Analog Tidak (Akan) Mati: Peluang bisnis fotografi analog yang menjanjikan.

Di era digital sekarang ini, teknologi analog kembali diminati oleh penggemar fotografi dari beragam latar belakang. Ia kembali naik ke permukaan ketika ‘milenialls’ dan Gen Z  memeriahkan ruang-ruang kumpul dengan beragam komunitas analog. Banyak dari mereka, bahkan belum lahir ketika teknologi ini masih menjadi satu-satunya. Bagi mereka, analog adalah hal baru, namun penuh dengan nuansa jadul alias vintage. Inilah, salah satunya, yang membuat fotografi analog menjadi amat menarik bagi generasi masa kini. 

 

Namun, banyak juga penggiat fotografi lawas, baik amatir ataupun profesional, melirik kembali teknologi ini karena ingin bernostalgia, termasuk ingin memiliki wujud ekspresi visual yang berbeda di era digital yang serba instan ini. “Kalau saya perhatikan, sebenernya analog itu dari dulu tetap ada, gak pernah mati, cuma usernya ada di permukaan bawah,” ucap Sapta, salah satu owner dan inisiator Wash and Burn, Jakarta. “2010 an, ... 2015, ketika orang sudah terbiasa dengan digital processing, kemudian muncullah efek-efek untuk membuat foto digital jadi artistik, orang jadi tahu kalau pake filter kayak gini itu basednya dari film,”

 

Hal-hal yang sangat artistik dan terkesan beda itulah yang membuat banyak generasi sesudah film tertarik mengulik fotografi analog. Banyak juga yang ingin tampil unik dengan menggunakan kamera tua, dan menunjukkan kalau memakai film hasilnya bisa seperti bila menggunakan filter dalam teknologi digital. “Kalau mulai ke sini, 2017-2020, analog sudah menyentuh ke anak-anak SMP, SMA, hingga kuliah,” tambah Sapta. 

 

Mereka yang gandrung pada teknologi lawas ini, menganggap fotografi analog sebagai semacam klangenan[1], alias kesenangan, kegemaran atau hobi yang selalu menarik untuk dikulik. Banyak juga yang melirik analog karena mengikuti trend. “Kalau anak-anak muda mungkin banyak yang memperlakukan analog ini sebagai semacam aksesoris, fashion, karena kan banyak tu yang gantungin kamera pocket di leher,” ujar Tessi yang juga owner serta inisiator Wash and Burn. “Dan itu gak apa-apa, karena mereka kan memang interaksinya seperti itu. Jadi itu bisa jadi semacam pintu masuk untuk jadi beneran penasaran sama teknologi analog ini, “ tambah Tessi. 

 

Sementara itu Yudha, salah satu owner dan inisiator ASA Photolab, Jakarta, mengatakan, fotografi analog naik daun lagi karena banyak generasi muda, atau para penggemar foto yang baru saja masuk ke dunia fotografi, melihat siapa saja yang menghasilkan karya dengan teknologi jadul rasa baru ini. “Kayakanya ada keterkaitan juga kenapa analog jadi ngetrend lagi dengan siapa yang memulai dan siapa yang ingin memulai, karena kan trend ini gak bisa muncul sendiri, kayak saling berputar aja, yang pemain lama maen lagi, dan orang yang liat terinspirasi pingin nyobain hal baru,” ujar Sapta. 

 

Community Based dan Ruang Interaksi

 

Trend inilah yang membuka ceruk bisnis bagi fotografi analog. Menurut Tessi awal mula ia mulai mencoba masuk dalam bisnis foto analog ini adalah pada 2008 atau 2009 saat ia merasa mulai kesusahan mencari lab untuk mencuci film. “Akhirnya 2011 atau 2012, aku sama temen bikin lab indipendent. Coba-coba beli kertas, ya coba kita jalanin. Cuma ya, karena sama temen, makanya terus.. bubar.” 

 

Namun, tambahnya, ada satu pelajaran yang didapat dari usaha coba-cobanya ketika membuat lab bersama kawannya itu, “Kalau film lab itu gak ada interaksi apa-apa, orang cuma dateng ke lab aja, kaya orang dagang aja,”ungkap Tessi. Padahal ia punya bayangan tentang sebuah ruang interaksi dimana ia dan sesama penggemar foto analog bisa berkumpul dan saling sharing tentang ragam dan seluk beluk fotografi analog. 

 

Bayangan itulah yang akhirnya, ia dan Sapta, coba wujudkand. Suami istri ini ingin membuat orang tidak sekedar datang dan pergi saja. “Salah satu alasan kita bikin Dark Room atau Kamar Gelap ini, karena kalau sekedar lab kan gak ada interaksi, selain itu, ketika itu sepertinya belum ada yang bikin sesuatu untuk ngebalikin analog fotografi kembali ke analog lagi,” papar Tessi. “Kalo lab itu kan jadinya soft copy aja, file, jadi orang upload aja, tapi kalau kamar gelap itu balik ke fisik lagi, nah itu yang ga ada. Nah yang ga ada itu yang kita bikin,” tambah Sapta. 

 

Mereka berdua pun menggagas Wash and Burn. “Ketika itu, kita ngeliat ini peluang bagus untuk dikembangkan, karena banyak lab muncul, yang jual kamera ada, yang jual film ada, sudah bergulir, semua sudah ada, orang kalo punya hobi foto analog ya bisa ngejalanin,” papar Tessi. Selain itu, passion mereka untuk menciptakan sebuah ruang diskusi dan sharing dimana mereka bisa mengembalikan analog pada fitrahnya, membuat mereka menggagas Dark Room atau Kamar Gelap yang bisa digunakan bersama-sama. “Idenya adalah Dark Room Rental and Film Photography Supply. Selain menyediakan dark room, kita juga menyediakan alat-alat dan bahan untuk proses, dan cetak film, kertas film, sampe aksesoris.” Yang jelas, Wash and Burn tidak melayani cuci dan cetak film. Wash and Burn hanya fokus di penyewaan Dark Room. “Cuci film sih biar urusan orang lain. Kalau ada orang punya projek privat, dan mereka ingin handle sendiri, mereka bisa menyewa kamar gelap di sini. Sistem sewanya per shift, kayak studio rekaman aja,” ujar Sapta. 

 

Sementara itu, Yudha bersama dengan seorang kawannya memang ingin membuat sebuah bisnis yang community based. “Waktu itu kita berdua ngobrol-ngobrol, dan ingin bikin bisnis yang community based atau berangkat dari komunitas, tapi kita pingin tetap bisa seneng-seneng dengan apa yang memang kita suka,”papar Yudha. Ketika itu, analog memang sedang meriah-meriahnya. “Kita lihat lingkungan sekitar, lihat temen-temen lagi pada suka fotografi analog, wah kayaknya ini bisa jadi kesempatan bagus. Ya udah, akhirnya sekitar 2019 kita masuk di bisnis ini,” kata Yudha. 

 

Ketika itu, Yudha dan kawannya melihat, di awal 2019 lab foto belum terlalu banyak. Mereka pun masuk di ruang itu. “Kami juga memprediksi, bahwa ke depan, fotografi analog bisa semakin naik,”ungkap Yudha. Akhirnya setelah di awal tahun melakukan perencanaan dan riset pasar sederhana, akhir 2019, ASA Photo Lab pun mulai beroperasi. 

 

Untuk bisa bertahan di ruang bisnis analog ini para penggeraknya harus mau menghidupi komunitas. “Kita harus sadar bahwa dalam bisnis fotografi analog ini kita gak berdiri sendiri, kita harus sama-sama merayakan, sama-sama merangkul dan belajar bareng. Masing-masing harus tahu, ruang ini gak bisa hidup kalau ga ada kamu, atau ga ada aku,” papar Yudha. 

 

Dengan adanya komunitas, maka akan ada interaksi yang hidup. Membangun ruang interaksi ini salah satu caranya adalah dengan membuat workshop atau sharing yang menjadi ajang transfer ilmu, pembelajaran, sekaligus merangkul berbagai kalangan. Hal semacam inilah yang akan membuat bisnis analog ini menjadi long lasting. Wash and Burn adalah salah satu yang gemar mengadakan workshop-workshop, karena dari situ, ide-ide tentang teknologi analog bisa terus menyebar. Interaksi diantara orang-orang yang punya minat sama pun benar-benar terbangun. ASA Photolab pun kerapkali mengajak kawan-kawannya yang ada dalam komunitas mereka, melakukan kegiatan semacam hunting bareng ke beberapa objek wisata. Harapannya tentu saja, menggaet para pecinta fotografi lawas ataupun yang masih newbie untuk tertarik mengulik teknologi analog. 

 

Make your own community,” ucap Tessi. Tempat bisnis untuk foto analog ini harus bisa jadi ruang untuk orang datang dan berkumpul. Selain itu, ia harus menjadi ruang terbuka, dimana orang-orang yang datang bisa berdiskusi dengan merdeka atau bertanya-tanya tentang beragam hal kepada orang yang ada di tempat itu. “Misalnya, gue ke ASA Photolab karena gue pingin ketemu Yudha, pingin ngobrol karena dia fotografer,” ucap Tessi. Jadi, komunitas adalah hal yang sangat utama dalam ruang bisnis foto analog ini. Di komunitas itu, para anggotanya dapat saling bertukar pengetahuan dan belajar bersama-sama, sehingga ketika gagal saat bereksperimen analog, tidak langsung down. “Kalau mau berkarya di foto analog harus banyak senengnya dan banyak temennya, karena kalau main fim analog, gagalnya banyak. Alias trial and error terus, jadi biar gak berasa bego-bego amat, karena banyak yang nemenin,” ujar Tessi sambil tertawa. 

 

Masih Menjanjikan

 

Bisnis foto analog adalah ceruk bisnis yang layak diolah. “Prospek ke depannya bagus, karena kan analog sudah punya tempat di masyarakat,” ujar Yudha. Selain itu, saat ini ‘rantai makanan’ dari teknologi analog sudah terbentuk dengan cukup komprehensif. “Karena ini semua berbasis komunitas, kalau komunitasnya naik, dalam artian lab-lab foto mulai bermunculan, fotografer-fotografer mulai main analog lagi, baik yang amatir atau profesional, produsen film ada lagi, servis kameranya banyak yang bisa, aku rasa prospek ke depannya akan sangat-sangat bagus, karena lab ini kan gak bisa jalan kalau gak ada fotografernya, fotografernya gak bisa jalan kalau gak ada kameranya, kamera ini gak bisa jalan kalau gak ada filmnya, jadi selama komunitas dan rantai makanan ini masih berjalan bagus, maka prospeknya masih akan bagus,” tambah Yudha. 

 

Jika ingin memulai dan masuk ke dalam bisnis ini, Tessi menyarankan untuk memulai dari hal kecil dan sederhana dulu. “Dulu Wash and Burn mulainya juga dari entry level banget, analoginya, kalau beli kamera ya beli kamera pocket dulu lah,” tambah Sapta. Dan jangan memiliki ekspekstasi terlalu besar akan langsung menguntungkan, karena ruang bisnis ini adalah ruang segmented dan bermain-main di rasa nostalgic serta rasa penasaran di banyak orang. Oleh karena itu, Tessi menyarankan untuk tidak menempatkan bisnis fotografi analog ini menjadi sumber penghidupan utama. “Aku pikir jarang orang yang ngambil bisnis ini langsung jadi pekerjaan utama, pasti ada pekerjaan lain, jadi harus dipikirkan orang lain yang bisa bergantian untuk tek tok. Kayaknya sulit bisa ngurus bisnis ini sendirian, harus ada temen yang visinya sama,” ungkap Tessi. 

 

Untuk memulai bisnis foto analog ini, kocek yang harus dirogoh kisarannya memang cukup lumayan. Dengan catatan, ini jika ingin membuat sebuah laboratorium foto analog yang cukup proper alias layak. “Sewa tempat sih yang bikin mahal. Kalau untuk kisarannya, di kondisi sekarang, lab film propernya ya sekitar 300 jutaan. Tapi itu untuk running dua tahun,” ucap Sapta. Sementara itu, kalau untuk dark room, tentu harus menyiapkan ruangan. Nah ini yang harganya bervariasi. “Kalau untuk alat, kemungkinan, paling minim, untuk humble dark room dan bisa dipakai, ya dimulai dari 15 jutaan lah,” tambah Sapta. 

 

Tapi, catatan yang paling penting adalah, kalau ingin memulai bisnis ini tentu harus penasaran dulu dengan fotografi analog. Karena kalau sekedar mikir duit, pasti bisnis yang dijalani tidak akan tahan lama. Selain itu, riset pasar yang komprehensif, tahu siapa yang disasar dalam bisnis ini menjadi hal penting yang selanjutnya harus dikulik. Akhirnya, selain modal materi yang memadai, membekali diri dengan pengetahuan fotografi, khususnya teknologi foto analog yang pas dan cukup adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar. “Agak sulit rasanya, kalau berbisnis fotografi analog tapi gak suka dan gak tahu tentang fotografi. Apalagi kalau gak tertarik dengan yang analog,” pungkas Yudha. 

 

 

Lucia Dianawuri

(tulisan ini saya tulis untuk Bicara Foto)



[1] Menurut KBBI klangenan adalah: n  Jw  sesuatu yang menjadi kesenangan (kegemaran, kesukaan).

 

Comments