Jogja. Dahulu, ia begitu sakral, Ia menjadi semacam simbol dari hidupnya mitos-mitos yang melingkupi Jogja. Sekarang, Ia telah melebur dalam peradaban kekinian. Merapi tidak melulu sakral, tetapi sejatinya ia terus dan melulu menghidupi orang-orang yang ada di sekitarnya. Baik secara materi maupun imateri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Purgatorio, sebuah proyek kisah mata yang masih terus berjalan, Naga ingin menggugat secara satir, bahwa “Merapi” seharusnya “dicuci” dari leburan kekinian itu. Yah, tentu ini sebuah utopia, apalagi dengan bergulirnya jaman, “Merapi” juga harus peka dan berkompromi terhadap putaran zaman itu. Tetapi, tampaknya Naga hanya ingin bermimpi. Bermimpi bahwa Merapi benar-benar menjadi Merapi. Sebuah tempat yang secara personal dimaklumi Naga memiliki aura magis dimana siapapun bisa hanya terduduk diam memandanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The photograph is a thin slice of space as well as time. In a world ruled by photographic images, all borders (“framing”) seem arbitrary.” (sontang, on photography).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi dari Genesis sampai Purgatorio ini adalah sebuah irisan ruang juga waktu, yang telah melebur batas-batas imajinasi dua kawan saya ini. Mungkin saja kalau saya boleh sok tahu, mimpi tentang selarasnya manusia dengan alam, dengan makro juga mikrokosmos sekitar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lucia dianawuri,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;apresiasi untuk presentasi foto Michael Eko dan Karolus Naga (&lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://cephasphotoforum.wordpress.com/"&gt;Chepas Foto Forum&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;) di Galeri Foto Jurnalistik Antara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8205948106238928573?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8205948106238928573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8205948106238928573&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8205948106238928573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8205948106238928573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/08/mimpi-tentang-genesis-dan-purgatorio_10.html' title='Mimpi Tentang Genesis dan Purgatorio'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3086688425206846809</id><published>2010-08-08T02:13:00.005+07:00</published><updated>2011-01-24T10:37:03.379+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>bapak dan ibu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TF2woMMmQvI/AAAAAAAAAX8/J_Zt5XCOFKI/s1600/bakso+lover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TF2woMMmQvI/AAAAAAAAAX8/J_Zt5XCOFKI/s400/bakso+lover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502748524231934706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TF2wfs3qEUI/AAAAAAAAAX0/5oJgR7dlR8g/s1600/bapak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TF2wfs3qEUI/AAAAAAAAAX0/5oJgR7dlR8g/s400/bapak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502748378383651138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;bapak sering bilang kepada saya,... "jadi anak yang jujur", sedangkan ibu... "jangan lupa belajar dan berdoa", dan kalau saya sendiri yang merangkumnya maka bapak ibu cuma ingin saya jadi "manusia yang bahagia"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3086688425206846809?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3086688425206846809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3086688425206846809&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3086688425206846809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3086688425206846809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/08/bapak-dan-ibu.html' title='bapak dan ibu'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/TF2woMMmQvI/AAAAAAAAAX8/J_Zt5XCOFKI/s72-c/bakso+lover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-2027143739640104203</id><published>2010-02-04T07:13:00.007+07:00</published><updated>2011-01-24T10:37:03.379+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>a second trip</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRt2L9H2I/AAAAAAAAAWs/4UbX_Bb7gjc/s1600-h/IMG_0640+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRt2L9H2I/AAAAAAAAAWs/4UbX_Bb7gjc/s400/IMG_0640+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434175379713367906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRnf63r0I/AAAAAAAAAWk/KbZGL3jfgBw/s1600-h/IMG_0648+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRnf63r0I/AAAAAAAAAWk/KbZGL3jfgBw/s400/IMG_0648+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434175270656913218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRhLWyr6I/AAAAAAAAAWc/lG4p-neZxAo/s1600-h/IMG_0654+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRhLWyr6I/AAAAAAAAAWc/lG4p-neZxAo/s400/IMG_0654+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434175162057666466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRaeZQZ0I/AAAAAAAAAWU/l4JmLy5oHYk/s1600-h/IMG_0643+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRaeZQZ0I/AAAAAAAAAWU/l4JmLy5oHYk/s400/IMG_0643+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434175046909192002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRTYf701I/AAAAAAAAAWM/7lpmx0feU2E/s1600-h/IMG_0653+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRTYf701I/AAAAAAAAAWM/7lpmx0feU2E/s400/IMG_0653+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434174925067506514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;lets move move and go go and have a pleasant trip with some friends&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-2027143739640104203?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/2027143739640104203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=2027143739640104203&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2027143739640104203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2027143739640104203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/02/second-trip.html' title='a second trip'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2oRt2L9H2I/AAAAAAAAAWs/4UbX_Bb7gjc/s72-c/IMG_0640+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-5185175857219587848</id><published>2010-01-28T13:49:00.006+07:00</published><updated>2011-05-09T15:37:36.276+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>sudahkah anda makan anjing hari ini?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2Ezvbla_1I/AAAAAAAAAVc/s8TgM4jY2Hw/s1600-h/DSC02294.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2Ezvbla_1I/AAAAAAAAAVc/s8TgM4jY2Hw/s400/DSC02294.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431679515537112914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak ada hubungannya dengan masalah kemanusiaan, atau belas kasihan. Ini berhubungan dengan masalah rasa, atau mungkin lebih tepat soal kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan rasa ini cuma bisa dikatakan benar-benar berhasil, ketika seluruh tubuh bereaksi serupa. Bereaksi seperti orang yang baru saja mencapai titik orgasme. Hanya saja ini tidak ada hubungannya dengan masalah kelamin. Tentu saja ada libido, tetapi kalau boleh saya bilang, libido ini berhubungan dengan lidah dan perut, yang akan bermuara di usus besar, lalu berakhir di dubur dan bertumpuk-tumpuk di jamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ini berhubungan dengan makanan. Makanan yang rasanya luar biasa nikmat, tetapi memiliki daya sugesti sangat besar bagi beberapa orang (atau jangan-jangan saya hanya gede rasa, mungkin cuma saya yang merasa seperti itu). Daya sugesti itu sayangnya bisa membuat rasa nikmat itu berubah menjadi rasa mual. Entah karena rasa pri kemanusiaan (boleh direvisi mungkin saja bukan pri kemanusiaan, tetapi pri kebinatangan), belas kasihan saya yang besar kepada para hewan, atau jangan-jangan memang ada yang tidak pas dengan makanan itu. Yang jelas ini sudah terjadi berkali-kali. Beberapa kali, saya terus mencoba untuk merasionalisasi sugesti itu, tetapi berkali kali pula, rasa mual itu datang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berhubungan dengan sengsu. Atau tongseng asu (asu=anjing dalam bahasa Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0AKdFJ3I/AAAAAAAAAVk/ZFMrbdkU1nw/s1600-h/DSC02288.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0AKdFJ3I/AAAAAAAAAVk/ZFMrbdkU1nw/s400/DSC02288.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431679802996500338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di dusun Temon, Klaten, Jawa Tengah, ada sebuah keluarga yang hidup dengan mengandalkan eksistensi, kepatuhan, dan mungkin saja ketidakberdayaan makhluk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan..., keluarga ini bukan seorang birokrat, pejabat, penjahat, penipu, koruptor, tukang kredit atau seorang rentenir. Mereka tidak sehina itu. Mereka mandiri, berdiri dengan kedua kaki mereka, bekerja dengan kedua tangan mereka, mengolah dan memanfaatkan apa yang mereka miliki dengan penuh kebanggaan. Mereka adalah keluarga Narsius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak dari keluarga ini adalah seorang penjagal anjing terkenal di Klaten. Sedangkan sang Ibu adalah seorang pengolah daging anjing bertangan dingin, daging anjing jadi begitu nikmat di tangannya. Ini yang saya mahfumi saat pertama kali mencicipi sengsu milik Pak Narsius ini. Mungkin jika saya tidak tahu bahwa sengsu itu berasal dari seekor anjing, pasti perut saya tidak akan mual setelah beberapa lama mencerna daging itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali melangkahkan kaki ke rumah Pak Narsius yang juga berfungsi sebagai tempat ia bekerja untuk menjagal anjiing, mengolahnya, menyajikannya untuk para pemakan anjing serta berfungsi sebagai warung kelontong, ada perasaan yang sungguh bercampur-campur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan ekor anjing berkeliaran bebas di sekitar rumah itu. Semua tampak mengibas-kibaskan ekornya saat pertama kali melihat saya. Bahkan beberapa diantaranya tampak sangat gembira ketika saya menyentuh mereka. Sepertinya tidak ada rasa takut bahwa mereka mungkin saja suatu saat akan menjadi salah satu korban penjagalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0X7MHEzI/AAAAAAAAAV0/JzOAOzWbff4/s1600-h/DSC02289.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0X7MHEzI/AAAAAAAAAV0/JzOAOzWbff4/s400/DSC02289.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431680211215651634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini mungkin ada hubungannya dengan rantai makanan. Yang kuat memakan yang lemah dan yang lemah dimakan yang kuat. Ini yang mungkin membuat hidup terus berjalan. Selalu harus ada yang rela menjadi martir bagi yang lainnya, demi berputarnya dunia. Dan kesadaran itu juga dimiliki oleh seekor anjing. Sebuah kesadaran yang sudah terinternalisasi ketika seorang ataupun seekor makhluk dikreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga konsep bertahan hidup. Semua makhluk sepertinya bertarung dalam sebuah arena. Menurut Bourdieu, arena adalah sebuah tempat bertarung. Mempertarungkan kapital-kapital yang dimilki oleh masing-masing. Tapi tentu tidak dalam konteksnya jika mensejajarkan anjing dengan manusia. Karena ada sebuah arena yang berbeda. Bourdieu hanya menjelaskan konsep ini dengan konsep-konsep bahasa yang dimiliki oleh manusia, bukan anjing, ataupun makhluk lainnya yang memiliki tatanan linguistiknya sendiri. Dalam arena ini yang unggul adalah yang mampu mengakumulasi kapital-kapitalnya. Walau setiap kapital memiliki ukuran yang berbeda dan bisa saja dikonversikan menjadi bentuk kapital lainnya. Pak Narsius dalam konteks ini memiliki tumpukan kapital-kapital yang amat besar dibandingkan anjing-anjing yang berkeliaran di rumahnya juga yang terkurung di dalam kandang-kandang tepat berada di belakang rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan lagi kapital ukurannya, karena anjing-anjing ini jelas tidak memiliki konsep kapital yang sama dengan Pak Narsius. Ukurannya adalah superioritas. Menjadi “Tuhan” bagi anjing-anjing ini. Pak Narsius bisa memutuskan kapan saja ia ingin menjagal anjing-anjing itu, tanpa harus bertanya. Tidak ada belas kasihan dalam konsep penjagalan ini. Karena ini adalah sebuah pertahanan hidup. Jika tidak menjagal anjing, maka tidak ada pemasukan bagi keluarga Narsius.Walau ada toko kelontong, tetapi sengsu adalah pemasukan paling besar bagi keluarga Narsius yang jumlahya juga tidak seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0nYFNdNI/AAAAAAAAAV8/7_-0UswIu48/s1600-h/DSC02291.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0nYFNdNI/AAAAAAAAAV8/7_-0UswIu48/s400/DSC02291.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431680476669375698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menjadi “Tuhan” bagi anjing-anjing ini adalah sesuatu yang sudah mengalir dalam darah lelaki Narsius. Ia telah melakukan ini puluhan tahun dalam hidupnya. Satu-satunya yang ia tahu cara melakukannya dengan baik. Dengan hati ujarnya. Salah satu penghargaannya adalah dengan memperhitungkan cita rasa akhir dari anjing-anjing itu. Mereka tidak dijagal untuk sesuatu yang sia-sia. Ada penghargaan bagi mereka dengan memperlakukan tubuh anjing-anjing ini dalam sebuah kuali yang penuh dengan cita rasa. Sentuhan bumbu serta cara mengolahnya tidak sembarangan. Agar daging yang diolah tidak berbau amis dan empuk di lidah, dagingnya harus bersih dari darah mereka sendiri. Beberapa bumbu rahasia yang membuat daging itu seperti meledak-ledak di lidah juga adalah salah satu bentuk penghargaan bagi makhluk canis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bahkan seorang “Tuhan” pun tidak boleh egois, ia harus berpikir untuk orang lain. Terutama bagi yang terkasih. Istri serta anak-anak yang menggantungkah hidup dari seorang lelaki Narsius. Sebuah rantai makanan yang sambung-menyambung dan tidak akan putus atas nama sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan yang berhubungan dengan rasa dan kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E00oKqy_I/AAAAAAAAAWE/r0A_pFTZefs/s1600-h/DSC02283.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 280px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E00oKqy_I/AAAAAAAAAWE/r0A_pFTZefs/s400/DSC02283.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431680704325536754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi sudahkan anda makan anjing hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0LsYqp1I/AAAAAAAAAVs/P478m6-1Cr4/s1600-h/DSC02276.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2E0LsYqp1I/AAAAAAAAAVs/P478m6-1Cr4/s400/DSC02276.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431680001083352914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-5185175857219587848?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/5185175857219587848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=5185175857219587848&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5185175857219587848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/5185175857219587848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/01/sudahkah-anda-makan-anjing-hari-ini.html' title='sudahkah anda makan anjing hari ini?'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/S2Ezvbla_1I/AAAAAAAAAVc/s8TgM4jY2Hw/s72-c/DSC02294.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7181039456274681553</id><published>2010-01-22T18:26:00.003+07:00</published><updated>2011-05-09T15:40:18.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>mengapa ini disebut munafik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini sebuah rezim yang selalu punya wacana untuk berkata tentang ini layak, itu tidak layak, ini bermoral atau itu tidak bermoral. Ini adalah sebuah rezim yang munafik. Foucault, seorang filsuf Prancis mengatakan, bahwa sejak lama dan sampai kini pun kita dibayangi oleh norma-norma zaman Victoria.  Ratu yang angkuh dan puritan itu selama ini melambangkan seksualitas kita berciri menahan diri, diam, munafik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas yang adalah bagian paling naluriah dari manusia telah dikurung dan diperangkap dalam sebuah wacana yang dianggap tabu dan berdosa.  Seks tidak lagi bisa dibicarakan secara bebas, walaupun dalam konteks yang reflektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke-17, konon, orang-orang masih bisa membicarakan seksualitas dengan bebas merdeka. Kita bisa menemukan kata-kata polos, pelanggaran norma yang terang-terangan, aurat yang dipertontontkan, anak-anak bugil yang lalu lalang tanpa rasa malu ataupun menimbulkan reaksi orang dewasa: tubuh-tubuh, pada waktu itu, tenggelam dalam keasyikan . Tetapi ketika borjuasi zaman Victoria masuk, seksualitas mulai dipingit, masuk dalam ruang-ruang tidur yang dianggap privat dan hanya bisa dimasuki oleh pasangan-pasangan yang sah. Seksualitas dianggap sebagai penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas dan tidak dilakukan atau tidak dikatakan sesuai dengan garis-garis norma yang ditentukan oleh yang “punya kuasa”, akan mendapat sebutan sebagai suatu hal yang ‘bidaah’,  berdosa, menyimpang, patogen, penyakit. Sehingga hal-hal yang “menyimpang” itu harus dihilangkan, atau jika dalam perjalanan menghilangkan penyakit itu, ia terus berteriak, mendobrak minta dikeluarkan, maka hal yang paling rasional dilakukan adalah melokalisir penyimpangan-penyimpangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelacuran adalah salah satu hal yang telah menembus batas-batas rezim wacana jaman borjuasi Victoria itu. Pelacuran adalah tema yang menggelisahkan, sekaligus seperti gatal-gatal yang membuat orang ingin terus menggaruknya. Ia dibungkam, sekaligus dibutuhkan. Serta yang tidak bisa dipungkiri, pelacuran adalah fenomena yang mendunia, karena ia berangkat dari kebutuhan dasar manusia. Termasuk di Nusantara, ia telah menjadi semacam bagian dari sejarah manusia di negeri ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7181039456274681553?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7181039456274681553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7181039456274681553&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7181039456274681553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7181039456274681553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2010/01/mengapa-ini-disebut-munafik.html' title='mengapa ini disebut munafik'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8259397232489071975</id><published>2009-12-26T17:57:00.006+07:00</published><updated>2011-06-10T18:07:33.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>From Maria's diary on the eve of buying her ticket back to Brazil:</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SzXsYTQ0wxI/AAAAAAAAAVM/YipWVVRpO9E/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 290px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SzXsYTQ0wxI/AAAAAAAAAVM/YipWVVRpO9E/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419497628842115858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SzXsVJbHMzI/AAAAAAAAAVE/OSSarxQCkUg/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 298px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SzXsVJbHMzI/AAAAAAAAAVE/OSSarxQCkUg/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419497574661305138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Once upon a time, there was a bird. He was adorned with two perfect wings and with glossy, colourful, marvellous feathers. In short, he was a creature made to fly about freely in the sky, bringin joy to everyone who saw him.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;One day, a woman saw this bird and fell in love with him. She watched his flight, her mouth wide in amazement, her heart pounding, her eyes shining with excitement. She invited the bird to fly with her, and the two travelled across the sky in perfect harmony. She admired and venerated and celebrated that bird. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;But then she thought: He might want to visit far-off mountains! And she was afraid, afraid that she would never feel the same way about any other bird. And she felt envy, envy for the bird's ability to fly. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And she felt alone.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And she thought: 'I'm going to set a trap. The next time the birds appears, he will never leave again.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The bird, who was also in love, returned the following day, fell into the trap and was put in a cage. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;She looked at the bird every day. There he was, the object of her passion, and she showed him to her friends who said: 'Now you have everything you could possibly want.' However, a strange transformation began to take place: now that she had the bird and no longer needed to woo him, she began to lose interest. The bird, unable to fly and express the true meaning of his life, began to waste away and his feathers to lose their gloss; he grew ugly; and the woman no longer paid him any attention, except by feeding him and cleaning out his cage. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;One day, the bird died. The woman felt terribly sad and spent alll her time thinking about him. But she did not remember the cage, she thought only of the day when she had seen him for the first time, flying contentedly amongst the clouds. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;If she had look more deeply into herself, she woudl have realised that what had thrilled her about the bird was his freedom, the energy of his wings in motion, not his physical body. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Without the bird, her life too lost all meaning, and Death came knocking at her door. 'Why have you come?' she asked Death. 'So that you can fly once more with him across the sky' Death replied. 'If you had allowed him to come and go, you would have loved and admired him even more; alas, you now need me in order to find him again.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(eleven minutes, paulo coelho)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8259397232489071975?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8259397232489071975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8259397232489071975&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8259397232489071975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8259397232489071975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/12/from-marias-diary-on-eve-of-buying-her.html' title='From Maria&apos;s diary on the eve of buying her ticket back to Brazil:'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SzXsYTQ0wxI/AAAAAAAAAVM/YipWVVRpO9E/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-267096908831772422</id><published>2009-12-08T07:19:00.004+07:00</published><updated>2011-01-24T10:37:03.379+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>a trip</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sx2cO-czX7I/AAAAAAAAAU8/nZ_IXcFZjBM/s1600-h/DSC02188.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sx2cO-czX7I/AAAAAAAAAU8/nZ_IXcFZjBM/s400/DSC02188.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412654108265111474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sx2cIHBwiiI/AAAAAAAAAU0/idn_C1gJppg/s1600-h/DSC02180.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sx2cIHBwiiI/AAAAAAAAAU0/idn_C1gJppg/s400/DSC02180.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412653990308514338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sx2b7fdDA8I/AAAAAAAAAUs/KeCwtMGjxHc/s1600-h/DSC02164.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sx2b7fdDA8I/AAAAAAAAAUs/KeCwtMGjxHc/s400/DSC02164.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412653773527122882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-267096908831772422?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/267096908831772422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=267096908831772422&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/267096908831772422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/267096908831772422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/12/blog-post.html' title='a trip'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sx2cO-czX7I/AAAAAAAAAU8/nZ_IXcFZjBM/s72-c/DSC02188.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7555627335459539941</id><published>2009-10-31T16:17:00.001+07:00</published><updated>2011-01-20T20:07:21.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>love the devil</title><content type='html'>part of my soul were gone because i have promised to the devil itself&lt;br /&gt;that i would give my love to it...&lt;br /&gt;i can't resist&lt;br /&gt;the devil show me what the world would be if i really really made my promise real&lt;br /&gt;a world where i can run naked and screamed like a freemen and said out loud that&lt;br /&gt;"i want to make love"&lt;br /&gt;really...i can't resist that kind of temptation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;so i rather make love with the devil&lt;br /&gt;than love god who can give love to the world i love&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7555627335459539941?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7555627335459539941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7555627335459539941&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7555627335459539941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7555627335459539941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/10/love-devil.html' title='love the devil'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8317696004463778080</id><published>2009-10-16T14:54:00.002+07:00</published><updated>2011-01-20T20:07:21.804+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>ego</title><content type='html'>hari ini saya sangat marah, &lt;br /&gt;karena saya baru tahu bahwa rama tidak pernah mencintai sinta&lt;br /&gt;rama hanya tahu kalau sinta adalah seorang pengabdi&lt;br /&gt;satu-satunya orang yang akan menceburkan diri ke api untuk sang "sri" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk mengenyangkan ego phalusnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8317696004463778080?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8317696004463778080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8317696004463778080&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8317696004463778080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8317696004463778080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/10/ego.html' title='ego'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-4745845392880187917</id><published>2009-10-02T15:05:00.002+07:00</published><updated>2011-01-20T20:08:53.068+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>"rendezvous"</title><content type='html'>"Ah masih pukul 17.00" ucapku sambil menguap dengan mulut menganga lebar. &lt;br /&gt;Sore ini aku terbangun dengan perasaan bercampur aduk dari tidur siang panjangku. &lt;br /&gt;Ku ambil handphone dari bawah bantal apek yang sudah menemani tidurku bertahun-tahun belakangan.&lt;br /&gt;"mari bertemu nanti malam di bawah lampu", sebuah pesan singkat dari seorang perempuan yang akhir-akhir ini sering membuatku susah tidur.&lt;br /&gt;Hatiku berdetak sepersekian detik lebih cepat rasanya. Ada perasaan bergemuruh yang entah, sulit kujelaskan. &lt;br /&gt;"bertemu" aku menggumam sendiri dan keringat dingin tiba-tiba membasahi kedua tapak tanganku.&lt;br /&gt;Ingin sekali bertemu denganmu wahai perempuan, ingin sekali. Tapi aku tidak siap rasanya. &lt;br /&gt;Pertemuan adalah sebuah momen yang begitu mengerikan buatku. &lt;br /&gt;Setiap kali aku harus keluar dari liang persembunyianku, sebuah kamar berbau lembab dengan ukuran 3 kali 4 persegi ini, adalah sebuah pertempuran antara ingin dan takut. &lt;br /&gt;Aku ingin sekali lagi melihat wajahnya, menyentuh kulitnya, tetapi aku ini pengecut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-4745845392880187917?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/4745845392880187917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=4745845392880187917&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4745845392880187917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4745845392880187917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/10/rendezvous.html' title='&quot;rendezvous&quot;'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3061134204001098219</id><published>2009-09-27T20:08:00.000+07:00</published><updated>2011-01-20T20:08:53.068+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>rindu</title><content type='html'>Dengan sepatu berhak 15 senti, kupacu lari menuju tempat untuk "rendezvous".&lt;br /&gt;Ahhh rindu ini sudah membuncah, bagaikan letupan lava merapi.&lt;br /&gt;Di kepalaku cuma satu, kamu kamu dan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju merah long dress ku sudah berkibar-kibar tertiup angin malam.&lt;br /&gt;Biasanya aku tidak suka menunggu, tetapi khusus buatmu, akan kubunuh waktu dengan senjata kecil yang khusus kubawa dari rumah, pemukul nyamuk dari plastik murahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60 menit berlalu, gincuku hampir meleleh sepertinya. &lt;br /&gt;Sudah lusinan nyamuk berpesta pora dan mati sia-sia dengan senjata ku itu, dan aku masih sabar menunggu, sambil sesekali membereskan poni baruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, di tempat "rendezvous" itu, satu dua orang lelaki nakal menggodaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei cantik, sedang menunggu?" ucap seorang lelaki bermata jalang. &lt;br /&gt;"Iya" balasku singkat.&lt;br /&gt;"Siapakah yang kau tunggu malam-malam begini, di ujung jalan ini" tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Seseorang" jawabku.&lt;br /&gt;"Hmmm, sayang sekali make up mu kalau harus menunggu lama seperti itu, duduklah bersamaku dulu," matanya semakin jalang dan ia makin mendekat.&lt;br /&gt;"Tidak terimakasih, aku sedang menunggu seseorang" ucapku sambil kupelototi si lelaki jalang berkuping caplang itu.&lt;br /&gt;"Baiklah" dengan senyum terkulum,lelaki itu lalu sedikit menjauh dan pergi ke sudut jalan lain, dengan matanya yang jalang, ia terus mengawasiku dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak peduli, karena dengan poni baru dan stocking warna hitamku, aku sedang menunggu seseorang di tempat "rendezvous".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3061134204001098219?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3061134204001098219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3061134204001098219&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3061134204001098219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3061134204001098219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/09/rindu_27.html' title='rindu'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-2224051305859896378</id><published>2009-09-26T19:30:00.000+07:00</published><updated>2011-01-20T20:08:53.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>rindu</title><content type='html'>Hari ini kupotong poni rambut tak beraturan di dahiku.&lt;br /&gt;Sambil menghadap cermin, kupotong poniku tepat di bawah alis, yang hampir menutupi dua mata sipitku.&lt;br /&gt;"Cantik", gumamku sambil terus tersenyum-senyum sendiri di depan cermin persegi yang biasa digunakan ayah mencabuti kumis-kumis putihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mencukur bulu ketiak dan bulu-bulu nakal di sekitar kakiku sampai bersih tak bersisa.&lt;br /&gt;Tak lupa, bulu-bulu di sekitar pubis juga ku cukur habis hingga terlihat seluruh vulvaku tanpa malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kukenakan baju long dress berwarna merah, dengan bahan sedikit transparan di sekitar payudaraku yang tidak terlalu montok tetapi masih ranum merah muda di sekitar putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar semakin cantik, hari ini kukenakan stocking berwarna hitam dengan sepatu berhak tinggi 15 senti.Tak lupa gincu warna merah menyala kupoles di bibirku yang penuh agar poni baruku tak tampil sendiri di wajah bulatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku sungguh cantik, dan tidak sabar untuk bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-2224051305859896378?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/2224051305859896378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=2224051305859896378&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2224051305859896378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2224051305859896378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/09/rindu.html' title='rindu'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3580823461853025455</id><published>2009-09-09T09:50:00.003+07:00</published><updated>2011-01-20T20:08:53.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>sepotong benalu di tengah rerumputan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sqo7oLTF1II/AAAAAAAAAUk/5TEmSwWP7_A/s1600-h/goodess.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 215px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sqo7oLTF1II/AAAAAAAAAUk/5TEmSwWP7_A/s400/goodess.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380178266261148802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam dan petang adalah fenomena alam yang saling berdekatan tetapi begitu berbeda pada sejatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat malam datang, gelaplah yang mendominasi atmosfernya. Pantulan cahaya dari benda-benda yang ada di bumi menghilang. Tinggal senyap di situ.&lt;br /&gt;Ketika petang menjelang, semburat jingga mewarnai aura di sekitarnya. Udara berangsur-angsur dingin. Makhluk-makhluk di bumi bergegas menyelesaikan tingkahnya, kembali ke tempatnya berawal.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat petang ini aku ingin menciumnya.  &lt;br /&gt;Aku ingin memerawani setiap inchi tubuh telanjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah ketakberdayaan di situ.&lt;br /&gt;Juga sesuatu yang suci, tak tersentuh dan begitu kudus.&lt;br /&gt;Aku ingin memeluk setiap lekuk tulang yang menyangga tubuh kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengaguminya dari kejauhan.&lt;br /&gt;Dimana hanya makhluk-makhluk tak bernama dan berwujud mengetahui hadirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu anggun dengan wajah bagai seorang “Dewi”&lt;br /&gt;Aku tak sanggup menatapnya tanpa liang persembunyianku. &lt;br /&gt;Liang persembunyian di bawah bayang-bayang sinar mentari sore yang tak menyengat.&lt;br /&gt;Aku merasa aman di liang itu. Karena aku bisa mengaguminya tanpa seorang pun tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya bagai serpihan mutiara yang begitu perawan.&lt;br /&gt;Aroma vanila selalu keluar dari serpihan mutiara-mutiara berwarna hitam itu.&lt;br /&gt;Aroma itu cukup membuatku mabuk dan tak mampu berpikir dengan jernih.&lt;br /&gt;Selalu ada sepersekian detik saat dimana waktu berhenti.&lt;br /&gt;Sepertinya semua mengamini apa yang kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saat ini, dimana senja menunjukkan warna kemerahannya dan siluet-siluet hitam alam mulai bermain-main di layar semesta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3580823461853025455?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3580823461853025455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3580823461853025455&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3580823461853025455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3580823461853025455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/09/sepotong-benalu-di-tengah-rerumputan.html' title='sepotong benalu di tengah rerumputan'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sqo7oLTF1II/AAAAAAAAAUk/5TEmSwWP7_A/s72-c/goodess.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-9047696534454756718</id><published>2009-08-07T11:12:00.002+07:00</published><updated>2011-01-20T20:16:45.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>in memoriam of ws rendra , 7 nov 1935 - 6 agust 2009</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;nyanyian angsa &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;(Willibrordus Surendra Broto Rendra)&lt;p&gt;Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:&lt;br /&gt;“Sudah dua minggu kamu berbaring.&lt;br /&gt;Sakitmu makin menjadi.&lt;br /&gt;Kamu tak lagi hasilkan uang.&lt;br /&gt;Malahan kapadaku kamu berhutang.&lt;br /&gt;Ini beaya melulu.&lt;br /&gt;Aku tak kuat lagi.&lt;br /&gt;Hari ini kamu harus pergi.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaikat penjaga Firdaus.&lt;br /&gt;Wajahnya tegas dan dengki&lt;br /&gt;dengan pedang yang menyala&lt;br /&gt;menuding kepadaku.&lt;br /&gt;Maka darahku terus beku.&lt;br /&gt;Maria Zaitun namaku.&lt;br /&gt;Pelacur yang sengsara.&lt;br /&gt;Kurang cantik dan agak tua).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jam dua-belas siang hari.&lt;br /&gt;Matahari terik di tengah langit.&lt;br /&gt;Tak ada angin. Tak mega.&lt;br /&gt;Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.&lt;br /&gt;Tanpa koper.&lt;br /&gt;Tak ada lagi miliknya.&lt;br /&gt;Teman-temannya membuang muka.&lt;br /&gt;Sempoyongan ia berjalan.&lt;br /&gt;Badannya demam.&lt;br /&gt;Sipilis membakar tubuhnya.&lt;br /&gt;Penuh borok di klangkang&lt;br /&gt;di leher, di ketiak, dan di susunya.&lt;br /&gt;Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.&lt;br /&gt;Sakit jantungnya kambuh pula.&lt;br /&gt;Ia pergi kepada dokter.&lt;br /&gt;Banyak pasien lebih dulu menunggu.&lt;br /&gt;Ia duduk di antara mereka.&lt;br /&gt;Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.&lt;br /&gt;Ia meledak marah&lt;br /&gt;tapi buru-buru jururawat menariknya.&lt;br /&gt;Ia diberi giliran lebih dulu&lt;br /&gt;dan tak ada orang memprotesnya.&lt;br /&gt;“Maria Zaitun,&lt;br /&gt;utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.&lt;br /&gt;“Ya,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Sekarang uangmu brapa?”&lt;br /&gt;“Tak ada.”&lt;br /&gt;Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.&lt;br /&gt;Ia kesakitan waktu membuka baju&lt;br /&gt;sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.&lt;br /&gt;“Cukup,” kata dokter.&lt;br /&gt;Dan ia tak jadi mriksa.&lt;br /&gt;Lalu ia berbisik kepada jururawat:&lt;br /&gt;“Kasih ia injeksi vitamin C.”&lt;br /&gt;Dengan kaget jururawat berbisik kembali:&lt;br /&gt;“Vitamin C?&lt;br /&gt;Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”&lt;br /&gt;“Untuk apa?&lt;br /&gt;Ia tak bisa bayar.&lt;br /&gt;Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.&lt;br /&gt;Kenapa mesti dikasih obat mahal&lt;br /&gt;yang diimport dari luar negri?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaikat penjaga Firdaus.&lt;br /&gt;Wajahnya iri dan dengki&lt;br /&gt;dengan pedang yang menyala&lt;br /&gt;menuding kepadaku.&lt;br /&gt;Aku gemetar ketakutan.&lt;br /&gt;Hilang rasa. Hilang pikirku.&lt;br /&gt;Maria Zaitun namaku.&lt;br /&gt;Pelacur yang takut dan celaka.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jam satu siang.&lt;br /&gt;Matahari masih dipuncak.&lt;br /&gt;Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.&lt;br /&gt;Dan aspal jalan yang jelek mutunya&lt;br /&gt;lumer di bawah kakinya.&lt;br /&gt;Ia berjalan menuju gereja.&lt;br /&gt;Pintu gereja telah dikunci.&lt;br /&gt;Karna kuatir akan pencuri.&lt;br /&gt;Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.&lt;br /&gt;Koster ke luar dan berkata:&lt;br /&gt;“Kamu mau apa?&lt;br /&gt;Pastor sedang makan siang.&lt;br /&gt;Dan ini bukan jam bicara.”&lt;br /&gt;“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”&lt;br /&gt;Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.&lt;br /&gt;Lalu berkata:&lt;br /&gt;“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.&lt;br /&gt;Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”&lt;br /&gt;Lalu koster pergi menutup pintu.&lt;br /&gt;Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.&lt;br /&gt;Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.&lt;br /&gt;Setelah mengorek sisa makanan dari giginya&lt;br /&gt;ia nyalakan crutu, lalu bertanya:&lt;br /&gt;“Kamu perlu apa?”&lt;br /&gt;Bau anggur dari mulutnya.&lt;br /&gt;Selopnya dari kulit buaya.&lt;br /&gt;Maria Zaitun menjawabnya:&lt;br /&gt;“Mau mengaku dosa.”&lt;br /&gt;“Tapi ini bukan jam bicara.&lt;br /&gt;Ini waktu saya untuk berdo’a.”&lt;br /&gt;“Saya mau mati.”&lt;br /&gt;“Kamu sakit?”&lt;br /&gt;“Ya. Saya kena rajasinga.”&lt;br /&gt;Mendengar ini pastor mundur dua tindak.&lt;br /&gt;Mukanya mungkret.&lt;br /&gt;Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:&lt;br /&gt;“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”&lt;br /&gt;“Saya pelacur. Ya.”&lt;br /&gt;“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Santo Petrus!”&lt;br /&gt;Tiga detik tanpa suara.&lt;br /&gt;Matahari terus menyala.&lt;br /&gt;Lalu pastor kembali bersuara:&lt;br /&gt;“Kamu telah tergoda dosa.”&lt;br /&gt;“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”&lt;br /&gt;“Kamu telah terbujuk setan.”&lt;br /&gt;“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.&lt;br /&gt;Dan gagal mencari kerja.”&lt;br /&gt;“Santo Petrus!”&lt;br /&gt;“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.&lt;br /&gt;Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.&lt;br /&gt;Yang nyata hidup saya sudah gagal.&lt;br /&gt;Jiwa saya kalut.&lt;br /&gt;Dan saya mau mati.&lt;br /&gt;Sekarang saya takut sekali.&lt;br /&gt;Saya perlu Tuhan atau apa saja&lt;br /&gt;untuk menemani saya.”&lt;br /&gt;Dan muka pastor menjadi merah padam.&lt;br /&gt;Ia menuding Maria Zaitun.&lt;br /&gt;“Kamu galak seperti macan betina.&lt;br /&gt;Barangkali kamu akan gila.&lt;br /&gt;Tapi tak akan mati.&lt;br /&gt;Kamu tak perlu pastor.&lt;br /&gt;Kamu perlu dokter jiwa.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaekat penjaga firdaus&lt;br /&gt;wajahnya sombong dan dengki&lt;br /&gt;dengan pedang yang menyala&lt;br /&gt;menuding kepadaku.&lt;br /&gt;Aku lesu tak berdaya.&lt;br /&gt;Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.&lt;br /&gt;Maria Zaitun namaku.&lt;br /&gt;Pelacur yang lapar dan dahaga.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jam tiga siang.&lt;br /&gt;Matahari terus menyala.&lt;br /&gt;Dan angin tetap tak ada.&lt;br /&gt;Maria Zaitun bersijingkat&lt;br /&gt;di atas jalan yang terbakar.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ketika nyebrang jalan&lt;br /&gt;ia kepleset kotoran anjing.&lt;br /&gt;Ia tak jatuh&lt;br /&gt;tapi darah keluar dari borok di klangkangnya&lt;br /&gt;dan meleleh ke kakinya.&lt;br /&gt;Seperti sapi tengah melahirkan&lt;br /&gt;ia berjalan sambil mengangkang.&lt;br /&gt;Di dekat pasar ia berhenti.&lt;br /&gt;Pandangnya berkunang-kunang.&lt;br /&gt;Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.&lt;br /&gt;Orang-orang pergi menghindar.&lt;br /&gt;Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.&lt;br /&gt;Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.&lt;br /&gt;Kemudian ia bungkus hati-hati&lt;br /&gt;dengan daun pisang.&lt;br /&gt;Lalu berjalan menuju ke luar kota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaekat penjaga firdaus&lt;br /&gt;wajahnya dingin dan dengki&lt;br /&gt;dengan pedang yang menyala&lt;br /&gt;menuding kepadaku.&lt;br /&gt;Yang Mulya, dengarkanlah aku.&lt;br /&gt;Maria Zaitun namaku.&lt;br /&gt;Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jam empat siang.&lt;br /&gt;Seperti siput ia berjalan.&lt;br /&gt;Bungkusan sisa makanan masih di tangan&lt;br /&gt;belum lagi dimakan.&lt;br /&gt;Keringatnya bercucuran.&lt;br /&gt;Rambutnya jadi tipis.&lt;br /&gt;Mukanya kurus dan hijau&lt;br /&gt;seperti jeruk yang kering.&lt;br /&gt;Lalu jam lima.&lt;br /&gt;Ia sampai di luar kota.&lt;br /&gt;Jalan tak lagi beraspal&lt;br /&gt;tapi debu melulu.&lt;br /&gt;Ia memandang matahari&lt;br /&gt;dan pelan berkata: “Bedebah.”&lt;br /&gt;Sesudah berjalan satu kilo lagi&lt;br /&gt;ia tinggalkan jalan raya&lt;br /&gt;dan berbelok masuk sawah&lt;br /&gt;berjalan di pematang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaekat penjaga firdaus&lt;br /&gt;wajahnya tampan dan dengki&lt;br /&gt;dengan pedang yang menyala&lt;br /&gt;mengusirku pergi.&lt;br /&gt;Dan dengan rasa jijik&lt;br /&gt;ia tusukkan pedangnya perkasa&lt;br /&gt;di antara kelangkangku.&lt;br /&gt;Dengarkan, Yang Mulya.&lt;br /&gt;Maria Zaitun namaku.&lt;br /&gt;Pelacur yang kalah.&lt;br /&gt;Pelacur terhina).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jam enam sore.&lt;br /&gt;Maria Zaitun sampai ke kali.&lt;br /&gt;Angin bertiup.&lt;br /&gt;Matahari turun.&lt;br /&gt;Haripun senja.&lt;br /&gt;Dengan lega ia rebah di pinggir kali.&lt;br /&gt;Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.&lt;br /&gt;Lalu ia makan pelan-pelan.&lt;br /&gt;Baru sedikit ia berhenti.&lt;br /&gt;Badannya masih lemas&lt;br /&gt;tapi nafsu makannya tak ada lagi.&lt;br /&gt;Lalu ia minum air kali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaekat penjaga firdaus&lt;br /&gt;tak kau rasakah bahwa senja telah tiba&lt;br /&gt;angin turun dari gunung&lt;br /&gt;dan hari merebahkan badannya?&lt;br /&gt;Malaekat penjaga firdaus&lt;br /&gt;dengan tegas mengusirku.&lt;br /&gt;Bagai patung ia berdiri.&lt;br /&gt;Dan pedangnya menyala.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jam tujuh. Dan malam tiba.&lt;br /&gt;Serangga bersuiran.&lt;br /&gt;Air kali terantuk batu-batu.&lt;br /&gt;Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang&lt;br /&gt;dan mengkilat di bawah sinar bulan.&lt;br /&gt;Maria Zaitun tak takut lagi.&lt;br /&gt;Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.&lt;br /&gt;Mandi di kali dengan ibunya.&lt;br /&gt;Memanjat pohonan.&lt;br /&gt;Dan memancing ikan dengan pacarnya.&lt;br /&gt;Ia tak lagi merasa sepi.&lt;br /&gt;Dan takutnya pergi.&lt;br /&gt;Ia merasa bertemu sobat lama.&lt;br /&gt;Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.&lt;br /&gt;Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.&lt;br /&gt;Ia jadi berduka.&lt;br /&gt;Dan mengadu pada sobatnya&lt;br /&gt;sembari menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;Ini tak baik buat penyakit jantungnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaekat penjaga firdaus&lt;br /&gt;wajahnya dingin dan dengki.&lt;br /&gt;Ia tak mau mendengar jawabku.&lt;br /&gt;Ia tak mau melihat mataku.&lt;br /&gt;Sia-sia mencoba bicara padanya.&lt;br /&gt;Dengan angkuh ia berdiri.&lt;br /&gt;Dan pedangnya menyala.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.&lt;br /&gt;Borok. Sipilis. Perempuan.&lt;br /&gt;Bagai kaca&lt;br /&gt;kali memantul cahaya gemilang.&lt;br /&gt;Rumput ilalang berkilatan.&lt;br /&gt;Bulan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang lelaki datang di seberang kali.&lt;br /&gt;Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”&lt;br /&gt;“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.&lt;br /&gt;Lelaki itu menyeberang kali.&lt;br /&gt;Ia tegap dan elok wajahnya.&lt;br /&gt;Rambutnya ikal dan matanya lebar.&lt;br /&gt;Maria Zaitun berdebar hatinya.&lt;br /&gt;Ia seperti pernah kenal lelaki itu.&lt;br /&gt;Entah di mana.&lt;br /&gt;Yang terang tidak di ranjang.&lt;br /&gt;Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.&lt;br /&gt;“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.&lt;br /&gt;Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.&lt;br /&gt;Sedang sementara ia keheranan&lt;br /&gt;lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.&lt;br /&gt;Ia merasa seperti minum air kelapa.&lt;br /&gt;Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.&lt;br /&gt;Lalu lelaki itu membuka kutangnya.&lt;br /&gt;Ia tak berdaya dan memang suka.&lt;br /&gt;Ia menyerah.&lt;br /&gt;Dengan mata terpejam&lt;br /&gt;ia merasa berlayar&lt;br /&gt;ke samudra yang belum pernah dikenalnya.&lt;br /&gt;Dan setelah selesai&lt;br /&gt;ia berkata kasmaran:&lt;br /&gt;“Semula kusangka hanya impian&lt;br /&gt;bahwa hal ini bisa kualami.&lt;br /&gt;Semula tak berani kuharapkan&lt;br /&gt;bahwa lelaki tampan seperti kau&lt;br /&gt;bakal lewat dalam hidupku.”&lt;br /&gt;Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.&lt;br /&gt;Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.&lt;br /&gt;“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.&lt;br /&gt;“Mempelai,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Lihatlah. Engkau melucu.”&lt;br /&gt;Dan sambil berkata begitu&lt;br /&gt;Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia terhenti.&lt;br /&gt;Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.&lt;br /&gt;Di lambung kiri.&lt;br /&gt;Di dua tapak tangan.&lt;br /&gt;Di dua tapak kaki.&lt;br /&gt;Maria Zaitun pelan berkata:&lt;br /&gt;“Aku tahu siapa kamu.”&lt;br /&gt;Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.&lt;br /&gt;Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Malaekat penjaga firdaus&lt;br /&gt;wajahnya jahat dan dengki&lt;br /&gt;dengan pedang yang menyala&lt;br /&gt;tak bisa apa-apa.&lt;br /&gt;Dengan kaku ia beku.&lt;br /&gt;Tak berani lagi menuding padaku.&lt;br /&gt;Aku tak takut lagi.&lt;br /&gt;Sepi dan duka telah sirna.&lt;br /&gt;Sambil menari kumasuki taman firdaus&lt;br /&gt;dan kumakan apel sepuasku.&lt;br /&gt;Maria Zaitun namaku.&lt;br /&gt;Pelacur dan pengantin adalah saya.)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-9047696534454756718?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/9047696534454756718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=9047696534454756718&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/9047696534454756718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/9047696534454756718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/08/in-memoriam-of-ws-rendra-7-nov-1935-6.html' title='in memoriam of ws rendra , 7 nov 1935 - 6 agust 2009'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-7650912608159616342</id><published>2009-07-30T11:44:00.011+07:00</published><updated>2011-09-20T10:46:52.925+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>pemberontak yang terberkati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak ingat apapun. Saat itu aku hanya merasakan air membasahi keningku. Seorang lelaki bermata teduh memandangku dan entah berkata apa. Aku hanya ingat aku menangis begitu keras, dan ibuku...ya ibuku terus menerus menenangkan aku dengan buaiannya ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;anak wedok ojo nangis yo cah ayu, kuwi, romo &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lagi mbabtis kowe&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dari sela tangisku yang berangsur-angsur reda karena mulai kurasakan kenyamanan di situ, kudengar banyak doa-doa, seperti ada sebuah nyanyian yang mengalun dan memenuhi ruang dengarku...semua begitu samar, aku masih begitu bayi waktu itu. Saat di mana kesadaranku teraduk-aduk dengan berbagai macam distorsi dari luar yang selalu menarik perhatianku.  Saat itu kuingat sebuah benda tak kukenal terbang memutari kepalaku-Baru kutahu beberapa tahun kemudian bahwa itu adalah seekor kupu-kupu- Benda itu beberapa kali hinggap di kepalaku. Terkadang aku tertawa geli ketika benda terbang itu hinggap begitu saja. Ibuku sering bercerita tentang hal itu. Ia bilang waktu kau dibabtis, ada seekor kupu-kupu masuk ke dalam gereja dan hinggap di atas kepalamu. Ibuku bilang itu Roh Kudus yang datang langsung menghadiri upacara pembabtisanku. Ibuku bilang aku anak yang terberkati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah... ya anak yang terberkati. Entah apa maksudnya.&lt;br /&gt;Sempat aku berpikir ketika aku masih kanak-kanak, aku memang “yang terberkati” sehingga Tuhan hanya mencintai aku, tidak anak-anak yanglain. Sehingga aku selalu merasa bangga dengan cerita itu, dan sering tidak merasa takut terhadap apapun. Pernah ketika aku dan kedua orang tuaku ingin menyebrang jalan, aku terlepas dari pegangan mereka. Dan karena aku berpikir aku lah yang terberkati langsung saja aku menerobos jalan tanpa melihat ke kiri dan kanan. Aku terus berlari di tengah jalan menuju ke sebrang. Dan Ya...aku selamat tanpa tertabrak sedikitpun. Mungkin saja aku memang “yang terberkati”. Kedua orang tuaku tentu saja berteriak histeris dan memarahi aku pada akhirnya karena melepaskan diri dari pegangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika aku ikut Sekolah Minggu di Gereja, guruku berkata bahwa semua anak-anak memang terberkati. Aku sempat tunjuk jari dan bercerita kepada guruku tentang kejadian ketika aku dibabtis. Tetapi guruku berkata lagi.&lt;br /&gt;"Lucia...kau memang terberkati. Juga anak-anak yang lain.”&lt;br /&gt;“Tetapi kata ibuku aku lah yang terberkati bu.”&lt;br /&gt;“Memang kau terberkati...Lucia....sekali lagi ibu bilang, juga anak-anak Kristus yang lain, karena mereka semua sudah dibabtis, berarti sudah diberkati.” Ibu guruku menjawab sambil tersenyum, kemudian menghela nafas.&lt;br /&gt;“Tetapi, bu...berarti...yang tidak dibabtis tidak terberkati, kata ibu semua anak-anak terberkati.”&lt;br /&gt;Ibu guru sekolah minggu, sempat geleng-geleng kepala, mendengar pertanyaanku. Ia tertawa sedikit, berpikir sejenak, lalu berkata.&lt;br /&gt;“Lucia...Lucia....yah maksud ibu, kita yang dibabtis, diberkati oleh berkat Kristus, sementara yang tidak dibabtis, juga diberkati tetapi berbeda berkatnya...”&lt;br /&gt;”Kok Kristus bisa membeda-bedakan bu, apa Kristus membenci orang yang tidak dibabtis bu.”&lt;br /&gt;Pertanyaanku itu kemudian tidak dijawab oleh ibu guruku, ia hanya berkata...&lt;br /&gt;"Luciaa. Kristus mencitai semua makhluk...sudah ya. Ayo anak-anak kita lanjutkan menyanyi lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu aku hanya terdiam dengan begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Otak kecilku berputar-putar dengan pertanyaan-pertanyaan.&lt;br /&gt;“siapa kristus, kenapa aku mesti jadi pengikutnya dan belajar tiap minggu di gereja mengenai dia dan pengikut-pengikutnya, bagaimana dengan anak-anak yang lain.”&lt;br /&gt;Aku pernah mendengar tentang Nabi Muhammad dari teman-temanku yang kata orang  tuaku adalah nabi bagi agama lain yang tidak perlu pergi ke gereja tiap minggu, tetapi ke masjid tiap jumat. Aku juga pernah menghafal nama-nama alkitab serta sebutan para pemimpin agama dalam pelajaran ilmu pengetahuan sosial di sekolahku.&lt;br /&gt;Apakah aku tidak boleh mengenal mereka lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku selalu berkata, bahwa agama kita lah yang terbaik. Jadi berbanggalah.&lt;br /&gt;Tapi kalau memang terbaik, mengapa Kristus tidak memberkati orang-orang yang tidak dibabtis. Menurutku, seharusnya, kalau memang bukan aku yang terberkati satu-satunya, berarti semua orang juga harus terberkati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu terus tergiang di kepalaku. Menghantui waktu tidur dan saat-saat dimana aku seharusnya menonton kartun di televisi atau ketika seharusnya bermain boneka bersama kawan-kawan sebayaku. Sebaris pertanyaan yang tak pernah terjawab itulah yang membuatku menjadi tidak seperti anak-anak lainnya. Aku rasanya jadi malas mengikuti rutinitas mingguan itu. Seperti tidak ada gunanya. Tapi tentu aku tetap tidak bisa mengelak keharusan yang dipetuahkan ayah ibuku. Maka aku tetap melakukan setiap aktifitas itu seperti layaknya robot, karena semakin sering kegiatan itu kuikuti, semakin menumpuk pertanyaan-pertanyaan di otak beliaku yang tidak bisa dijawab. Setiap melihat foto dan gambar wajah lelaki berambut panjang, berjenggot dan berkulit putih yang memenuhi seluruh dinding rumah juga sekolah, aku jadi terus bertanya-tanya tentang dirinya. Siapa dia sebenarnya, yang disebut sebagai Tuhan juga juruselamat oleh ibuku dan kebanyakan orang-orang di sekitarku, terutama di lingkungan gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pertanyaan itu hingga kini, hingga usiaku lebih dari seperempat abad, terus berputar-putar bagai kumbang yang sepertinya sangat gatal menyengat hidung pesekku. Banyak yang mengatakan, “bacalah alkitab, maka kau akan mengenal Kristus”. Tentu sudah kubaca, walau aku bukan seorang pengingat yang detil, tetapi paling tidak aku cukup tahu dan bisa memahami sedikit isi buku yang sering dianggap suci dan tak bercela oleh orang-orang di sekitar ku itu. Tetapi dari semua kisah yang ada di kitab yang lebih mirip novel itu, aku tidak juga menemukan jawaban yang kucari. Aku cuma menemukan kisah-kisah menarik bak kisah ali baba dalam 1001 malam yang cukup inspiratif buatku. Aku cuma melihat kisah-kisah yang dinterpretasi dan kembali diinterpretasi oleh sang penulis, kemudian oleh orang-orang  ataupun sistem yang saat ini telah menghegemoni. Lalu aku berpikir untuk melakukan pemberontakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan seorang pemberontak revolusioner. Mungkin bisa dibilang aku ini seorang pemberontak yang cukup kompromis. Pemberontakanku pun bukan sebuah pemberontakan berdarah yang begitu dramatis dan bisa membuat namaku terkenal dalam satu malam. Aku mulai benar-bener memberontak ketika lepas dari seragam. Saat kuliah aku sudah benar-benar jarang pergi ke gereja lagi. Mulai merasa sangat hambar terhadap rutinitas itu. Setiap minggu yang kutemui cuma keluarga-keluarga yang begitu patuh duduk, berlutut, dan bernyanyi atas komando dari seseorang yang tak jelas apa tujuannya, dan mungkin mereka juga tidak mengerti apa maksudnya. Para anak muda yang wangi dan begitu enak dipandang duduk di barisan belakang, sambil sesekali melirik kiri kanan sambil berharap sesi salam damai segera datang jika ada makhluk menarik duduk di samping, belakang atau depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menganggap, semua dogma-dogma gereja yang sudah dijejalkan begitu rapi semenjak aku kanak-kanak di sekolah minggu, di sekolah katolik tempat ku didoktrin dari sd hingga sma, di dalam keluargaku, sebagai sebuah rentetan aturan yang dibuat oleh yang berkuasa untuk mengontrol dan membuat mereka makin berkuasa, tanpa kadang-kadang mempedulikan nilai-nilai humanitas itu sendiri. Maksudnya, tanpa memperhitungkan nilai-nilai instingtif yang lahir dan secara natural ada dalam tiap manusia. Jadi, dogma-dogma itu sudah kuanggap sambil lalu saja dan tidak terlalu penting buatku sebagai seorang manusia. Aku tidak menentangnya, juga tidak mengamininya. Aku cuma, bersikap sambil lalu saja dan melakukan apa menurutku benar, karena ada satu yang masih kuyakini, aku punya hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan...bukan, aku bukan seorang atheis, penentang gereja, atau bahkan bukan pula seorang agnostik. Hingga saat ini aku masih berdoa. Dan doa-doa ku pun kulakukan dengan tata cara yang kutau, yaitu cara-cara berdoa yang sudah diajarkan semenjak aku kecil dulu. Aku berdoa kepada Yesus, kepada Maria dan kepada malaikat-malaikat yang ada dalam jagad surga juga alam semesta ini.  Dan hingga saat ini, aku mengalami sebuah ketenangan, hmmmm semacam ekstase mungkin lebih tepatnya, ketika berdoa. Sebuah pelarian yang, buatku, tidak merugikan siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan setumpuk pertanyaan yang tidak penah terjawab itu, ternyata aku masih cukup pengecut untuk benar-benar membunuh semua dogma serta tuhan yang ada di situ. Seorang pemberontak kompromis yang penuh dengan paradoks-paradoks. Seorang pemberontak romantis yang percaya dengan keajaiban dan harapan yang akan terkabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku ini seorang pemberontak yang benar-benar terberkati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-7650912608159616342?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/7650912608159616342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=7650912608159616342&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7650912608159616342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/7650912608159616342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/07/pemberontak-yang-terberkati.html' title='pemberontak yang terberkati'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-275491592630756997</id><published>2009-07-27T08:40:00.003+07:00</published><updated>2011-01-20T20:17:48.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>kepada seekor elang gunung</title><content type='html'>aku rindu bau tubuhmu yang bisa membuatku lupa pada bau laut&lt;br /&gt;bau tubuh kasar seekor elang gunung bermata tajam dengan cakar-cakar terasah tajam&lt;br /&gt;aku rindu menjadi mabuk dipelukmu, saat dimana ranah sadarku melebur dengan keringatmu, air liurmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-275491592630756997?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/275491592630756997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=275491592630756997&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/275491592630756997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/275491592630756997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/07/kepada-seekor-elang-gunung.html' title='kepada seekor elang gunung'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8659562616226767421</id><published>2009-07-10T13:11:00.003+07:00</published><updated>2011-09-20T10:33:01.106+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>Diskusi Bacardi dan JackD</title><content type='html'>Ini bukan semacam perayaan. Ini hanya sebuah pertemuan, pertukaran kata antara dua orang kawan yang telah lama tak bersua, sebuah diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan diskusi yang melelahkan. Soal pemilu yang sedang hangat-hangat tai ayam, atau soal utang negara yang menumpuk, atau masalah perbatasan negara yang bikin bingung. Ini hanya sebuah diskusi antara dua air, yang selalu bicara tentang perdamaian. Bacardi dan JackD yang mampu meluruhkan penat di otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi yang melarut hingga dini hari itu, dimulai dari sebuah jalan raya di ujung Bioskop Metropole, Cikini. Kerinduan dua orang kawan lama yang telah lama tak bersua dimuntahkan saat itu. Bicara tentang kekasih, mantan kekasih, tentang kebosanan, kemarahan juga hal-hal yang remeh temeh. Saat itu, deru mobil yang terjebak macet, jadi semacan musik ilustrasi bagi kisah-kisah yang keluar secara jujur dan spontan dari mulut dua orang kawan itu. Belum ada air dengan kadar alkohol tinggi yang hadir dalam perbincangan itu. Hanya sebuah minuman kemasan botol yang rasanya manis bukan kepalang, jadi teman pengiring malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin melarut, dua perempuan itu pun butuh zat peringan otak.&lt;br /&gt;“Mari kita lanjutkan keriaan sederhana ini, ke ujung jalan lainnya?” ucap dua kawan itu bersepakat. Sambil menumpang kendaraan bermoncong maju berwarna merah, ujung malam pun terus bergulir di jalan sekitaran Wahid Hasyim. Di melly’s kami kembali berdiskusi. Seorang kawan turut bergabung. Kawan baru bagiku. Kawan dengan setumpuk kemarahan pada seseorang juga setumpuk kerinduan di dalamnya. Ia bercerita, aku mendengar. Kawanku yang lain juga bercerita, aku mendengar. Tidak cuma mendengar, tetapi juga memutar otak, dan kadang-kadang melayangkan pikiran entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, bukan sekedar bir yang kita butuhkan, aku mau JackD, kau mau tidak?” Kawanku bertanya. “Menarik, sudah lama tidak memasukkan minuman kadar alkohol tinggi ke tubuhku. Hmm aku mau Bacardi kalau gitu, minuman yang sempat bikin aku muntah-muntah di pelataran parkir pasar baru tiga tahun lalu,” ucapku menggumam. Maka datanglah Bacardi dan JackD untuk bergabung dalam diskusi tiga orang kawan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seteguk Bacardi, membuat perutku panas dan otakku meranggas. Dua teguk lainnya membuatku berpikir tentang seseorang yang entah sedang apa di sana dan entah memikirkanku atau tidak. Tiga teguk lainnya, membuat otakku sedikit melayang. Ada ranah abu-abu yang muncul saat itu. Semua seperti berhenti. Kawanku yang sedang sibuk meneguk minumannya, asap rokok yang membumbung bumbung dari mulu-mulut kami, teriakan dan tertawa lepas orang-orang, musik yang mengalun dari alat pemutarnya, semua berhenti pada titik itu. Bahkan suara deru mobil, bajaj, dan angin dini hari di jalan Wahid Hasyim juga berhenti. Cuma diriku yang masih meneguk cairan itu, tidak ikut berhenti. Damai sekali rasanya saat itu. Aku bisa mengamati wajah kawanku yang juga sedang meneguk Jack D dengan cermat. Mungkin saja saat ini, ia sedang mengalami hal yang sama denganku di kepalanya. Saat dimana dunia berhenti, dan memberi salut untuk sebuah perdamaian. Ketika itu, aku cuma menyelonjorkan kaki, menyenderkan bahuku pada tembok melly’s dan menarik nafas panjang, memejamkan mata dan ikut berhenti bersama dengan atmosfir di sekelilingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seteguk Bacardi, lainnya, membuat semua yang berhenti kembali berjalan, walau tubuhku semakin ringan rasanya. Aku bersama dua kawanku pun kembali bercerita, berdiskusi dan menertawakan kebodohan. Maka kami bersulang untuk kebodohan. “Tingggg”,  Bacardi dan JackD pun bersentuhan di udara dan meneruskan diskusinya sambil merayakan kehidupan. Yah...hidup yang bodoh, menyebalkan, mengerikan, lucu atau menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salut for Life.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.jackdaniels.com/age.aspx"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jack Daniel's&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;is a brand of Tennessee whiskey that is among the world's best-selling liquors and is known for its square bottles and black label. It has been prominently featured in movies, songs, and novels, and is strongly linked to rock and roll, country music, American biker culture, Jimmy Page, Frank Sinatra, Keith Richards, Lemmy, Nikki Sixx and Slash. The brand is produced in Lynchburg, Tennessee by Jack Daniel Distillery, which has been owned by the Brown-Forman beverage company since 1956. Despite the operational distillery, Jack Daniel's home county of Moore is a dry county. (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;source wikipedia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.bacardi.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bacardi&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;is a family-controlled spirits company, best known as a producer of rums including Bacardi Superior and Bacardi 151. The company sells in excess of 200 million bottles per year in nearly 100 countries. The company's sales in 2007 were $5.5 billion USD, up from $4.9 billion USD in 2006. Bacardi is headquartered in Hamilton, Bermuda and has a 16-member board of directors led by the original founder's great-great grandson, Facundo L. Bacardi. The President Bernard F. Ramirez and Co-President Charles M. Hernandez, also play a large part in production and sales. (source wikipedia) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8659562616226767421?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8659562616226767421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8659562616226767421&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8659562616226767421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8659562616226767421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/07/diskusi-bacardi-dan-jackd.html' title='Diskusi Bacardi dan JackD'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8114039344780143111</id><published>2009-07-09T07:11:00.002+07:00</published><updated>2011-01-20T20:19:01.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>pemilu kedua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlU28OEHbjI/AAAAAAAAAS0/psnSGfzM8uM/s1600-h/kotak+suara.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlU28OEHbjI/AAAAAAAAAS0/psnSGfzM8uM/s400/kotak+suara.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356247740022484530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini adalah kali kedua saya ikut Pemilu.Well, ini adalah hal yang cukup luar biasa bagi saya yang tergolong cukup apatis dengan kondisi negri ini. Makin apatis, ketika ketiga calon tidak ada satupun yang peduli dengan masalah lingkungan. Semua bilang ekonomi ekonomi ekonomi, tapi yang bikin miris, pasti kalo ketiganya ditantang naik kereta ekonomi ketika musim liburan, didalam gerbong sumpek tak ada tempat duduk yang lampunya mati selama 18 jam, pasti tidak ada yang mau naik dengan sukarela, (tentunya harus minus pampampres dan bla bla bla protokol Kepresidenan itu).Piuuhhh hal..hal yang miris dan bikin bibir meringis.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Barusan, tepatnya beberapa lama yang lalu (lebih tepatnya lagi kemarin), saya mencontreng. Bukan mencoblos, melingkari atau menyilang. Yah saya mencontreng. Mencontreng wajah-wajah menawan dan rupawan, yang punya berpuluh-puluh topeng simpatik. Ini bukan cuma mengenai satu pasang calon saja, tapi ketiga-tiganya. Mereka punya tim make up artist yang handal dan pandai mengambil hati banyak orang. Dan buat saya pribadi, jargon yang pas buat mereka ya, “boleh percaya boleh tidak, saya oke loh”. Kalimat itulah yang melulu terngiang-ngiang di kepala ketika membuka kertas suara dengan tempelan tiga pasang pas foto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar seminggu yang lalu, sebenarnya saya sudah yakin untuk golput saja. Alasannya amat sederhana, bingung dan bingung. Bagi saya, semua tidak ada yang representatif. Yang pertama agak-agak pilon dengan dibayangi wajah diktaktor, yang kedua super jaim dan yang ketiga tingkahnya ceninilan seperti bola pingpong. Semua bikin saya muak.&lt;br /&gt;Tapi parahnya, memilih ataupun tidak memilih. Kebijakan negara yang akan sedikit banyak berpengaruh terhadap atmosphere hidup saya di negara ini, akan ditentukan oleh orang-orang itu. Lalu...memilih atau tidak ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itulah yang menjadi semacam headline kepala saya ketika tiga hari sebelum Pemilu. Apalagi di hari itu bapak memberikan undangan mencontreng dari TPS di RT saya. Saat itu bapak sempat bilang, “Ayo Lus, kita nyontreng bareng, buat nambah-nambahin suara....”. Lalu saya menjawab “Ah males ah, bingung”. Dan bapak cuma mengatakan “Yo wes, sak karepmu”.....tapi, beberapa menit kemudian dia menambahkan, “Sayang lah, kowe ki wes diundang ko ra teko, ra penak lah karo Pak RT”. Pak RT yang saya sebut-sebut, kebetulan tinggal persis di samping rumah saya. Orangnya baik dan sudah seperti keluarga sendiri. Pemilu Lagislatif yang lalu, saya sempat terang-terangan bilang kepadanya, “Pak RT saya golput ya”, dan Pak RT cuma menjawab, “Wes terserah”. Sambil tersenyum si Pak RT menjawabnya, tapi kok sepertinya, sebuah senyum yang tak rela. Tapi tetap, Pemilu Legislatif yang lalu, saya tidak memilih dan terang-terangan ngeloyor pergi, melewati TPS yang di dalamnya ada Pak RT serta sejumlah tetangga yang jadi panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah memberikan suara atau tidak memberikan suara, bagi saya adalah urusan yang sangat personal. Semua orang bisa merespon ajakan untuk berdemokrasi ini dengan keputusan yang sangat personal pula. Memilih adalah sebuah idealisme begitu juga tidak memilih. Begitu juga alasan dibalik pengambilkeputusan itu. Apakah ia tidak enak dengan Pak RT, terikut euforia, ingin memilih pemimpin yang lebih ganteng, ingin negara lebih baik, bingung karena semua penipu, atau cuma ingin iseng-iseng mencelupkan jari ke tinta. Tetapi kalau ada-ada hal yang membuat ia jadi terpaksa, apakah ia dipaksa untuk tidak bisa memilih karena ada kekacauan sistem yang sungguh sayang jadi lumrah di negara ini, atau ada paksaan secara persuasif dengan amplop atau apapun, ceritanya jadi lain tentunya. Ini si bukan kebebasan personal lagi. Dan tidak sepatutnya dimaklumi. Cuma masalahnya, ini kan Republik Maklum. Ya, maklumlah, namanya saja baru belajar demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlU3blKEwAI/AAAAAAAAAS8/_lzHUVuiqMo/s1600-h/surat+suara.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlU3blKEwAI/AAAAAAAAAS8/_lzHUVuiqMo/s400/surat+suara.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356248278797434882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, demi menghormati Bapak, dan sedikit kena euforia mass media. Saya putuskan, pada 8 Juli kemarin. Untuk mencontreng, bukan mencoblos, meyilang atau melingkari. Walau di dalam kotak suara, saya berdiri lebih dari 3 menit. Bingung juga melihat wajah-wajah itu. Maka biar tidak bingung, saya pun bersenandung dan percaya hal-hal yang ajaib akan menuntutn saya. Lalu keluarlah lagu cap cip cup cap cip cup kembang kuncup, sampai lagu itu selesai pada sebuah gambar wajah berpeci. Dan sayapun mencontreng kotak dengan lelaki berpeci disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlU35dqrBAI/AAAAAAAAATE/Lc71fZz0Mwc/s1600-h/tinta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlU35dqrBAI/AAAAAAAAATE/Lc71fZz0Mwc/s400/tinta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356248792182752258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ternyata, lega juga rasanya bisa ikut-ikutan kemeriahan kampung yang cuma lima tahun sekali ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8114039344780143111?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8114039344780143111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8114039344780143111&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8114039344780143111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8114039344780143111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/07/pemilu-kedua.html' title='pemilu kedua'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlU28OEHbjI/AAAAAAAAAS0/psnSGfzM8uM/s72-c/kotak+suara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-275818947704952665</id><published>2009-06-22T15:30:00.007+07:00</published><updated>2011-01-20T20:19:01.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>menurut UU Pornografi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    Pornografi&lt;/span&gt; adalah materi seksualitas yang dibuat manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan di muka umum yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan atau melanggar nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Lalu seks itu sendiri punya definisi (ini menurut BKKBN (Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional)). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Seks&lt;/span&gt; adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin yaitu penis untuk laki-laki dan vaginavuntuk perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; Sementara itu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seksualitas&lt;/span&gt; sendiri memiliki berbagai definisi yang dibagi dalam banyak dimensi, yaitu dimensi biologis, sosial, perilaku dan kultural.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;    Seksualitas dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dimensi biologis&lt;/span&gt; berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan seksual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; Seksualitas dari &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;dimensi psikologis&lt;/span&gt; erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk seksual, identitas peran atau jenis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; Dari &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;dimensi sosial&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;dilihat pada bagaimana seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dimensi perilaku&lt;/span&gt; menerjemahkan seksualitas menjadi perilaku seksual, yaitu perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan atau hasrat seksual. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Dimensi kultural&lt;/span&gt; menunjukan perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemudian yang jadi pertanyaan saya :&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;1. Maksud materi seksualitas itu yang seperti apa, dan masuk dalam dimensi apa, karena tidak ada satupun definisi yang ada di sini bersifat negatif ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;2. Membangkitkan hasrat seksual. Hmm, memangnya kalau saya melihat hal hal yang bermateri seksualitas (???) hasrat seksual saya dapat melulu bangkit? Saya kalau lihat poster Jhony Deep yang berpakaian lengkap dan sedang duduk anteng saja bisa bangkit hasrat seksualnya, terus, berarti foto Jhony Deep pake baju lengkap dan duduk anteng tadi bisa dianggap pornografi dong???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;3. Melanggar nilai-nilai kemanusiaan? Wah, misalnya saja ada kelompok organ tunggal, tayub, dangdut keliling, dll, yang cuma bisa menghidupi diri mereka lewat pekerjaan pertunjukan keliling yang notabene para penarinya akan meliuk liukkan tubuh dengan genit kepada para penonton...berarti mereka praktis tidak bisa menghidupi dirinya lagi karena yang diperbolehkan cuma organnya saja, para pemain musik tayubnya dan para penari atau penyanyinya cuma bisa duduk diam, mematung di pojokan sambil pake baju yang (katanya) sopan, yang akhirnya tidak ada satupun yang menonton dan tidak ada satupun yang menyawer, terus dimana menghargai nilai-nilai kemanusiaannya??? Memang negara mau memberi mereka penghidupan???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;...&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlKj8vh9z2I/AAAAAAAAASs/JM9sLt5KGp4/s1600-h/women.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlKj8vh9z2I/AAAAAAAAASs/JM9sLt5KGp4/s400/women.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355523170843348834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;                                                                                                                    &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;women by lucia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;refleksi personal atas kemubaziran sebuah undang-undang yang sepertinya tidak tepat sasaran, karena saya kok masih bisa liat film porno dimana-mana, masih banyak kasus perkosaan, pelecehan, dan blablabla lainnya, yang katanya tidak bermoral....piuhhh&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-275818947704952665?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/275818947704952665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=275818947704952665&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/275818947704952665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/275818947704952665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/06/menurut-uu-pornografi.html' title='menurut UU Pornografi'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SlKj8vh9z2I/AAAAAAAAASs/JM9sLt5KGp4/s72-c/women.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-2228173670728198732</id><published>2009-06-08T18:52:00.008+07:00</published><updated>2011-01-22T03:06:03.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>my dreams come true</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8c0Bil4I/AAAAAAAAASc/E9LaOxkCw0Y/s1600-h/DSC00371.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8c0Bil4I/AAAAAAAAASc/E9LaOxkCw0Y/s400/DSC00371.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344924429713577858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8WqRPk0I/AAAAAAAAASU/JrGAUMed0Lw/s1600-h/DSC00314.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8WqRPk0I/AAAAAAAAASU/JrGAUMed0Lw/s400/DSC00314.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344924324015870786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8Rq-84OI/AAAAAAAAASM/Amt-VzNlr1A/s1600-h/DSC00331.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8Rq-84OI/AAAAAAAAASM/Amt-VzNlr1A/s400/DSC00331.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344924238308237538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8Mt2UftI/AAAAAAAAASE/o0wHvLTQZuo/s1600-h/DSC00336.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8Mt2UftI/AAAAAAAAASE/o0wHvLTQZuo/s400/DSC00336.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344924153177997010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8El2SDHI/AAAAAAAAAR8/6FyPZwmr8Q4/s1600-h/DSC00262.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8El2SDHI/AAAAAAAAAR8/6FyPZwmr8Q4/s400/DSC00262.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344924013591399538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz7_3XPOuI/AAAAAAAAAR0/-E-81xorNRA/s1600-h/DSC00259.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz7_3XPOuI/AAAAAAAAAR0/-E-81xorNRA/s400/DSC00259.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344923932393683682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz751wow8I/AAAAAAAAARs/inYd75zzkSw/s1600-h/DSC00252.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz751wow8I/AAAAAAAAARs/inYd75zzkSw/s400/DSC00252.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344923828884128706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;no words, no talks&lt;br /&gt;i only can whispered it slowly through the wind&lt;br /&gt;that im happy, coz one of my dream was come true&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;chrismats '08&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-2228173670728198732?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/2228173670728198732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=2228173670728198732&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2228173670728198732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2228173670728198732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/06/my-dreams-come-true.html' title='my dreams come true'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Siz8c0Bil4I/AAAAAAAAASc/E9LaOxkCw0Y/s72-c/DSC00371.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-404663453196361419</id><published>2009-06-01T17:17:00.008+07:00</published><updated>2011-09-18T08:02:25.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>a tale of a lone ranger</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SiOrImUjBII/AAAAAAAAARU/3XqPjvqF9jk/s1600-h/dear+naga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SiOrImUjBII/AAAAAAAAARU/3XqPjvqF9jk/s400/dear+naga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342301747205571714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;It is said that, a lone ranger must stick together to his wand, because without that "magical thing", he might get lost somewhere.&lt;br /&gt;It is also said that, a lone ranger sometimes can be so tired, and feeling confused about everything. That's why sometimes he needs to take a rest, take a deep breath and relaxing on the beach and watch the beautiful and unforgettable sunset slowly loose it path in the west side.&lt;br /&gt;And it is also said that, a lone ranger is not so lone person, because it is written that a lone ranger has his own  divided soul. The one who also (sometimes) feeling alone and always hope to find it's own lone ranger. And i know that i already find it. The lone ranger with his mysterious eyes, words and lovable hearts. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-404663453196361419?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/404663453196361419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=404663453196361419&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/404663453196361419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/404663453196361419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/06/tale-of-lone-ranger.html' title='a tale of a lone ranger'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SiOrImUjBII/AAAAAAAAARU/3XqPjvqF9jk/s72-c/dear+naga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-1676202226795355658</id><published>2009-05-19T13:51:00.008+07:00</published><updated>2012-02-09T13:30:48.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>Jakartabites</title><content type='html'>Jakarta, sebuah ibukota dengan penduduk mencapai 10 juta ketika siang dan 8 juta waktu malam sudah menjadi semacam monster yang kalau digelitik sedikit akan menggigit. Jakarta juga bagai bentol gigitan nyamuk, makin digaruk makin gatal. Sebuah rasa yang sungguh menyebalkan, tetapi kadang-kadang cukup membuat rindu.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJYC099bJI/AAAAAAAAAQk/I9N02zQ6Y7s/s1600-h/DSC01834.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJYC099bJI/AAAAAAAAAQk/I9N02zQ6Y7s/s400/DSC01834.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337425313988963474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Ia membuat banyak orang jadi tergantung, mau tidak mau mesti mencintainya, dan seperti layaknya monster, kalau orang yang jadi tergantung itu berteriak-teriak, misuh-misuh tentang si Jakarta, ia akan menggigit, malah kalau bisa dikunyah hidup-hidup, sampai orang itu berteriak minta ampun dan terpaksa kembali mencintai apa adanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ini gambaran Jakarta yang personal untuk saya, seorang perempuan berusia lebih dari seperempat abad yang terlahir, besar di Jakarta dan mau tidak mau harus mencintainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Bagi saya, menjadi warga Jakarta semenjak lahir adalah sebuah keberuntungan sekaligus malapetaka yang inheren. Beruntung karena tanda-tanda berpijarnya Indonesia tercinta ada di Jakarta. Ada pusat pemerintahan, ada pusat ekonomi juga pusat-pusat dunia sureal yang bikin kita tersenyum miris karena seperti di dunia mimpi: mall-mall dan plaza-plaza yang tumbuh berjamur seperti panu di tubuh. Jadi malapetaka karena Jakarta suka menggigit, dan siapa pula yang suka digigit? Akan jadi mending kalau giginya ompong seperti manula, tetapi Jakarta punya gigi bertaring yang tajamnya tanpa ampun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kenapa Jakarta suka menggigit?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJXhHz0QzI/AAAAAAAAAQc/sBCMKNm8_DQ/s1600-h/DSC01827.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJXhHz0QzI/AAAAAAAAAQc/sBCMKNm8_DQ/s400/DSC01827.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337424734931141426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Pertanyaan inilah yang sering jadi bahan pikir tidak penting ditengah rongsok pikiran otak saya. Padahal Jakarta bukan kucing, anjing, macan atau tokek yang sekali gigit tak mungkin dilepas. Jakarta cuma sebuah kota yang luasnya hanya sepersekian dari Pulau Jawa. Tetapi mengapa orang satu pulau itu, bahkan satu negara tercinta Indonesia, selalu termangap-mangap mendengar atau melihat Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saya sering mendengar patah-patah ucapan soal “pantas anak Jakarta” ketika saya berada di luar kota dan bergaul dengan penduduk setempat. Atau ketika motor plat B saya ada di kota berplat AB sering ada slentingan kiri kanan kalau saya sedang mengendarai motor di jalanan dan mulai sedikit ngebut, “mentang-mentang plat B”. Aduh. Cuma satu kata itu yang bisa saya ungkapkan. Sebegitu burukkah orang Jakarta berkendara, sampai-sampai biang ngebut dan rusuh di jalanan juga jadi stigmanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJZtkA5f3I/AAAAAAAAAQ8/xsCFwvXzbOw/s1600-h/DSC02014.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJZtkA5f3I/AAAAAAAAAQ8/xsCFwvXzbOw/s400/DSC02014.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337427147683889010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Saya tidak pasti harus bagaimana menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Karena kalau dipikir-pikir, sangat beralasan mengapa stigma itu menempel di setiap jidat penduduk Jakarta. Alasan tepat yang saya temukan adalah, Jakarta memiliki monster penunggu. Kalau tidak ngebut di jalan, monsternya bisa menggigit kita. Kalau tidak jalan menyelip nyelip, ada monster lainnya yang akan mengejar-ngejar. Jadi kalau tidak siap digelendoti monster, jangan pernah berani sekali-kali mencoba jadi penduduk kota Jakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apa saja monster di Jakarta yang suka menggigit?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Jakarta bisa jadi gudang para monster. Macam-macam bentuknya. Ada yang suka berpakaian rapi dan necis, juga kadang-kadang suka ada yang berpakaian seperti agamawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Ada monster waktu yang durasinya sekitar jam 9 sampai jam 5. Ini monster paling menakutkan di kota supersibuk ini. Kalau si monster itu sudah berteriak-teriak, maka tidak ada satupun orang Jakarta yang sudah tanda tangan kontrak dengannya sanggup mengelak. Semua patuh, dan langsung terbirit-birit lari tunggang langgang kalau si monster sudah mulai menguap dan bangun dari tidurnya. Berani tidak patuh, ya bakal digigit habis-habisan, sampai tidak ada yang tersisa. Sebenarnya si monster itu sudah menempel dan menghisap seluruh energi makhluk-makhluk yang sudah tanda tangan kontrak itu, bahkan ada beberapa yang sampai membubuhkan cap jempol darah. Kalau sudah kena monster ini, maka setiap pukul 5 sore ke atas, muka-muka orang Jakarta yang tadinya bersih-bersih dan wangi-wangi, berubah menjadi kucel, kusam dan berbau keringat campur minyak wangi. Semua efek monster akan meruyak membaur jadi satu dalam bis-bis transjakarta, motor-motor yang bertebaran bagai nyamuk di jalan-jalan, metro mini, kopaja, angkot, trotoar, sampai mall-mall, tempat orang Jakarta bersembunyi sejenak dari monster mengerikan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lalu ada monster yang hobinya menyendiri, individualis, dan matanya cuma satu. Monster ini seperti sebuah patogen bagi banyak orang Jakarta yang waktunya sudah termakan habis dengan monster 9 to 5 itu. Akibat monster ini pula banyak orang Jakarta yang merasa dunia berpusat pada dirinya, sehingga tidak ada orang lain di sekitarnya. Fenomena keterjangkitan monster ini dapat terlihat pada sarana-sarana umum ataupun tempat-tempat umum di Jakarta. Tempat dan sarana umum itu menjadi semacam jejak rekam bagi monster penyendiri akan keberhasilannya sebagai salah seorang monster yang berada di jajaran hal-hal yang suka menggigit di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJYbJ1VhvI/AAAAAAAAAQs/PPnmX9GsXr8/s1600-h/DSC01965.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJYbJ1VhvI/AAAAAAAAAQs/PPnmX9GsXr8/s400/DSC01965.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337425731906799346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Jejak rekam itu kalau digambarkan salah satunya adalah seperti ini; sudah lama pintu di halte bis Blok M transjakarta itu ingin berteriak minta tolong. Pagi ini sekitar pukul 8 pagi waktu indonesia barat, ia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat orang-orang Jakarta yang antri di halte itu berdesak-desakan bagai antri beras murah jatah Bulog. Lebar antrian yang seharusnya sesuai dengan lebar pintu sudah sama sekali dilanggar. Semua orang ingin masuk duluan ke dalam bis, tak peduli di kiri kanannya ada orang yang juga punya pikiran sama. Semua rasa sudah dimatikan. Rasa peduli dan rasa kemanusiaan secara otomatis mati, ketika sekitar hanya seperempat jam-kalau sedang beruntung dan lebih dari setengah jam kalau lagi apes-mengantri bis transjakarta itu. Dorong depan, dorong kiri, injak kanan, injak kiri malah kalau bisa bikin orang-orang di sekitarnya terjelengkang, asal bisa masuk bis berAC itu duluan. Padahal kalau dipikir-pikir tak banyak membawa perbedaan kalau saja semua orang punya sedikit sabar. Tetapi tampaknya monster autis ini sudah benar-benar menjangkiti semua orang. Jadi apa mau dikata, walaupun bis transjakarta jurusan blok m, cukup banyak jumlahnya, tradisi dorong depan, belakang, kanan, kiri sambil memasang wajah tak berdosa seakan-akan sudah jadi keharusan, ya tidak mungkin akan berubah. Jika sudah selesai dorong mendorong dan berhasil masuk ke dalam bis, semua tampak terburu-buru sambil mendorong dorong lagi mencari tempat duduk yang tidak akan pergi entah kemana juga walau mereka ribut mencari-cari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;Selamat untuk si monster autis. Ini cuma salah satu keberhasilannya menjangkiti makhluk-makhluk ibukota yang secara tidak sadar sudah menjadi monster itu sendiri sebenar-benarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kalau bicara mengenai monster-monster yang ada di Jakarta, ujung-ujungnya sih cuma satu. Semua monster itu punya jiwa sama yang membuat orang Jakarta terkesan tidak peduli pada yang lain, dan itu adalah masalah bertahan hidup. Survival of the fittest. Siapa yang paling kuat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, paling adaptif, dialah yang akan bertahan dalam rantai makanan yang saling makan-memakan ini. Bertahan hidup kemudian menjadi semacam apologi bagi banyak orang dan khususnya dalam konteks ini adalah masyarakat Jakarta, supaya mereka bisa tetap eksis dalam kota metropolis yang sungguh chaotic ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJZUGJUDNI/AAAAAAAAAQ0/H9-eNKHSv84/s1600-h/DSC01856.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJZUGJUDNI/AAAAAAAAAQ0/H9-eNKHSv84/s400/DSC01856.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337426710169390290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJZtkA5f3I/AAAAAAAAAQ8/xsCFwvXzbOw/s1600-h/DSC02014.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebenarnya masih banyak monster lain yang suka menggigit di Jakarta. Bukan hanya si monster 9to5 dan monster autis. Tetapi memang hanya dua monster itu yang sungguh paling nyantol di kepala saya akhir-akhir ini. Yah karena mau tidak mau, saya harus kembali menjalankan rutinitas orang Jakarta dan merelakan diri untuk terus digigit oleh monster-monster itu. Sampai saat ini si, saya berusaha untuk tidak dipengaruhi racun monster-monster itu. Karena sampai saat ini saya masih sangat sadar bahwa saya tidak mungkin terus menjalankan rutinitas itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebal sekali rasanya kalau saya sudah mulai komplain dengan sikap orang-orang yang sudah kena kutuk monster itu lalu orang-orang itu akan mengeluarkan senjata paling ampuh. Yaitu sebuah perkataan yang bisa bikin saya panas hati dan ingin sekali memberi pelototan tajam setajam sinar x ke orang yang berucap itu. Seperti misalnya ketika sedang antri di halte busway, lalu ada peristiwa dorong mendorong , saya lalu mencoba bilang kepada orang di belakang saya “Pak jangan dorong-dorong dong”. Maka dengan sigap sebuah senjata pertahanan hidup yang paling mujarab itu keluar, “Namanya juga Jakarta mbak”, ....ughhhh saya sumpahin digigit monster orang itu, upss atau memang sudah digigit dia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJaXUjI4iI/AAAAAAAAARE/nh7_wfy63cU/s1600-h/DSC02009.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJaXUjI4iI/AAAAAAAAARE/nh7_wfy63cU/s400/DSC02009.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337427865087042082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-1676202226795355658?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/1676202226795355658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=1676202226795355658&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1676202226795355658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/1676202226795355658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/05/jakartabites.html' title='Jakartabites'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ShJYC099bJI/AAAAAAAAAQk/I9N02zQ6Y7s/s72-c/DSC01834.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-6721604839876577229</id><published>2009-05-08T14:30:00.004+07:00</published><updated>2011-01-22T03:06:03.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>lost</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SgPihzYuw1I/AAAAAAAAAQU/DkCf82ux5NQ/s1600-h/peta+kota.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 270px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SgPihzYuw1I/AAAAAAAAAQU/DkCf82ux5NQ/s400/peta+kota.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333355454094295890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;i'm lost and i can't find my way home&lt;br /&gt;can you show me how to get there...&lt;br /&gt;to my sunny beautiful small wooden house&lt;br /&gt;with the smell of dawn, strawberry field&lt;br /&gt;and sky full of diamonds,&lt;br /&gt;and ms penny lane walking along with her yellow submarine&lt;br /&gt;in my backyard..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;please guide me,&lt;br /&gt;cause right now my eyes full of polluted smoke&lt;br /&gt;and the people's ignorance who can't even smile to a stranger...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;im lost..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-6721604839876577229?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/6721604839876577229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=6721604839876577229&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6721604839876577229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/6721604839876577229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/05/im-lost-and-i-cant-find-my-way-home-can.html' title='lost'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SgPihzYuw1I/AAAAAAAAAQU/DkCf82ux5NQ/s72-c/peta+kota.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-3656231694164688598</id><published>2009-05-07T15:57:00.002+07:00</published><updated>2011-01-22T03:06:03.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>pukul 21 lewat 15 menit di ende</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SgKi5Y2Zc_I/AAAAAAAAAQE/Oy5DFTpLX5w/s1600-h/night+in+ende.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SgKi5Y2Zc_I/AAAAAAAAAQE/Oy5DFTpLX5w/s400/night+in+ende.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333004015566943218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini tidak seperti malam-malam biasanya yang sering ku lewati di kamarku di pojokan kota yang bising itu. Jika tidak menghabiskan malam dengan merusak mata dan otak dengan melihat tabung kaca hidup, atau membaca berlembar-lembar halaman buku sebelum akhirnya tertidur maka aku akan melangutkan pikiran sejenak dengan tubuh terlentang di ubin kamar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Malam ini berbeda, karena sebuah motor mattic membawaku dan lelakiku mengarungi kota di tepian pantai pulau bunga yang sungguh eksotis.Kala itu pukul 21 malam lewat 15 menit waktu indonesia tengah. Hanya bunyi jangkrik dan lamat-lamat obrolan dari bilik-bilik ruang peraduan warga kota itu sedikit terdengar. Kami berdua menderu dalam malam berangin yang sempat membuat penyakit sesak nafasku kambuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah perempatan pasar yang malam itu tak berorang, kami berdua berhenti. Mematikan motor dan terdiam menikmati malam. Tidak ada asap, tidak ada bau polutan. Di ujung sana jauh-jauh ku hirup bau laut dan jauhhhhh sekali di pucuk wolofeo, kudengar nenek berteriak..."eeeeeeeeeee"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'09&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-3656231694164688598?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/3656231694164688598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=3656231694164688598&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3656231694164688598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/3656231694164688598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/05/pukul-21-lewat-15-menit-di-ende.html' title='pukul 21 lewat 15 menit di ende'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SgKi5Y2Zc_I/AAAAAAAAAQE/Oy5DFTpLX5w/s72-c/night+in+ende.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-4536473848858999589</id><published>2009-04-21T13:17:00.005+07:00</published><updated>2011-01-22T03:06:03.688+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>ahh sepi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Se1lS3mAONI/AAAAAAAAAPc/gZRCkzBnpNM/s1600-h/lonely.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Se1lS3mAONI/AAAAAAAAAPc/gZRCkzBnpNM/s400/lonely.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327025309084563666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;yang paling menyenangkan dari ketiadaan adalah rasa candu yang terus membuat kita merasa harus mencari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;K&lt;span style="font-size:85%;"&gt;etika sesuatu yang tiada kita personifikasikan dengan sesuatu yang padat, nyata, tersentuh, maka ia menjadi ada. Sesuatu itu hanya akan mengada dalam ruang-ruang pikir yang terlihat ketika mata terpejam atau ketika pikiran melangut melayang-layang pergi ke antah berantah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sesuatu itu bisa menjadi semacam ekstase yang seringkali sungguh membuat hidup. Sesuatu atau seseorang itu menjadi harap-harap. Seperti kopi, rokok, ganja, atau keripik keju. Ada harap atau angen-angen ketika hal itu memasuki ranah-ranah kesadaran kita. Sampai-sampai ketika ia mengendap, itu atau ia akan terus tinggal mengendap sampai pada titik ketidaksadaran. Untuk terus dikeluarkan menjadi uap. Uap semu yang membuat tersenyum. Seperti kopi, rokok, ganja atau keripik keju, yah itu semua membuat tersenyum ketika kita mengulumnya, atau sekedar menghirup-hirup aromanya. Setelah habis mereka jadi tiada, tetapi sungguh selalu dirindukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;saya seorang pencandu sepi yang selalu mencari dan sekarang merasa sudah bertemu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mencandu, ya saya sudah kecanduan, kecanduan sepi yang tak tertahankan. Sepi itulah yang terus membuat saya merasa harus terus mencari dan mencari penawar. Entah apa penawarnya, tetapi saya yakin akan menemukan, tetapi sepertinya ia bersembunyi dan ingin menyendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bertemu sang sepi yang sedang menyendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Biarkan saya beristirahat sejenak bersama sang sepi. Saya mau memeluknya dulu dan tak mau mencari penawarnya. Lelahlah yang membuat saya duduk diam dengan sepi di dalam kantong celana. Sepi tidak pernah mengeluh. Ia cuma diam di kantong celana saya sambil sesekali bersenandung. Sepi bersenandung soal ketiadaan yang menyiksanya. Mungkin sepi juga lelah menjadi sesuatu yang dianggap abstrak dan tidak terdefinisi. Sepi mungkin saja rindu ingin menjadi padat. Sama seperti saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Maka ketika saya beristirahat di pinggir pantai sebuah pulau, ketika ada dialog di ranah diam dengan sepi, saya yakin sudah bertemu dengan penawar...sang sepi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi sang sepi sekarang sedang menyendiri, seperti sejatinya, ia sedang pulang dan tertidur dan tidak ingin diganggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; ahhh...sepi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-4536473848858999589?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/4536473848858999589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=4536473848858999589&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4536473848858999589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4536473848858999589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/04/ahh-sepi.html' title='ahh sepi'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Se1lS3mAONI/AAAAAAAAAPc/gZRCkzBnpNM/s72-c/lonely.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-4718050133257126963</id><published>2009-04-11T22:30:00.001+07:00</published><updated>2011-01-20T20:19:01.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>tradisi mubeng beteng</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hening adalah bentuk refleksi manusia atas eksistensi dirinya. Eksistensi diri manusia yang mengada karena adanya sang pencipta. Bentuk refleksi atas permulaan kemanusiaan itu diejawantahkan oleh masyarakat Yogyakarta dalam bentuk tradisi mubeng beteng dalam kebisuan yang dilaksanakan tiap malam 1 Suro. Mubeng beteng atau berjalan mengelilingi benteng Kraton Kasultanan Yogyakarta adalah tradisi yang terbuka untuk siapa saja tetapi harus benar-benar diam dan tidak berkata-kata serta harus berjalan kaki memutar sejauh kurang lebih empat km di seputaran benteng selama sekali, tiga kali ataupun lebih asalkan dalam jumlah yang ganjil dengan tujuan mendengarkan suara hati juga nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, mubeng beteng adalah tradisi asli Jawa yang berkembang pada abad ke-6 sebelum Mataram-Hindu. Tradisi asli Jawa itu disebut muser atau munjer (memusat) yang artinya mengelilingi pusat, dalam hal ini pusat wilayah desa. Ketika pedesaan kemudian pada akhirnya berkembang menjadi kerajaan, maka muser pun menjadi sebuah tradisi mengelilingi pusat wilayah kerajaan. Sumber sejarah lainnya mengatakan, Mubeng beteng merupakan tradisi Jawa-Islam yang dimulai ketika Kerajaan Mataram (Kotagede) membangun benteng mengelilingi Kraton yang selesai pada tanggal satu Suro 1580. Para prajurit Kraton ketika itu rutin mengelilingi (mubeng) benteng untuk menjaga Kraton dari ancaman musuh – pada waktu itu Pajang. Setelah kerajaan membangun parit di sekeliling benteng, tugas keliling dialihkan kepada abdi dalem Kraton. Agar tidak terkesan seperti militer, para abdi dalem itu menjalankan tugasnya dengan membisu sambil membaca doa-doa di dalam hati agar mereka diberi keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi mubeng atau memutar itu sebenarnya tidak hanya berada di seputaran benteng Kraton Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga terdapat tradisi mubeng kuthagara, dan mubeng manca negara karena sebagai pusat negara, Kraton dikelilingi oleh kutha negara dan kutha negara dikelilingi oleh manca negara. Manca negara yang dimaksud di sini adalah daerah-daerah di luar wilayah kesunanan dan kesultanan tetapi masih wilayah Kerajaan Yogyakarta. Karena tradisi mubeng beteng lebih mudah diikuti oleh masyarakat secara luas, maka tradisi itulah yang kemudian paling terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena amat terkenal itulah, tradisi mubeng beteng setiap tahunnya selalu diikuti oleh ribuan masyarakat Yogyakarta juga luar Yogyakarta yang memang ingin berlaku batin ataupun mereka yang hanya ingin merasakan aura hening dari laku tapa bisu itu. Hingga saat ini tradisi yang tetap lestari sebagai rangkaian acara perayaan malam tahun baru Islam itu dimulai dari Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta menuju Alun-alun Utara untuk selanjutnya bergerak ke arah barat mengelilingi tembok benteng Kraton. Laku tapa bisu itu biasanya berlangsung tepat tengah malam pada tanggal 1 Suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku mengelilingi tembok benteng Kraton dalam keheningan total itu merupakan simbol keprihatinan serta kesiapan masyarakat Yogyakarta khususnya penganut kejawen untuk menghadapi tahun yang akan datang. Diharapkan dengan sikap prihatin, mereka lebih mawas diri dan tidak berpuas diri terhadap segala sesuatu yang telah diraih pada tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SeC6igdn-8I/AAAAAAAAAPU/C3OhOwwWQ54/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SeC6igdn-8I/AAAAAAAAAPU/C3OhOwwWQ54/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323459861544434626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-4718050133257126963?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/4718050133257126963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=4718050133257126963&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4718050133257126963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/4718050133257126963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/04/tradisi-mubeng-beteng.html' title='tradisi mubeng beteng'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SeC6igdn-8I/AAAAAAAAAPU/C3OhOwwWQ54/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-2001838366108089697</id><published>2009-03-28T23:54:00.005+07:00</published><updated>2011-09-18T08:07:22.632+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><title type='text'>melayang pikiranku, melayang</title><content type='html'>ohh sweet angel in heaven please send my prayer to my one and only..&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sc5W0KMr_fI/AAAAAAAAAPM/MCYU6WdOAeg/s1600-h/dont+want+to+miss+a+thing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 264px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sc5W0KMr_fI/AAAAAAAAAPM/MCYU6WdOAeg/s400/dont+want+to+miss+a+thing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318283664061890034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sc5WUhZeEqI/AAAAAAAAAPE/3zX-PQG-AJ4/s1600-h/dont+want+to+miss+a+thing.jpg"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-2001838366108089697?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/2001838366108089697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=2001838366108089697&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2001838366108089697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2001838366108089697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/03/melayang-pikiranku-melayang.html' title='melayang pikiranku, melayang'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Sc5W0KMr_fI/AAAAAAAAAPM/MCYU6WdOAeg/s72-c/dont+want+to+miss+a+thing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-2661728719177977196</id><published>2009-03-27T15:08:00.004+07:00</published><updated>2011-01-22T11:31:27.342+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>hiburan sirkus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ScyMZF4R6uI/AAAAAAAAAO0/kCGVK-IZQko/s1600-h/kembali+ke+uud45.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ScyMZF4R6uI/AAAAAAAAAO0/kCGVK-IZQko/s400/kembali+ke+uud45.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317779622720563938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini saya dan (sepertinya) banyak sekali orang-orang di negeri tercinta ini disuguhi banyak parade sirkus. Sirkus wajah-wajah manis nan rupawan yang semuanya sama-sama punya janji-janji manis bak gula aren dikerubuti semut rangrang.&lt;br /&gt;Mulai dari keluar pekarangan rumah, terus sampe ke tempat saya beraktifitas, sampai dengan masuk ke dalam rumah lagi, dan menyalakan tabung kaca laknat yang isinya melulu sampah (tapi masih aja dilihat dan dicandui) semua mencoba meghipnotis dengan bayangan semu akan masa depan bangsa yang katanya bila ikut orang dalam rombongan sirkus itu, kita semua bisa sejahtera dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ScycvV0XwhI/AAAAAAAAAO8/lJQXCq3cfJg/s1600-h/2lukisan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ScycvV0XwhI/AAAAAAAAAO8/lJQXCq3cfJg/s400/2lukisan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317797597142303250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Behgg, jujur saja, saya sudah muak, dan saya yakin banyak yang sama seperti saya. Tapi mesti bagaimana lagi. Sistem bermasyarakat yang serba kompromistis ini memang harus berjalan. Kalau tidak ya mungkin saya harus kembali lagi ke jaman berburu dan meramu. Ini si yang saya mahfumi semakin modern jaman, semakin kompleks jaman, maka akan semakin banyak rombongan sirkus yang bakal lewat dan pamer kekuatan. Karena kalau tidak ada rombongan sirkus gak seru juga, tidak ada yang dilihat dan dicela-cela. Hahah, yah saya mending duduk di luar arena dan mencela-cela para penghibur itu, lalu kalau saatnya mereka minta dikasih perhatian serius, saya kasih tepuk tangan saja dan cukup bilang. Terimakasih sudah dihibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-2661728719177977196?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/2661728719177977196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=2661728719177977196&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2661728719177977196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/2661728719177977196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/03/hiburan-sirkus.html' title='hiburan sirkus'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/ScyMZF4R6uI/AAAAAAAAAO0/kCGVK-IZQko/s72-c/kembali+ke+uud45.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-8943436958563574974</id><published>2009-03-26T15:56:00.006+07:00</published><updated>2011-09-18T08:14:00.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>mari ngopi sebentar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SctLSzJlsHI/AAAAAAAAAOk/LwBYSCUUezY/s1600-h/kopi+purnama.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SctLSzJlsHI/AAAAAAAAAOk/LwBYSCUUezY/s400/kopi+purnama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317426571381158002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belum lama ini saya sedikit plesiran ke Paris van Java bersama Naga. Tidak lama, cuma sehari dua malam, tetapi kesannya masih terasa sampai saat ini. Ingin rasanya mengulang kembali dan kembali lagi, tidak sendiri, tapi harus bersama si abang itu tentunya. ahaiiiiii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung memang sudah tidak asing lagi buat saya. Kota yang cuma 2 jam perjalanan darat dari ibukota itu sering jadi tempat plesir di akhir minggu yang anehnya tidak pernah membuat saya betah berlama-lama. Mungkin karena atmosfirnya yang tidak terlalu akrab dengan aura dusun saya, karena Bandung yang saya datangi lebih banyak f&lt;span style="font-style: italic;"&gt;actory outlet&lt;/span&gt; atau rumah makan ala cafenya ketimbang angkringan yang pas banget "ndeso"nya dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sehari dua malam waktu itu bikin saya ingin kembali karena saya dibawa ke lorong-lorong lama Bandung yang belum pernah saya eksplorasi sebelumnya. Mungkin bagi orang Bandung atau orang yang amat mencintai kota hujan itu, lorong-lorong lama di Braga sudah terlalu basi saking seringnya jadi bahan bicaraan. Tapi syukur, saya belum pernah jalan-jalan di situ. Jadi saya senang sekali rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi bangun dari penginapan murah yang spreinya entah dicuci atau tidak , saya dan Naga berencana seharian menikmati perjalanan kaki Braga-Pasar Baru-Stasiun Hall-Dago. Mata belum sepenuhnya terbuka, dan mulut masih asam karena belum tersentuh cairan candu, kami berdua melangkahkan kaki keluar dari penginapan dan satu kata yang keluar dari mulutnya, "mari ngopi sebentar". Ahhh sebuah ajakan yang tak mungkin ditolak. Apalagi yang bisa dikatakan tentang surga, kalau bukan minum kopi bersama sambil berimajinasi soal yang belum terjadi. Maka, saya pasrah dituntun ke arah lorong Braga dan singgahlah kami di sebuah tempat bernama Purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sruput-sruput, sambil mendengarkan manhattan transfer dengan java jivenya&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I love coffee, I love tea&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;I love the java jive and it loves me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Coffee and tea and the java and me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A cup, a cup, a cup, a cup, a cup&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SctLZ5zjUoI/AAAAAAAAAOs/xSnE8Wj5wHk/s1600-h/kopi+purnama2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SctLZ5zjUoI/AAAAAAAAAOs/xSnE8Wj5wHk/s400/kopi+purnama2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317426693426860674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt;..kami berdua menyeruput kopi sambil nyemil nyemil roti bakar plus srikaya ala purnama yang ciamik dan lekker....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7570393-8943436958563574974?l=luciadianawuri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/feeds/8943436958563574974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7570393&amp;postID=8943436958563574974&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8943436958563574974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7570393/posts/default/8943436958563574974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luciadianawuri.blogspot.com/2009/03/mari-ngopi-sebentar.html' title='mari ngopi sebentar'/><author><name>lucia dianawuri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07778666706324621987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-qG-uuWuo8m8/Ty5Y4t18CWI/AAAAAAAAAwQ/LZ7gYYDRI9Q/s220/Image90.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/SctLSzJlsHI/AAAAAAAAAOk/LwBYSCUUezY/s72-c/kopi+purnama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7570393.post-4392767405272445104</id><published>2009-03-23T18:25:00.010+07:00</published><updated>2011-01-20T20:17:48.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang saya sendiri'/><title type='text'>lets go to the beach</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lets go to the beach,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lets make love all night long,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;just you and me naked, sacred&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;and feel the sand underneath our toe, feet and face&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scd0W9WqMSI/AAAAAAAAANc/udmxbB80uSM/s1600-h/me+and+you.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scd0W9WqMSI/AAAAAAAAANc/udmxbB80uSM/s400/me+and+you.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316345822909706530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scd0IaNtAOI/AAAAAAAAANU/wH5j1OG7LIY/s1600-h/to+kuta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scd0IaNtAOI/AAAAAAAAANU/wH5j1OG7LIY/s400/to+kuta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316345572958732514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scdz_epyJII/AAAAAAAAANM/tHZc34duhQw/s1600-h/pantai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scdz_epyJII/AAAAAAAAANM/tHZc34duhQw/s400/pantai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316345419531428994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scdz19emFcI/AAAAAAAAANE/skxSzW9Og_g/s1600-h/anjing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scdz19emFcI/AAAAAAAAANE/skxSzW9Og_g/s400/anjing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316345256007308738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VUCT1e5BLZs/Scdzhcf5qWI/AAAAAAA
