Perfect Days adalah film sederhana karya Wim Wenders yang sejatinya juga bermakna sederhana. Tidak ada yang menggebu-gebu dari film ini, flat saja. Tapi entah kenapa film ini justru sangat “melukai” saya dan bekasnya cukup lama menempel.
Perfect Days dibintangi oleh Koji Yakusho. Aktor Jepang kelahiran 1956 yang terkenal lewat film Shall We Dance (1996) ini menjadi lelaki paruh baya bernama Hirayama. Hirayama sehari-hari bekerja sebagai seorang pembersih Tokyo Toilet. Tiap hari ia melakukan rutinitas yang kurang lebih begitu-begitu saja.
Bangun pagi, membereskan tempat tidur, menyemprot tanaman, mencukur kumis, gosok gigi, membuka pintu rumah, tersenyum melihat langit, minum kopi instan dari vending machine, lalu berangkat ke tempat kerja dengan mobil kecil yang dipenuhi alat-alat kebersihan toilet.
Lalu, Hirayama akan memilih kaset pita koleksi lawasnya, menyetelnya dan menyetir sambil mendengarkan musik. Hirayama tampak bahagia dan menikmati setiap momen tersebut. Pagi di awal film itu, ia memutar salah satu koleksi favoritnya, “The House from the Rising Sun” dari The Animals. Hirayama pun tersenyum, sepertinya ia benar-benar hadir di momen itu.
Ketika sampai di Tokyo Toilet yang pertama, Hirayama yang minim bicara ini langsung bekerja. Dia sangat fokus pada tugasnya membersihkan tiap detail toilet. Bahkan saat teman kerjanya yang lebih muda, Takashi, mengajak ngobrol, ia tidak bersuara. Ia hanya mengeluarkan gesture-gesture sebagai bentuk respon dan kesopanan terhadap temannya yang memang sangat cerewet.
Ketika waktu makan siang tiba, Hirayama pun berhenti sejenak. Ia membawa makan siang sederhana, sepotong sandwich dan minuman kemasan. Hirayama pergi ke sebuah taman tak jauh dari lokasi toilet, lalu duduk di bangku taman. Sambil makan siang, ia akan memperhatikan lingkungan sekitarnya secara seksama.
Taman itu adalah ruang publik yang sering menjadi persinggahan bagi banyak makhluk. Beberapa manusia ada di taman itu. Ada seorang perempuan yang juga membawa makan siang. Ia duduk di bangku taman, sepertinya tidak nyaman. Ia tampak sangat gelisah dan resah. Beberapa kali ia memperhatikan Hirayama, begitu juga sebaliknya. Atas nama keramahan, Hirayama mengangguk, memberi sedikit sapaan. Perempuan tersebut membalas dengan kikuk.
Hirayama segera mengalihkan pandang ke pohon–pohon rimbun yang tumbuh di sekitarnya. Ia mengeluarkan kamera pocket film dari kantongnya dan mulai memotret pohon-pohon rimbun yang menarik perhatiannya. Hirayama adalah seorang pemotret amatir yang sepertinya menjadikan fotografi sebagai medium penyimpan kenangan, sekaligus ruang refleksi dan ruang heningnya. Ia juga seorang dendrophile. Pecinta pohon yang mengabadikan pohon dalam ingatan dan gambar, sekaligus perawat pohon yang sangat telaten. Terkadang ia mengambil bibit-bibit pohon di taman kota itu untuk ditanam di pot kecil di rumah mungilnya.
Hirayama memotret pohon-pohon rimbun dengan penuh kekaguman yang tulus. Ia memperhatikan daun-daunnya, cabang-cabangnya, rantingnya, dan membayangkan bagaimana bila pepohonan itu diabadikan dalam rona hitam putih. Hirayama tampak sangat menikmati keindahan yang sangat wajar itu. Jika sudah cukup ia kembali menikmati makan siang sambil memperhatikan orang-orang, termasuk makhluk-makhluk lain di sekitarnya.
Jika waktu istirahat berakhir, Hirayama mencukupkan momen itu, ia lalu kembali bekerja membersihkan toilet. Hirayama kembali fokus menjadi seorang pembersih toilet. Ia tidak memikirkan hal lain. Hanya fokus pada tugasnya membuat Tokyo Toilet bersih sempurna.
Lalu, saat sore menjelang, Hirayama kembali pulang. Sesampainya di rumah, ia akan bersepeda menuju tempat makan malam regulernya. Seperti biasa, ia disambut dengan ramah oleh si pemilik rumah makan. Segelas air putih dingin pun diberikan si pemilik warung sebagai wujud sambutan hangat yang terasa tulus dan menyegarkan.
Ketika makan malam usai, ia pun kembali ke rumahnya. Bersih-bersih, dan bersiap untuk tidur. Menyiapkan tatami untuk tidur. Membaca buku sambil menunggu kantuk benar-benar datang. Setelah tidak kuat lagi, Hirayama akan mematikan lampu dan tertidur.
Begitu saja yang ia lakukan. Hampir setiap hari di saat weekdays. Namun, di saat libur weekend, Hirayama akan melakukan rutinitas yang berbeda. Rutinitas pagi berganti dengan bersih-bersih rumah, mencetak negatif foto, pergi ke toko buku kecil membeli 1 buku untuk untuk bahan bacaannya selama seminggu ke depan. Lalu, Hirayama akan menyempatkan makan enak dan minum di sebuah warung makan langganan. Bila beruntung, sang pemilik warung, seorang perempuan paruh baya, akan menyanyikan lagu yang sangat menyentuh. Jika weekend sudah selesai, Hirayama akan kembali melakukan rutinitas weekdays-nya seperti biasa.
Namun, bukan berarti hal yang rutin dan serba teratur tersebut akan berjalan terus seperti demikian. Seperti layaknya hidup yang tidak pernah terduga, begitu juga hidup Hirayama yang tidak melulu mulus. Kadang ada kerikil yang datang begitu saja, entah dari mana. Kadang ia harus berurusan dengan masalah temannya di Tokyo Toilet. Kadang ia juga harus bisa merelakan hal-hal yang berharga, seperti terpaksa menjual salah satu koleksi kaset lawasnya supaya hidupnya yang rutin bisa terus berjalan.
Kadang, Hirayama juga harus berurusan dengan ponakannya, anak dari adiknya, yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya karena kabur dari rumah. Hirayama, mau tidak mau, harus berurusan dengan masa lalunya yang belum benar-benar selesai. Ia masih harus menghadapi adik perempuannya yang sudah lama tidak berhubungan dengannya karena menganggap Hirayama kabur dari tanggung jawab mengurus ayah mereka, yang sialnya adalah seorang manusia yang cukup sulit.
Lewat potongan kisah konflik keluarga itu, Wim Wenders mulai memasukkan sisi kemanusiaan yang benar-benar riil dari Hirayama. Ia ingin mengatakan bahwa, Hirayama, yang dari awal dicapture sebagai “sang pertapa” yang hidup damai di tengah keramaian kota Tokyo, ternyata juga punya kisah pribadi yang sama peliknya dengan kebanyakan manusia.
Tokoh pembersih Tokyo Toilet yang dari awal scene minim bicara dan hidupnya tampak baik-baik saja, no drama, rupanya hanya seorang manusia biasa yang punya kisah rumit. Hirayama ternyata hanya melarikan diri dari drama itu. Lantas, apakah kabur bisa jadi hal yang bijaksana untuk dilakukan?
Ternyata “Melarikan Diri” Tidak Selamanya Buruk
Kabur alias melarikan diri ternyata tidak selamanya buruk. Apalagi bila kabur dari hal-hal yang sudah tidak lagi membuat diri kita lebih baik bahkan membuat kedirian kita makin menghilang. Kabur adalah salah satu wujud self love yang sederhana, namun bukan perkara gampang. Tidak banyak orang punya keberanian untuk melakukan hal tersebut. Salah satu yang punya adalah Hirayama.
Ia kabur dari kebisingan hidupnya. Hirayama melakukan semacam ziarah dengan menempuh rutinitas hidup yang serba monoton dan serba hening. Ia memilih untuk tidak banyak bicara, dan lebih banyak mengamati, juga merasakan.
Bukan berarti ziarah yang ia pilih adalah jalan yang lurus tanpa batu sandungan. Justru sebaliknya. Jalan pilihannya itu sangat sunyi dan tidak banyak yang bisa memahami kesunyian itu. Namun, Hirayama sepertinya memang ingin menemukan dirinya kembali. Ia sudah lelah bertempur dengan keinginan-keinginan dan tuntutan orang lain, ia ingin mengambil jeda agar bisa menemukan dirinya kembali.
Dalam momen kaburnya itu, Hirayama berikhtiar untuk fokus pada dirinya dan tidak terusik oleh hal-hal lain. Ia fokus untuk saat sekarang dan cukup untuk sekarang, karena seperti yang ia katakan, “ondo wa kondo (今度は今度) lain kali adalah lain kali, dan ima wa ima (今は今) sekarang adalah sekarang”, itulah yang menjadi dasarnya menjalani kehidupan.
Kumpulan kata-kata itu memang tampak klise, tapi yang serba klise itu tidak selalu bergaris lurus dengan hal yang serba mudah. Butuh keberanian untuk melepaskan dari ketakutan juga kemelekatan. Saat kita bebas dari ketakutan, maka kita bebas dari segala beban.
Ketakutan memang menjadi salah satu sumber dari segala banyak masalah di bumi ini. Apalagi bila ketakutan itu didasari oleh hal-hal yang tidak punya dasar kuat.
Ketakutan umumnya muncul dari ilusi-ilusi terhadap hal-hal yang sudah terjadi (masa lalu) dan hal-hal yang belum terjadi (masa depan). Ilusi-ilusi yang terus menggurita dan beranak pinak di kepala inilah yang membuat banyak orang jadi penakut. Ilusi semacam itulah yang ingin dihindari oleh Hirayama, “ondo wa kondo, ima wa ima”. Menjadi manusia yang hadir di momen sekarang, dan saat sekarang.
Dalam kesendiriannya, Hirayama belajar untuk benar-benar hadir. Fokus pada apa yang ada saat ini dan tidak peduli pada apa yang ada di luar dirinya. Pertapaannya di tengah keramaian kota Tokyo itu memaksanya berlatih untuk memperdulikan apa yang benar-benar penting dan tidak peduli pada apa yang sesungguhnya tidak perlu dipikirkan.
Pada kenyataannya, tidak semua yang ada di dunia ini harus dipikirkan dan ada di bawah kontrol. Terkadang berpasrah pada alurnya semesta adalah jalan terbaik. Ketika Hirayama tidak banyak bicara, dan tidak menggugat pada apa yang sedang berjalan, justru disitulah kabur atau melarikan diri yang sebenar-benarnya.
Dalam jalan itulah Hirayama menemukan kebahagiaan, yang mungkin sulit untuk dimengerti oleh orang lain. Namun, bukankah kebahagiaan memang tidak perlu -melulu- harus dimengerti oleh yang lain. Cukup diri sendiri.
Ketika kita tahu bahwa kebahagiaan adalah hal yang personal tanpa perlu divalidasi oleh orang lain, maka kemerdekaan sudah kita raih. Kesadaran semacam inilah yang mahal dan sulit untuk dimaklumi oleh banyak orang.
Luc - Jogja, Feb 2026
Comments