Perfect Days adalah film sederhana karya Wim Wenders yang sejatinya juga bermakna sederhana. Tidak ada yang menggebu-gebu dari film ini, flat saja. Tapi entah kenapa film ini justru sangat “melukai” saya dan bekasnya cukup lama menempel. Perfect Days dibintangi oleh Koji Yakusho. Aktor Jepang kelahiran 1956 yang terkenal lewat film Shall We Dance (1996) ini menjadi lelaki paruh baya bernama Hirayama. Hirayama sehari-hari bekerja sebagai seorang pembersih Tokyo Toilet. Tiap hari ia melakukan rutinitas yang kurang lebih begitu-begitu saja. Bangun pagi, membereskan tempat tidur, menyemprot tanaman, mencukur kumis, gosok gigi, membuka pintu rumah, tersenyum melihat langit, minum kopi instan dari vending machine, lalu berangkat ke tempat kerja dengan mobil kecil yang dipenuhi alat-alat kebersihan toilet. Lalu, Hirayama akan memilih kaset pita koleksi lawasnya, menyetelnya dan menyetir sambil mendengarkan musik. Hirayama tampak bahagia dan menikmati setiap momen tersebut....
“Au Loim Fain” atau “Aku Ingin Pulang” adalah kata-kata terakhir Adelina Sau, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pada usia yang sangat belia, Adelina meregang nyawa di Malaysia, akibat siksaan majikannya. Kematian Adelina yang tragis dan begitu menyesakkan itu -sayangnya- menjadi gambaran kebanyakan pekerja migran Indonesia di negeri-negeri asing. Romi Perbawa menyadari hal itu. Ia ingin menyebarkan kesadaran itu ke khalayak. Ia juga ingin memberi gambaran, bagaimana orang-orang terkasih di seputar para pekerja migran itu begitu terdampak, misalnya saja anak-anak mereka. Dalam pengantarnya, Romi mengatakan, alasan utamanya menerbitkan buku ini adalah memperjuangkan kehidupan yang sehat dan pendidikan yang baik bagi anak-anak pekerja migran. Oleh karena itu, buku yang merupakan pengembangan dari workshop buku foto bersama Teun van der Heijden dan Sandra van der Doelen di JIPFest...